Keterangan Saksi di TKP Penembakan Bertrand di Makassar, Ada Perkelahian Sebelum Tembakan Meletus

Makassar, Keterangan Saksi di TKP Penembakan Bertrand di Makassar, Ada Perkelahian Sebelum Tembakan Meletus, Penjelasan Saksi Mata, Berawal dari Konvoi, Detik-detik Kedatangan Polisi dan Letusan Senjata, Versi Kepolisian: Senjata Meletus Saat Pergulatan, Isak Tangis Sang Ibu: Kenapa Anakku Kena?"

Tabir gelap menyelimuti insiden tewasnya Bertrand Eka Prasetyo (18), remaja asal Makassar yang diduga tewas akibat timah panas oknum kepolisian. Insiden tragis ini terjadi di Jalan Toddopuli Raya, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (1/3/2026) pagi.

Seorang saksi kunci berinisial DN (21) membeberkan secara detail detik-detik sebelum hingga saat letusan senjata api merenggut nyawa Bertrand.

Penjelasan Saksi Mata, Berawal dari Konvoi

DN mengungkapkan bahwa peristiwa bermula sekitar pukul 07.00 WITA di depan Cafe Ur Mine (UM). Saat itu, terdapat rombongan yang melintas dari kawasan Toddopuli 4 menuju Toddopuli 2 yang tembus ke arah Jalan Hertasning.

Menurut DN, sempat terjadi insiden tabrakan di lokasi tersebut, namun ia menegaskan tabrakan itu terjadi di antara kelompok yang disebutnya sebagai pihak penyerang.

“Kejadiannya itu, dia pertama mengarah lawan, dia dari Toddopuli 4 terus keluar lagi di Toddopuli 2. Di situ mulai kejadian tabrakan, tabrakan sesama yang menyerang. Terus anak-anak tembaki dia, tembak mainan (senapan water jelly),” ujar DN saat ditemui di rumah duka, Selasa (3/3/2026).

Situasi semakin memanas ketika terjadi perkelahian fisik. DN mengaku mendengar pihak lawan sedang mengokang senjata.

“Pas tidak lama itu, katanya ini lawan makkokang (mengokang senjata). Terus korban bilang ‘saya dikena, dipukul’ sama itu yang lawan. Sudah itu, langsung korban ini pukul lawan. Iya berkelahi dia,” jelas DN.

Detik-detik Kedatangan Polisi dan Letusan Senjata

Di tengah perkelahian tersebut, sebuah mobil sipil (mobil biasa) datang dari arah Hertasning. Ternyata, mobil tersebut berisi anggota kepolisian dari Polsek Panakkukang.

“Tidak lama itu, ada datang polisi dari Hertasning. Pakai mobil biasa. Terus tidak lama itu, dia turun, angkat senjata tembak mi satu kali, terus saya lari masuk,” ungkap DN.

DN yang ketakutan langsung menyelamatkan diri ke dalam bangunan.

Dari kejauhan, ia hanya melihat tubuh Bertrand sudah diangkat oleh orang-orang di sekitar lokasi. Meski tidak melihat ceceran darah secara langsung karena posisi yang jauh, saksi lain di TKP mengonfirmasi adanya pendarahan pada korban.

Versi Kepolisian: Senjata Meletus Saat Pergulatan

Makassar, Keterangan Saksi di TKP Penembakan Bertrand di Makassar, Ada Perkelahian Sebelum Tembakan Meletus, Penjelasan Saksi Mata, Berawal dari Konvoi, Detik-detik Kedatangan Polisi dan Letusan Senjata, Versi Kepolisian: Senjata Meletus Saat Pergulatan, Isak Tangis Sang Ibu: Kenapa Anakku Kena?"

Ilustrasi peluru. Kepolisian Polrestabes Makassar membeberkan kronologi insiden penembakan yang menewaskan seorang remaja bernama Bertrand Eko Prasetyo (18) di Jalan Toddopuli Raya, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan.

Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, memberikan penjelasan berbeda terkait kronologi penembakan. Ia menyebutkan bahwa Iptu N, anggota Unit Reskrim Polsek Panakkukang, datang untuk membubarkan aksi remaja yang meresahkan warga karena mencegat pengendara menggunakan senapan water jelly.

Arya berdalih, saat Iptu N mencoba mengamankan Bertrand, korban meronta untuk melepaskan diri.

"Ketika meronta, pistol yang masih dipegang oleh Iptu N itu meletus dengan tidak sengaja terkena bagian tubuh belakang," kata Arya di Mapolrestabes Makassar, Selasa malam.

Isak Tangis Sang Ibu: Kenapa Anakku Kena?"

Di rumah duka Jalan Toddopuli I, Desi Manuhutu, ibu kandung Bertrand, tak kuasa menahan kesedihan. Ia mengaku mendapatkan kabar anaknya tertembak saat dirinya masih berada di Jakarta.

Desi mempertanyakan prosedur penggunaan senjata api yang dilakukan oleh petugas di lapangan.

“Kok bisa ketembak? Kalau polisi menembak itu ke atas, kenapa anakku bisa kena? Berarti ini kesalahan Pak,” ungkap Desi dengan mata berkaca-kaca menirukan ucapannya kepada polisi.

Setelah jenazah diotopsi dan tiba di rumah duka pada Senin dini hari, Desi melihat kondisi fisik anaknya yang memprihatinkan.

"Mukanya sudah bengkak, ada benjolan. Terus kepalanya kayak berdarah, tapi nggak bisa dibuka," tuturnya pedih.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar turut menyoroti kasus ini. Kepala Advokasi LBH Makassar, Muhammad Ansar, menegaskan bahwa penggunaan senjata api harus menjadi langkah terakhir (last resort).

“Kami mendesak agar pelaku segera dinonaktifkan dan diproses melalui mekanisme pidana serta etik,” tegas Ansar.

Saat ini, Iptu N telah diamankan oleh pihak Polrestabes Makassar. Selain pemeriksaan kode etik oleh Propam, Iptu N juga terancam proses hukum pidana atas kelalaian atau penyalahgunaan senjata api yang menyebabkan hilangnya nyawa seseorang.

Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul  dan Tribun-Timur.com dengan judul Bertrand Eka Prasetyo Meninggal Ditembak Polisi, Saksi: Awalnya Ada Perkelahian

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang