Anak Jadi Tulang Punggung dan Terjebak di Kamboja, Tangis Maryam Pecah: Tak Punya Biaya Pulang

Kamboja, KBRI Kamboja, Pekerja Migran Indonesia, Anak Jadi Tulang Punggung dan Terjebak di Kamboja, Tangis Maryam Pecah: Tak Punya Biaya Pulang, Kehabisan Biaya dan Visa Mati, Respons BP3MI Sumsel: 15 Warga dalam Kondisi Aman, Waspada Modus Penipuan Kerja Luar Negeri, Gubernur Sumsel: Keselamatan Warga yang Utama

Suasana haru menyelimuti kediaman Maryam di Jalan KH Wahid Hasyim, Palembang. Sambil menggenggam ponselnya, Maryam tak kuasa menahan air mata saat menceritakan nasib putranya, Andri Al Alfajri (28), yang kini terlantar di Kamboja.

Andri merupakan satu dari 15 pemuda asal Sumatera Selatan (Sumsel) yang videonya viral di media sosial saat meminta bantuan kepada pemerintah untuk dipulangkan ke Tanah Air.

Kehabisan Biaya dan Visa Mati

Meski masih rutin berkomunikasi melalui WhatsApp, Maryam mengaku sangat cemas karena kondisi keuangan anaknya sudah menipis. Andri mengaku tidak lagi memiliki uang bahkan untuk sekadar menyewa tempat tinggal.

"Katanya uangnya sudah tidak ada lagi. Mau tidur di hotel juga tidak ada uang. Kami di sini juga tidak punya biaya untuk bantu kirim," ujar Maryam saat ditemui, Kamis (19/2/2026).

Andri berangkat ke Kamboja pada Oktober 2024 atas inisiatif sendiri untuk bekerja di sebuah restoran. Keberangkatannya hanya berselang satu bulan sebelum sang ayah meninggal dunia.

Sejak saat itu, Andri menjadi tulang punggung keluarga, termasuk membiayai kuliah adik bungsunya.

Rencana kepulangan Andri sebenarnya sudah dipersiapkan sejak lama untuk memperingati satu tahun meninggalnya sang ayah. Namun, kendala administratif menghambat niat tersebut.

"Dia bahkan sudah beli tiket pulang seharga Rp 4 juta, tapi ternyata visanya sudah mati," jelas Maryam.

Keluarga menyebut proses pengurusan dokumen di KBRI Kamboja sudah dilakukan sejak Desember 2025, namun hingga kini belum ada kepastian tanggal kepulangan.

Respons BP3MI Sumsel: 15 Warga dalam Kondisi Aman

Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sumatera Selatan, Waydinsyah, mengonfirmasi bahwa saat ini ada 15 warga Sumsel yang sedang dalam proses pemulangan dari Kamboja.

Waydinsyah memastikan bahwa belasan pemuda tersebut kini berada di penampungan milik Indonesia dalam kondisi sehat.

"15 warga Sumsel yang viral di media sosial saat ini dalam kondisi aman dan bisa berkomunikasi dengan keluarga maupun pemerintah," kata Waydinsyah di Kantor BP3MI Sumsel, Kamis (19/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa kendala utama pemulangan adalah masalah dokumen. Banyak dari mereka tidak memegang paspor karena disita oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

Sebagai solusinya, pemerintah tengah mengurus Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) dan exit permit.

"Biasanya proses bisa 24 hari sampai satu bulan, tergantung kelengkapan dokumen. Pemerintah daerah juga berkomitmen untuk membantu biaya pemulangannya," tambahnya.

Waspada Modus Penipuan Kerja Luar Negeri

Waydinsyah mengungkapkan bahwa kasus ini merupakan bagian dari fenomena besar pekerja migran nonprosedural di negara-negara seperti Kamboja, Laos, dan Myanmar.

Modusnya sering kali melibatkan orang terdekat atau iklan di media sosial dengan tawaran gaji tinggi sebagai operator atau pegawai restoran.

"Kalau pekerjaan migran itu resmi, pasti tercatat secara elektronik. Kami punya datanya. Kalau tidak tercatat, artinya ilegal," tegas Waydinsyah.

Gubernur Sumsel: Keselamatan Warga yang Utama

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, menyatakan telah berkoordinasi dengan Aparat Penegak Hukum (APH) dan Polda Sumsel untuk menangani kasus ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan memperdebatkan status legalitas keberangkatan mereka di tengah situasi darurat ini.

"Jadi kita tidak melihat dia legal atau ilegal. Yang penting ini warga Sumsel, warga negara Indonesia yang harus kita selamatkan," tegas Herman Deru, Rabu (18/2/2026).

Deru juga menghimbau masyarakat agar tidak mudah tergiur tawaran kerja di luar negeri tanpa mengecek legalitas perusahaan perekrut guna menghindari praktik eksploitasi.

Kini, Maryam hanya bisa berharap bantuan dari Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Sumsel, hingga Wali Kota Palembang agar putranya bisa segera menginjakkan kaki di bumi Sriwijaya.

"Ke depan tidak boleh lagi ke luar negeri. Biar kerja di sini saja yang penting dekat dengan keluarga," pungkas Maryam.

Artikel ini telah tayang di TribunSumsel.com dengan judul Tangis Maryam, Ibu di Palembang Anaknya Terlantar di Kamboja, Minta Bantu Pemerintah

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang