Mengapa Mi Panjang Umur Tak Boleh Putus Saat Imlek? Ini Sejarah Ribuan Tahun dari Dinasti Han

Warga Tionghoa akan menyajikan beragam menu spesial saat perayaan tahun baru Imlek.
Perayaan ini tidak hanya soal ritual keagamaan, tetapi juga menjadi ajang berkumpulnya keluarga dan masyarakat dalam suasana penuh kehangatan yang sarat doa serta harapan.
Beberapa hidangan khas yang "wajib" tersaji di keluarga Tionghoa adalah yu sheng, mi panjang umur, dan aneka hidangan laut, seperti dilansir dari Antara.
Pakar Kuliner keturunan Tionghoa, William Wongso mengungkapkan, bahan-bahan pangan yang digunakan dalam memasak hidangan khas Imlek bukan merefleksikan kemewahan, akan tetapi mengandung simbol yang dapat menggambarkan keselamatan, kekayaan, kelanggengan, hingga kebahagiaan.
“Kalau di China, setiap bahan itu mengandung makna penting dan itu dijelaskan dari tulisan kaligrafi dari bahan tersebut, contoh Apel. Bahasa Mandarin Apel itu ping guo. Ping artinya kedamaian,” kata William, pakar kuliner yang aktif sejak 1977.
Macam-macam hidangan Imlek
Tradisi mengolah, menyajikan, dan menikmati hidangan khusus Imlek telah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Meski jauh dari tanah asal, warga keturunan yang ada di Indonesia tetap merayakan Imlek dengan semangat dan budaya yang sama.
Salah satu sajian khas Imlek adalah yu sheng, yang sarat simbol dan harapan.
Sajian ini biasanya menjadi hidangan pembuka yang disantap bersama-sama dalam tradisi Lo Hei, yakni mengangkat salad setinggi-tingginya menggunakan sumpit sebagai simbol harapan agar rezeki, keberuntungan, dan kesuksesan terus meningkat di tahun yang baru.
Setiap elemen dalam yu sheng memiliki makna tersendiri.
Dalam tradisi Tionghoa, ikan mentah merupakan simbol kelimpahan sepanjang tahun. Kepercayaan ini berangkat dari makna kata yu yang berarti ikan sekaligus surplus.
Karena itu, menyantap ikan mentah dalam sajian yu sheng saat imlek diyakini membawa limpahan rezeki di tahun yang akan datang.
Selain yu sheng, yang harus selalu ada saat Imlek adalah mi panjang umur.
Mi panjang umur (siu mie) yang ditumis dengan sayuran segar, udang, daging kepiting manis, dan bahan laut lainnya menghasilkan cita rasa yang gurih dan sedap.
Menariknya, mi akan disajikan utuh dengan panjang mencapai dua meter tanpa terputus, yang melambangkan harapan akan umur panjang, kemakmuran, dan kelancaran rezeki di tahun yang akan datang.
Makanan ini umumnya disantap di penghujung jamuan, setelah rangkaian hidangan pembuka kaya serat dan menu utama tinggi protein dinikmati.
Chef Andreas Herlambang dari Hotel Noormans Semarang mengatakan, mengolah mi panjang umur harus sangat hati-hati, karena mi tidak boleh terputus sama sekali.
Begitu pula saat menyantapnya, juga harus ekstra hati-hati, karena tidak boleh memotong atau menggigit mi hingga putus. Mi harus diseruput utuh dari ujung ke pangkal agar tidak membawa nasib buruk.
Mengapa mi tidak boleh terputus saat Imlek?
Ilustrasi mi panjang umur, sajian khas Tahun Baru Imlek.
Dalam tradisi Tionghoa, mi panjang umur atau dikenal sebagai longevity noodles, dimakan untuk melambangkan kehidupan yang panjang, sehat, dan beruntung pada awal tahun baru.Mi sengaja dibuat sangat panjang dan tidak dipotong, karena panjangnya mi dianggap sebagai metafora dari panjangnya umur seseorang, dilansir dari laman Alibaba Party.
Tradisi mi panjang umur ini juga unik.
Konsumsi mi panjang umur telah ada sejak lebih dari seribu tahun lalu, terutama sejak Dinasti Han dan Tang (206 SM–907 M), ketika mi dihubungkan dengan simbol panjang umur dan kesehatan.
Awalnya, mi panjang umur muncul dalam perayaan ulang tahun dan acara istimewa untuk menghormati orang yang lebih tua.
Seiring waktu, tradisi itu menyatu dengan perayaan Imlek, karena tahun baru adalah momen untuk menyampaikan doa agar keluarga diberi umur panjang dan keberuntungan.
Tradisi ini bertahan hingga Dinasti Ming dan Qing, dan terus lestari hingga kini.
Memotong atau memutus mi bisa diartikan secara simbolis sebagai memintas umur atau mengganggu keberuntungan dan harmoni.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang