Tren Art Market Ramadhan, Jadi Tempat Pulang Anak Muda

Ilustrasi belanja barang branded
Ilustrasi belanja barang branded

 Ramadhan tidak hanya identik dengan ibadah puasa, sahur, dan berbuka. Bagi banyak orang, bulan suci ini juga menghadirkan momen refleksi yang lebih dalam tentang kehidupan, nilai, dan identitas diri. 

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena baru di ruang gaya hidup urban: art market Ramadhan. Konsep ini menghadirkan ruang pertemuan antara seni, gaya hidup, dan komunitas yang menawarkan pengalaman berbeda dari bazar Ramadan pada umumnya. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Apa Itu Art Market?

Art market merupakan format pameran kreatif yang menggabungkan unsur pasar dengan kurasi seni. Tidak hanya menghadirkan produk untuk dijual, art market juga menampilkan karya seni rupa, instalasi, hingga berbagai bentuk ekspresi kreatif lain dalam satu ruang yang dirancang secara tematik. 

Pengunjung tidak sekadar datang untuk berbelanja, tetapi juga menikmati pengalaman visual, berdiskusi, dan merasakan atmosfer komunitas kreatif.

Konsep ini menjadi semakin menarik ketika dipadukan dengan momentum Ramadhan. Dalam konteks ini, art market menghadirkan ruang yang tidak hanya komersial, tetapi juga reflektif. Pengunjung dapat menikmati karya seni yang membawa narasi spiritual, sekaligus menemukan produk gaya hidup yang memiliki nilai estetika dan makna. 

Art market pun menjadi tempat bertemunya industri kreatif dengan komunitas yang ingin merayakan Ramadan secara lebih kontemplatif.

Mengapa Tren Ini Disukai Anak Muda?

Popularitas art market Ramadhan tidak lepas dari perubahan cara generasi muda memaknai pengalaman berbelanja dan berkegiatan sosial. Milenial dan Gen Z kini cenderung mencari pengalaman yang lebih autentik, kreatif, dan memiliki nilai emosional. 

Mereka tidak hanya ingin membeli produk, tetapi juga ingin terlibat dalam ruang yang memberikan inspirasi dan koneksi dengan komunitas.

Triangga, Co-Founder Grebe selaku penyelenggara, menjelaskan visi di balik konsep ini.

"Kami melihat Ramadan sebagai waktu yang tepat untuk mempertemukan creative industry dengan community movement. Kami juga ingin Alif Raya Market menjadi tempat di mana karya, gaya hidup, dan spirit Islami bisa bertemu secara natural. Alif Raya Market melihat Ramadan sebagai ruang refleksi sekaligus ruang ekspresi, jadi yang dibangun bukan sekadar event musiman, tapi pengalaman yang terasa dekat dengan apa yang sedang dirasakan masyarakat di bulan Ramadan," ujarnya.

Konsep tersebut menjadikan art market tidak sekadar tempat transaksi, melainkan ruang sosial yang memungkinkan generasi muda merayakan identitas mereka. Mereka bisa menemukan perpaduan antara estetika modern dan nilai spiritual yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Apa Saja yang Ada di Art Market Ramadhan?

Salah satu contoh art market Ramadhan menghadirkan lebih dari 45 tenant dari berbagai kategori gaya hidup. Mulai dari fashion, parfum, hingga kopi, semuanya hadir berdampingan dengan karya seni dari berbagai generasi seniman Indonesia. Pengunjung dapat menikmati karya-karya dari tokoh seperti A.D. Pirous dan Mochtar Apin, sekaligus melihat karya seniman kontemporer seperti Diela Maharanie dan Emira Bunga pada 5–8 Maret 2026 di Pasaraya Blok M, Jakarta

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Yang membedakan art market ini dari bazar Ramadan biasa adalah adanya kurasi seni yang kuat. Karya yang dipamerkan tidak sekadar dekorasi, melainkan memiliki pesan dan narasi yang berkaitan dengan nilai Ramadan.

"Di Alif Raya Market, karya yang dihadirkan berangkat dari nilai-nilai esensial Ramadan: refleksi diri, kesederhanaan, kebersamaan, serta spiritualitas yang intim dan personal. Medium yang ditampilkan beragam, namun semuanya memiliki benang merah pada narasi tentang makna pulang, syukur, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta serta sesama," kata Sandy Widjaja, CEO of TheMomentum.id.