Kenapa Imlek Identik dengan Hujan? Berikut Penjelasan BMKG dan Maknanya

kenapa Imlek identik dengan hujan, Imlek 2026, Kenapa Imlek Identik dengan Hujan? Berikut Penjelasan BMKG dan Maknanya

Hujan kerap mengguyur wilayah Indonesia saat Tahun Baru Imlek tiba. 

Kondisi ini kemudian memunculkan berbagai anggapan di tengah masyarakat.

Bagi sebagian orang, hujan saat Imlek dianggap sebagai simbol keberkahan dan pertanda datangnya rezeki. 

Pandangan tersebut berkembang seiring tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Namun, di balik kepercayaan tersebut, terdapat penjelasan ilmiah yang menjawab mengapa Imlek kerap identik dengan musim hujan.

Lalu, kenapa Imlek identik dengan hujan?

Kenapa Imlek Identik dengan Hujan?

Plt. Deputi Bidang Meteorologi Andri Ramdhani menjelaskan, secara umum anggapan bahwa Imlek identik dengan hujan lebih disebabkan oleh faktor waktu, bukan karena perayaannya itu sendiri. 

Tanggal Imlek mengikuti kalender lunar dan biasanya jatuh pada rentang akhir Januari hingga Februari. 

"Di Indonesia, periode tersebut memang sering bertepatan dengan musim hujan, bahkan di beberapa wilayah merupakan puncak musim hujan," ujar Andri dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Selasa (10/2/2026).

Ia menyebutkan, pada rentang waktu ini, kondisi atmosfer di Indonesia umumnya sedang aktif. 

Di antaranya adalah Monsun Asia yang masih dominan, keberadaan daerah pertemuan angin atau Intertropical Convergence Zone (ITCZ), dan aktivitas gelombang ekuator seperti Kelvin, Rossby, dan pada periode tertentu Madden–Julian Oscillation (MJO). 

Kombinasi faktor-faktor tersebut mendukung pembentukan awan hujan dan meningkatkan peluang terjadinya hujan, termasuk dengan intensitas sedang hingga lebat.

"Dengan demikian, hujan yang kerap terjadi saat perayaan Imlek bukan disebabkan oleh perayaannya, melainkan karena waktu pelaksanaannya sering bertepatan dengan kondisi atmosfer yang memang mendukung terjadinya hujan di wilayah Indonesia," jelas Andri.

Prakiraan Cuaca Imlek 2026

Andri menambahkan, dalam periode menjelang dan saat Imlek 2026, cuaca di Indonesia masih dipengaruhi dinamika atmosfer dari skala global hingga lokal. 

Monsun Asia diperkirakan masih cukup kuat, setidaknya hingga dasarian kedua Februari, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan curah hujan di berbagai wilayah.

Selain itu, dalam beberapa hari ke depan juga terpantau adanya pergerakan massa udara dingin atau cold surge yang berkaitan dengan penguatan Monsun Asia. 

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan intensitas hujan, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan.

Pada Selasa (17/2/2026) yang bertepatan dengan Imlek, BMKG memprakirakan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dapat terjadi di Aceh, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, serta Sulawesi Utara. 

Masyarakat di wilayah-wilayah tersebut diimbau tetap waspada terhadap potensi dampak cuaca hujan, terutama di daerah rawan bencana hidrometeorologi.

"Untuk informasi detail hingga skala kelurahan secara real-time dapat mengakses aplikasi infoBMKG, dan kanal resmi informasi BMKG lainnya, atau call center 196," pungkas Andri.

Makna Hujan Saat Imlek

Menanggapi anggapan bahwa Imlek kerap disertai hujan, Wakil Ketua Pengurus Klenteng Hian Thian Siang Tee Bio Palmerah, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sugiarto (67), menilai hal tersebut berkaitan dengan pola musim di Indonesia.

Menurutnya, Indonesia beriklim tropis dengan periode hujan yang umumnya berlangsung dari September hingga Maret, sementara April sampai Agustus merupakan musim kemarau.

“Saya pikir identik sama iklim kita di sini. Musim hujan September-Maret, nah, sekarang ini puncak-puncaknya musim hujan. Kalau soal rezeki, itu yang diharapkan. Semakin banyak hujan, semakin banyak rezeki katanya,” ujarnya dikutip dari Kompas.id, Sabtu (25/1/2025).

Sugiarto menjelaskan, di China perayaan Imlek dimaknai sebagai momentum pergantian musim, yakni dari musim dingin menuju musim semi. 

Pada masa itu, tanaman mulai bertumbuh dan masyarakat memanjatkan doa agar hasil tanam menjadi subur, selain bersembahyang kepada leluhur.

Ia pun mengajak masyarakat melihat fenomena hujan saat Imlek secara rasional. 

Menurutnya, curah hujan yang tinggi memang bertepatan dengan puncak musim hujan.

“Itu sudah puncaknya (musim hujan). Kebetulan jatuhnya di situ. Kalau kita rasional saja. Kadang-kadang kita juga lihat Imlek tidak hujan. Ya, kebetulan saja. Yang jelas harapan akan lebih baik di tahun yang baru,” ucapnya.

Sementara itu, budayawan Tionghoa asal Cirebon, Jeremy Huang Wijaya, memandang hujan saat Imlek bukan sekadar mitos tentang rezeki, melainkan memiliki keterkaitan dengan siklus alam.

Ia menyebut, Imlek identik dengan awal musim semi yang juga menjadi masa tanam. 

Air hujan dibutuhkan untuk menyuburkan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman.

“Imlek adalah masa awal musim tanam. Ketika bibit ditanam membutuhkan hujan untuk menyuburkan tanah. Jika suatu kota ada hujan, maka kota itu dapat banyak rezeki karena (hujan) menyuburkan tanah pertanian,” katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang