Mengapa Sukses Tanpa Narasi Hidup Susah Kerap Diremehkan?

Mengapa Sukses Tanpa Narasi Hidup Susah Kerap Diremehkan?

Kisah sukses yang berangkat dari kemiskinan dan kesulitan kerap mendapatkan tempat istimewa.

Cerita tentang perjuangan panjang, keterbatasan ekonomi, hingga bangkit dari kondisi sulit sering kali lebih diapresiasi dan dianggap inspiratif.

Sebaliknya, kesuksesan yang diraih oleh individu dengan latar belakang keluarga mampu kerap dipandang kurang menarik, bahkan diremehkan.

Alhasil, ada orang-orang yng sebenarnya berprivilese justru mengarang kisah hidupnya, alias pura-pura datang dari keluarga miskin, agar terlihat seperti "berangkat dari nol". Mengapa narasi perjuangan dari bawah lebih diagungkan?

“Manusia biasanya cenderung lebih tersentuh dan lebih mengapresiasi cerita tentang perjuangan sulit seseorang dalam mencapai kesuksesan,” ungkap pendiri Cup of Stories, Fitri Jayanthi, M.Psi., Psikolog, saat diwawancarai pada Selasa (24/2/2026).

Lebih “relate” dengan kisah perjuangan

Psikolog klinis ini menuturkan, cerita tentang kesulitan dan keterbatasan terasa lebih dekat dengan pengalaman mayoritas masyarakat. Oleh karena itu, kisah tersebut lebih mudah membangkitkan empati dan kekaguman.

Sementara itu, kesuksesan yang diraih dengan dukungan privilese sering kali dinilai kurang mewakili realitas banyak orang, sehingga kurang menarik perhatian.

Narasi perjuangan dari kemiskinan menghadirkan konflik dan titik balik yang dramatis. Perjalanan tersebut dianggap menunjukkan daya juang luar biasa, sehingga publik lebih mudah mengapresiasinya.

Meski demikian, Fitri menegaskan bahwa keberhasilan yang diraih dengan latar belakang privilege bukan berarti tanpa usaha.

“Padahal, kesuksesan yang dicapai dengan adanya privilese tertentu, bukan berarti orang tersebut tidak melakukan apa-apa,” tutur dia.

“Mereka perlu mengimbanginya juga dengan usaha, kedisiplinan dan tanggung jawab untuk mencapai kesuksesan,” lanjut Fitri.

Daya tarik cerita heroik

Sementara itu, Shierlen Octavia, M.Psi., Psikolog, melihat ada faktor psikologis lain yang membuat kisah perjuangan dari bawah lebih diagungkan, yakni ketertarikan manusia pada cerita heroik.

“Karena kita suka dengan cerita-cerita heroik. Itulah sebabnya dari dulu (komik) Marvel dan DC laku, karena kita suka lihat ada konflik besar, ada yang menderita, tapi terus berhasil bangkit dari situasi itu,” papar psikolog klinis di NALA Mindspace itu, saat dihubungi pada Selasa.

Menurut Shierlen, pola cerita dengan konflik besar dan kebangkitan setelah penderitaan, memberikan kepuasan emosional tersendiri.

Banyak orang merasa tervalidasi ketika melihat sosok dengan latar belakang sederhana mampu mencapai kesuksesan.

Namun, ia mengingatkan adanya risiko ketika masyarakat terlalu menitikberatkan meritokrasi dalam satu sudut pandang saja.

“Bahayanya adalah ketika terlalu menitikberatkan meritokrasi itu dan jadinya standar moralnya hanya terpaku pada satu jenis nilai, yaitu sukses sama dengan harus hidup penuh perjuangan,” ucap Shierlen.

Ketika kesuksesan selalu diidentikkan dengan penderitaan, makna kerja keras menjadi tereduksi, seolah-olah harus identik dengan kesulitan ekstrem.

“Jadi mereduksi makna kerja keras sebagai penderitaan, padahal mungkin orang dengan privilese juga butuh kerja keras, tapi dengan cara yang berbeda,” tutur dia.

Perbedaan titik awal tidak serta-merta meniadakan usaha. Namun, karena cerita tanpa konflik besar terasa kurang dramatis, publik cenderung lebih sulit merasakan keterlibatan emosional.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana masyarakat membentuk standar moral tertentu dalam menilai keberhasilan. Kisah sukses dari kemiskinan dipandang lebih heroik dan autentik, sedangkan kesuksesan dari latar belakang mapan dianggap kurang memiliki nilai cerita.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang