Perjalanan Khoirul Anam Satpam Asal Tanggamus, Raih Rekor MURI Melalui Karya Ilmiah

Khoirul Anam (28), anggota satuan pengamanan (satpam) asal Tanggamus, Lampung, berhasil meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak pada Jumat (30/1/2026).
Diketahui, Anam saat ini menjadi satpam di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Ia berhasil mendapatkan rekor MURI setelah menerbitkan 13 karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional.
“Awal mula saat saya menekuni menulis itu berawal dari menulis buku mutasi satpam. Dari situ ada keinginan untuk mengembangkan karya tulis di saat waktu-waktu luang,” kata Anam kepada , Selasa (3/2/2026).
Begini kisah hidup Anam, seperti yang diceritakannya kepada Kompas.com.
Merantau dengan modal Rp 1 juta
Menurut penuturannya, ia memutuskan merantau dari Lampung ke Jakarta pada 2018 hanya dengan membawa uang Rp 1 juta.
“Saya nekat merantau dari Lampung sampai ke Jakarta hanya modal biaya satu juta rupiah untuk bertahan hidup di Jakarta,” kata Anam.
Profesi satpam pun dipilihnya sebagai mata pencaharian.
Anam sempat ditempatkan di sejumlah lokasi, termasuk beberapa pusat perbelanjaan, sampai akhirnya ditugaskan di BRI Kantor Cabang Tanjung Priok pada 2022 hingga saat ini.
Di tahun yang sama, Anam sempat sakit kritis hingga koma. Keluarga pesimis Anam bisa bertahan.
Namun, ia bisa sembuh dan pulih, dan percaya bahwa sakit yang dideritanya adalah titik balik hidupnya.
“Dari sakit itu sebenarnya sih ada motivasi. Saya harus hidup di umur kedua ini harus menjadi yang lebih baik,” kata Anam.
Memutuskan melanjutkan kuliah
Setelah bisa aktif kembali, Anam mulai menekuni dunia pendidikan dan penulisan. Awalnya ia menulis hanya untuk mengisi waktu luang saja, di sela pekerjaannya sebagai satpam.
Anam sendiri mengaku tertarik menulis dan melanjutkan pendidikan setelah berdiskusi dengan rekan kerja yang membuatnya berpikir tentang masa depan.
"Jadi dari situ saya berpikir ya, jadi saya nantinya di umur 28 tahun, saya sudah setidaknya memiliki satu gelar gitu. Dan alhamdulillah-nya, tidak disangka-sangka sudah memiliki tiga gelar sampai saat ini di umur 28 tahun sekarang," ucap dia.
Anam menempuh pendidikan S1 Manajemen di Universitas Pamulang melalui kelas karyawan pada 2019 dan lulus pada 2023.
Di samping itu, Anam juga mengambil S1 kedua di STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam.
Selepas S1 selesai, Anam langsung melanjutkan pendidikan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma.
Aktif menulis
Selain aktif menulis jurnal, Anam juga telah menghasilkan delapan buku yang telah memiliki ISBN dan terdaftar di Perpustakaan Nasional.
Ia juga tengah menyelesaikan tiga buku lainnya melalui program kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan lewat Dana Indonesiana.
“Untuk karya buku, yang sudah publikasi sekitar delapan buku dan tiga buku lagi sedang saya garap sekarang,” ucap dia.
Aktivitas menjadi satpam dan menulis jurnal, semua dijalani Anam dengan semangat, meski ia mengakui ada tantangan terbesar yang selalu mengadangnya, yaitu masalah finansial.
"Kalau saya sih jujur dari segi pendanaan untuk publikasinya sih. Karena untuk publikasi jurnal maupun buku itu memerlukan biaya," ujar dia.
Maka dari itu, setiap hendak menerbitkan karya ilmiah, Anam harus pintar-pintar menyesuaikan pilihan media publikasi dengan kemampuan finansialnya.
Dari satpam ke dosen
Anam mengaku masih menyimpan banyak mimpi, salah satunya adalah mempublikasikan karyanya di jurnal bereputasi tinggi seperti Scopus dan Sinta.
"Sangat pengin sih. Penginnya itu karya tulis saya itu terakreditasi mungkin Sinta 2, Sinta 3 begitu, atau Scopus 3, Scopus 4 gitu ya. Tetapi untuk karena biaya tadi ya untuk dari saya belum bisa gitu,” kata dia.
Selain kendala biaya, Anam juga harus membagi waktu antara pekerjaan dan kegiatan akademik.
Tak dipungkiri, ia sering mengorbankan waktu istirahat demi menyelesaikan penelitian dan penulisan karya ilmiah.
"Kadang kita tidur jam dua karena harus menyelesaikan data-data yang perlu kita selesaikan di malam itu. Karena kalau kita tunda mungkin besoknya akan kacau," tutur Anam.
Hingga kini Anam masih bekerja sebagai satpam, namun ke depannya, ia sangat berharap bisa menjadi pengajar atau dosen.
"Jadi saya seperti cita-cita saya kan menjadi pengajar, guru atau dosen begitu. Tapi mungkin karena belum rezeki, dan agak susah juga untuk masuk ke dunia tersebut,” ujar dia.
"Saat ini ya saya bertahan di security begitu atau satpam, sambil saya berusaha untuk mencapai di titik tersebut," sambungnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang