Tradisi Ribuan Tahun di Danau Chagan Kembali Digelar, Ikan Pertama Dilelang Rp 4,1 Miliar

Di ekstremnya suhu musim dingin China, ada tradisi unik yang sudah berlangsung berabad-abad, yaitu menangkap ikan di Danau Chagan.
Tradisi itu juga dilakukan warga lokal pada musim dingin kali ini.
Di tengah suhu yang menusuk tulang, hampir minus 20 derajat Celsius, puluhan ribu pengunjung memadati Danau Chagan yang membeku di Provinsi Jilin, China Timur Laut, pada Kamis (8/1/2026), untuk menyaksikan para nelayan menarik jaring dari bawah lapisan es.
Dilansir dari China Daily, Jumat (9/1/2026), kegiatan tersebut menandai pembukaan Festival Pariwisata Budaya Memancing dan Berburu Es dan Salju Danau Chagan ke-24 di Songyuan, Jilin.
Dalam kesempatan itu, “ikan pertama” musim dingin kali ini, yaitu seekor ikan seberat 19 kilogram, dilelang dengan harga 1.699.999 yuan (sekitar Rp 4,1 miliar).
Pembelinya, perusahaan e-commerce JD Group, mengatakan bahwa dana hasil lelang akan disumbangkan ke Dana Amal Perlindungan Lingkungan Ekologis Danau Chagan untuk mendukung konservasi air dan penebaran kembali ikan.
Cara menangkap ikan di Danau Chagan
Selama beberapa generasi, praktik memancing musim dingin di Danau Chagan mengikuti aturan tidak tertulis yang sangat ketat.
Para nelayan memandang danau sebagai “kehadiran yang hidup”, jadi sesi mengebor es hanya dilakukan setelah pengamatan cermat dan berhati-hati agar tidak menguras sumber daya danau.
Jaring juga dirancang untuk menangkap ikan yang sudah dewasa, sementara ikan yang lebih muda dibiarkan lolos.
Aturan ini sudah diterapkan berabad-abad, demi melestarikan lingkungan di sekitar Danau Chagan.
Sebelum fajar, para nelayan yang mengenakan topi kulit domba tradisional dan mantel tebal sudah berkumpul di atas danau yang membeku.
Pada upacara pembukaan, para biksu Buddha menampilkan tarian ritual, dan kepala nelayan menyampaikan doa kepada langit, bumi, dan danau melalui lantunan mantra, memohon musim yang aman dan hasil tangkapan yang melimpah.
Chen Jie, yang memimpin salah satu dari empat tim nelayan pada Kamis tersebut menentukan area tempat ikan diperkirakan berkumpul.
Lebih dari 400 lubang dibor menembus es, dan sekitar 50 nelayan bekerja bersama untuk memasang jaring sepanjang 2.000 meter di bawah permukaan.
Beberapa jam kemudian, kuda digunakan untuk menarik jaring, mengangkat berton-ton ikan dalam momen mendebarkan yang disambut sorak-sorai dari kerumunan.
“Saya merasakan rasa hormat yang mendalam terhadap alam selama upacara tersebut. Ini lebih dari sekadar memancing. Ini menunjukkan bagaimana orang-orang di sini hidup selaras dengan danau,” kata Hao Yingjia, seorang warga setempat.
Saat jaring diangkat, kawanan ikan berlompatan keluar dari danau es, memercikkan serpihan es ke udara, menandai panen melimpah bagi masyarakat nelayan di kawasan timur laut China.
Tradisi ribuan tahun
Dilansir dari Xinhua, Kamis, Danau Chagan merupakan salah satu dari 10 danau air tawar terbesar di China dan yang terbesar di Provinsi Jilin.
Danau ini menjadi habitat bagi 68 spesies ikan, termasuk ikan mas kepala besar yang bernilai tinggi dan mendominasi hasil tangkapan musim dingin.
Tradisi berburu ikan di Danau Chagan berasal dari era Dinasti Liao (sekitar abad ke-10 hingga ke-12) dan terus dipraktikkan hingga kini serta diakui sebagai warisan budaya takbenda nasional sejak 2008.
Musim memancing di kawasan ini berlangsung dari akhir Desember hingga awal Maret.
Dalam periode tersebut, ratusan nelayan bekerja di atas danau yang membeku demi mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya.
Dalam beberapa tahun terakhir, langkah-langkah perlindungan ekologi telah membentuk ulang cara tradisi ini terus dijalankan.
“Kami sekarang menggunakan jaring dengan ukuran mata jaring yang lebih besar, sehingga ikan-ikan muda dan kecil bisa lolos,” kata Chen, kepala nelayan.
Chen juga mengatakan, seiring berkembangnya sektor perikanan di wilayah tersebut, pendapatan para nelayan lokal pun meningkat.
Cao Baoming, seorang ahli budaya rakyat Jilin, mengatakan bahwa makna memancing musim dingin di Danau Chagan terletak pada keseimbangannya.
“Selama berabad-abad, para nelayan di sini bergantung pada alam sekaligus melindunginya. Kualitas lingkungan di wilayah ini terus membaik, sementara budaya berburu dan memancing tradisional yang unggul tetap terjaga,” ujar Cao.
Selama festival berlangsung, lebih dari 50 kegiatan tingkat nasional dan provinsi, termasuk turnamen hoki es dan berbagai aktivitas olahraga salju, digelar di sekitar danau.
Otoritas setempat juga menyediakan layanan bus antar-jemput gratis yang menghubungkan pusat kota dengan Danau Chagan agar wisatawan dapat menyaksikan ritual musim dingin yang spektakuler tersebut.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang