Jelang Nyepi dan Idul Fitri 1447 H, Gubernur Bali Tekankan Toleransi dan Kondusivitas

Gubernur Bali Wayan Koster menekankan pentingnya menjaga kondusivitas, keamanan, dan kenyamanan di Pulau Dewata menjelang perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Hal tersebut disampaikan Koster dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Majelis Agama se-Bali yang digelar di Ruang Tamu Gubernur Bali, Rabu (11/3/2026). Mengingat kedua hari besar tersebut jatuh dalam waktu yang berdekatan, toleransi antarumat beragama menjadi kunci utama.
"Idul Fitri harus berjalan dengan khidmat, nyaman, aman, dan kondusif. Semua majelis umat sudah bersepakat mengenai hal ini," ujar Koster dalam keterangannya.
Koster juga mendorong setiap majelis agama, mulai dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, hingga Nahdlatul Ulama (NU), untuk memberikan edukasi ke internal umat masing-masing agar perayaan berjalan harmonis.'
Tidak Ada Revisi Seruan Bersama
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali, Ida Pengelingsir Agung Putra Sukahet, memastikan tidak ada revisi dalam seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi dan Idul Fitri.
Meskipun penetapan Idul Fitri oleh pemerintah masih menanti Sidang Isbat, FKUB meminta masyarakat tetap berpedoman pada semangat saling menghormati.
"Tidak ada revisi. Untuk Idul Fitri memang belum pasti (tanggalnya), Muhammadiyah sudah menetapkan 20 Maret 2026, sementara NU dan pemerintah masih menunggu Sidang Isbat," kata Sukahet.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Nyoman Kenak, menyatakan pihaknya tetap merujuk pada Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri. Dalam SKB tersebut, Nyepi jatuh pada 19 Maret, sementara Idul Fitri pada 21-22 Maret 2026.
"Jika hasil Sidang Isbat berbeda, masing-masing majelis bisa membuat seruan kepada umatnya. PHDI sendiri sudah mengeluarkan Surat Edaran sejak 19 Januari 2026 untuk memastikan Bali tetap damai," tambah Kenak.
Panduan Ibadah bagi Umat Islam di Bali
Ketua Umum MUI Provinsi Bali, KH Mahrusun Hadyono, mengimbau umat Islam di Bali untuk tetap menghormati pelaksanaan Nyepi. Ibadah seperti salat Tarawih atau takbiran tetap dapat dilakukan di masjid atau musala terdekat dengan sejumlah batasan.
"Ke masjid atau musala terdekat dengan jalan kaki, tidak menggunakan bunyi-bunyian termasuk pengeras suara, dan penggunaan lampu di tempat ibadah harus terbatas. Selesai ibadah langsung pulang agar suasana kembali sepi," jelas Mahrusun.
Ia juga menyarankan bagi umat yang tinggal jauh dari masjid (lebih dari 5 kilometer) agar melaksanakan ibadah di rumah masing-masing guna mendukung kekhusyukan hari raya Nyepi.
Operasi Ketupat Agung 2026 dan Kesiapan RSUD
Dari sisi pengamanan, Polresta Denpasar menyiagakan Operasi Ketupat Agung 2026 yang berlangsung selama 13 hari, mulai 13 hingga 25 Maret 2026.
Kapolresta Denpasar Kombes Pol Leonardo David Simatupang menginstruksikan jajarannya untuk menyiapkan Pos Pengamanan (Pos Pam) dan Pos Pelayanan (Pos Yan) secara maksimal.
"Pastikan pos bersih, rapi, dan dilengkapi panel data peta kerawanan. Petugas tidak boleh bekerja secara buta, harus berdasarkan data nyata demi menjamin keamanan warga yang merayakan Lebaran sekaligus umat Hindu yang menjalani Nyepi," tegas Kombes Leonardo.
Sementara itu, di sektor kesehatan, RSUD Wangaya Denpasar menyiagakan 145 petugas medis untuk mengantisipasi kegawatdaruratan selama Nyepi.
"Kami menyiagakan 6 dokter umum, 7 perawat, dan 3 bidan di IGD yang beroperasi 24 jam. Oksigen dan obat-obatan juga sudah dipastikan mencukupi," tutur Kabid Pelayanan Medik RSUD Wangaya, dr. I Wayan Edy Wirawan.
Sebagian Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul IMBAU Nyepi & Idulfitri Berjalan Khidmat, Gubernur Bali Serukan Jaga Kerukunan Antarumat Beragama
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang