Kisah Penyelamatan Induk dan Bayi Kembar Orangutan yang Hidup di Hutan Rusak Kalimantan

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur (Kaltim) bersama Conservation Action Network (CAN) berhasil menyelamatkan orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeu) dan bayi kembarnya dalam kondisi sehat.
"Proses evakuasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian, mengutamakan keselamatan satwa, serta memastikan induk dan kedua anaknya tetap bersama. Ketiganya kemudian dipindahkan ke lokasi tak jauh dari tempat awal ditemukan," ujar Kepala BKSDA Kaltim M Ari Wibawanto di Samarinda, Kamis.
Dilansir dari Antara, lokasi penemuan awal sekaligus titik penyelamatan berada di Peredau, Bengalon, sebuah kawasan terpisah namun masih dalam lanskap perusahaan perkebunan yang tetap mempertahankan biodivisitas hutan, yakni area High Conservation Values (HCV) atau Area dengan Nilai Konservasi Tinggi (ANKT).
Sebelumnya dilaporkan, ada satu induk orangutan ditemukan berjuang menjaga kedua anaknya.
Keberadaan mereka yang sempat turun ke tanah menjadi tanda bahwa habitat ini tidak lagi sepenuhnya aman karena ruang hidup mereka yang terbatas.
Kronologi penyelamatan orangutan
Pada 15 Februari 2026, BKSDA bersama CAN dan pihak terkait kemudian menyelamatkan dan mengevakuasi orangutan tersebut, dan segera melakukan pengecekan kesehatan.
Menurut Ari, ketiga orangutan itu dalam kondisi sehat.
"Proses penyelamatan dilakukan mulai pagi, pengamatan memang sudah dilakukan dari sehari sebelumnya, yakni ketika individu orangutan diketahui membuat sarang, sehingga teman-teman sudah tahu pohon yang dijadikan sarangnya mereka," katanya.
Dalam pemeriksaan kesehatan dan lainnya, ia mengaku tidak bisa melakukan secara detail untuk menjaga keselamatan individu orangutan, terutama dua bayinya, sehingga cukup memastikan kondisinya sehat, yang memungkinkan mereka hidup di hutan alami.
Selanjutnya tim melakukan pelepasliaran pada lokasi hutan terdekat, yakni di HCV perusahaan perkebunan, jaraknya sekitar setengah jam perjalanan darat dari penemuan awal.
Berdasarkan kajian, HCV milik perusahaan ini masih layak untuk dilakukan pelepasliaran, yakni layak dari sisi fisik, biologi, maupun sosial, termasuk dari kerapatan hutan dan lainnya.
Menurut Ari, induk dan kedua anak kembarnya itu tampak sudah lelah hidup di habitat terfragmentasi dengan berbagai keterbatasan baik pakan, air, dan sebagainya, sehingga keselamatan mereka menjadi prioritas tim penyelamat.
"Kami tidak bisa melepaskan di lokasi hutan yang lebih luas lagi atau hutan yang lebih jauh, khawatir dengan keselamatan mereka, jadi kami pilih yang paling dekat, sehingga tim juga bisa melakukan pemantauan di situ. Pemantauan juga akan melibatkan perusahaan pemilik areal HCV itu," kata Ari Wibawanto.
Berawal dari video viral
Keberadaan induk orangutan dan kedua anaknya yang hidup terbatas di hutan rusak ini awalnya diketahui oleh warga, yang kemudian mengunggah sebuah video di media sosial.
Video yang menjadi viral itu memperlihatkan sang induk bersama kedua anaknya berjalan di atas tanah, di area terbuka tanpa pepohonan lebat layaknya hutan alami.
Menindaklanjuti hal tersebut, BKSDA dan CAN pun segera bergerak cepat melakukan aksi penyelamatan.
Proses evakuasi yang dilakukan pada 15 Februari 2026 lalu menyisakan cerita haru.
Direktur dan Founder CAN, Paulinus Kristanto mengungkap, bahwa induk orangutan tersebut seolah–olah menyerahkan diri demi keselamatan buah hatinya.
"Jadi, bagi kita ini menunjukkan salah satu indikasi orangutan ini membutuhkan pertolongan. Biasanya orangutan kalau di pohon yang tinggi itu jarang banget mau turun. Nah ini, ibu dan anak ini seperti menyerahkan diri. Turun ke tempat yang nggak ada pohon. Sampai ke tanah loh, bayangin coba. Pasrah kan berarti," ujar Paulinus.
Orangutan yang sampai turun ke tanah, mengindikasikan bahwa mereka tengah berusaha menyeberang ke hutan lainnya untuk mencari sumber makanan akibat hutan yang terfragmentasi.
Fragmentasi hutan sendiri adalah proses terpecahnya ekosistem hutan yang luas dan terhubung menjadi bagian-bagian kecil (fragmen) yang terisolasi akibat aktivitas manusia seperti pembangunan jalan, pertanian, dan pemukiman.
Induk orangutan layaknya gelandangan
Paulinus menggambarkan bahwa kondisi sang induk saat ditemukan seperti seorang ibu yang menjadi gelandangan dengan anak kembar.
Beban sang induk pun ganda, karena harus memproduksi susu untuk dua bayi sekaligus di tengah kelangkaan sumber pangan, di mana kawasan hutan di Perdau terhimpit oleh pertambangan dan perkebunan sawit.
"Yang biasanya dia harus makan satu kilo satu hari, sekarang jadi dua kilo, double, untuk menyesuaikan kebutuhan susu anaknya. Sementara kondisi habitatnya di kawasan temuan tidak memungkinkan," sambungnya.
Sementara itu, temuan bayi kembar pada orangutan liar merupakan peristiwa yang sangat jarang terjadi.
Awalnya, tim sempat ragu apakah kedua bayi tersebut berasal dari induk yang sama.
Namun, setelah melihat ukuran tubuh yang identik, tim menyimpulkan bahwa keduanya adalah kembar dengan usia diperkirakan sekitar satu tahun lebih.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang