Kisah Obi, Pemuda Makassar yang Menempa Diri di Tengah Budaya Kerja Abu Dhabi
Obi (24) adalah mahasiswa semester akhir asal Indonesia yang bekerja di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).
Pemuda asal Makassar, Sulawesi Selatan, ini bekerja sebagai waiters atau pramusaji magang di Hotel St. Regis Saadiyat Resort, Saadiyat Island, Abu Dhabi.
Dengan mengurus segala persiapan secara mandiri, Obi nekat datang ke UEA bersama 3 rekannya yang juga magang di lokasi berbeda berbekal keberanian dan status magang dari kampus selama 6 bulan.
Meski berhasil mendapatkan pekerjaannya di Abu Dhabi, Obi menjalankan segalanya bukan tanpa tantangan.
Perbedaan dan kesenjangan budaya kerja dengan Indonesia, menjadi salah satu pengalaman tersendiri bagi pemuda Makassar tersebut.
Perbedaan budaya kerja Abu Dhabi jadi pembelajaran
Ketika sampai di Abu Dhabi, Obi melihat adanya perbedaan dalam budaya kerja di Indonesia dan UAE, seperti syarat pelamar dan tekanan dalam pekerjaan.
Obi mengatakan, banyak anak muda Indonesia minder ketika mencari kerja di Indonesia dengan syarat yang rumit, salah satunya “berpenampilan menarik”.
Di UEA khususnya Abu Dhabi, Obi diterima dengan baik tanpa sedikitpun dinilai dari tampilan fisik, atau tinggi badan.
Meski demikian, untuk tekanan kerja, Obi menyebut lebih merasakannya di UEA dibandingkan dengan Indonesia.
"Di sini pressure-nya jauh lebih kerasa dibanding di Indo," kata Obi di Hotel St. Regis Saadiyat, Abu Dhabi, Jumat (6/2/2026).
Di tempatnya bekerja saat ini mengutamakan kemampuan dan pengetahuan. Setiap pekerja harus terus memiliki progres setiap hari.
"Di sini mengutamakan skill dan knowledge. Setiap hari kita dituntut belajar hal baru. Progresnya nggak boleh lambat. Kita harus terus bergerak, mulai dari target up-selling sampai urusan meyakinkan orang," jelas dia.
Di samping tekanan yang menempa Obi menjadi pekerja yang lebih baik, ia tak menampik adanya dinamika sosial antar-negara yang terkadang memunculkan rasa senioritas kelompok tertentu.
Dengan bekal pengalaman kerja di Abi Dhabi, setelah lulus kuliah, Obi membidik untuk dapat bekerja di Eropa.
Bukan semata soal nilai mata uang yang lebih kuat, Obi mengejar infrastruktur dan suasana hidup yang berbeda.
"Kayaknya nggak lanjut di sini. Mau cari negara lain. Mau coba kehidupan di luar lagi. Aku sih mau tinggal di Eropa. Lebih tepatnya mungkin Kroasia atau Budapest,” ujar Obi mengenai tujuannya di masa mendatang.
“Pertama karena mata uang, kedua karena suasananya, mulai dari infrastruktur, vibes-nya, lebih berminat ke sana," sambung dia.
Suhu ekstrem Abu Dhabi jadi tantangan besar
ilustrasi Abu Dhabi menjadi kota teraman di dunia tahun 2025.
Kondisi cuaca di negara Timur Tengah tersebut menjadi salah satu tantangan terbesar bagi Obi karena ia tiba di Abu Dhabi saat puncak musim panas, di mana suhu bisa menyentuh angka 45 derajat Celcius.
"Malam hari saja susah bernapas. Mau turun ke bawah buat merokok saja malasnya luar biasa karena saking panasnya," kata Obi.
Selain itu, perubahan suhu yang ekstrem dari panas yang membakar menuju musim dingin sempat membuat kondisi tubuhnya tumbang.
Butuh waktu berminggu-minggu bagi tubuh “tropis”-nya untuk terbiasa dengan suhu 16 derajat yang menusuk tulang. Namun, setelah dua pekan, tubuhnya mulai terbiasa.
Meski biaya hidup di UEA tinggi jika dibandingkan dengan Indonesia, Obi tidak merasa kesulitan dalam kesehariannya karena upah yang ia dapat juga cukup tinggi.
Pengeluaran bulanannya selama di Abu Dhabi hanya 30 persen dari upah yang diterima, sebuah rasio yang sulit didapat di banyak kota besar di Indonesia.
"Kalau hitungan dari gaji, biaya hidup di sini overall balance lah. Dari gaji itu, paling cuma 30 persen buat biaya hidup sudah cukup," pungkas Obi.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul: Cerita Obi, Pemuda Makassar Menempa Diri di Negeri Gurun: Tantangan Suhu dan Beda Budaya Kerja
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang