Ilmuwan Ungkap 5 Kesalahan Desain Rumah yang Membuat Penghuni Mudah Stres

Ilmuwan mengungkap ada kaitan erat antara desain rumah dengan kesehatan mental.
Arsitektur hunian kerap dipandang sebagai disiplin teknis yang bertumpu pada gambar rencana, regulasi, fasad, luasan bangunan, dan sistem konstruksi. Namun dalam praktiknya, hunian sangat bersifat psikologis.
Menurut ilmuwan, rumah tempat kita tinggal adalah lingkungan emosional yang aktif, jauh melampaui sekadar bangunan fisik.
Rumah membentuk suasana hati, rasa aman, tingkat stres, relasi keluarga, serta cara kita menghadapi dunia setiap kali pulang di akhir hari.
Banyak orang kesulitan menjelaskan mengapa mereka merasa tidak nyaman atau terasing di hunian mereka sendiri. Penjelasan yang sering muncul biasanya berkisar pada kebisingan, tetangga, ketidaknyamanan umum, kelelahan akibat ruang, atau perasaan sesak yang sulit dijelaskan.
Padahal, riset luas dalam bidang psikologi lingkungan menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, sumber masalahnya terletak pada desain itu sendiri.
Dilansir dari Ynet News, Rabu (4/2/2026), cara ruang-ruang terhubung, alur pergerakan, tingkat pencahayaan, hingga bagaimana sebuah bangunan “menyambut” penghuninya di pintu masuk, semuanya berdampak langsung pada kesejahteraan mental.
Kesalahan desain yang membuat penghuni mudah stres
Sejak tahun 1970-an, peneliti psikologi lingkungan Irwin Altman telah mengemukakan teori tentang privasi, yang menyatakan bahwa privasi bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar manusia.
Ia menunjukkan bahwa lingkungan fisik berfungsi sebagai alat utama bagi individu untuk mengatur interaksi sosial, privasi, dan rasa kendali.
Studi-studi yang lebih mutakhir di Eropa dan Amerika Serikat memperkuat kesimpulan ini, dengan menunjukkan bagaimana kesalahan desain kecil dapat terakumulasi menjadi pengalaman hidup sehari-hari yang melelahkan.
Berikut lima kesalahan desain rumah yang sebaiknya dihindari:
1. Pintu masuk langsung terbuka ke ruang keluarga
Ilustrasi pintu rumah yang langsung menghadap ruang keluarga.
Salah satu kesalahan paling umum adalah pintu depan yang langsung terbuka ke ruang keluarga. Di atas kertas, desain ini menghemat ruang dan memberi kesan terbuka. Namun pada kenyataannya, ia menghilangkan tahap penting dalam pengalaman manusia.Area masuk berfungsi sebagai transisi psikologis antara dunia luar yang bising dan penuh tuntutan dengan ruang dalam yang intim.
Tanpa zona penyangga untuk berhenti sejenak, meletakkan barang, dan menurunkan ketegangan, penghuni akan terus-menerus merasa terekspos.
Sebuah studi tahun 2016 yang diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology menemukan bahwa apartemen tanpa pemisahan jelas antara area masuk dan ruang hunian berkaitan dengan tingkat stres yang lebih tinggi serta menurunnya rasa privasi dan kendali.
2. Ruang terbuka yang terlalu berlebihan
Konsep ruang terbuka terdengar modern dan menarik, tetapi otak manusia kehilangan jangkar di desain ini.
Ketika memasak, bekerja, bermain, menerima tamu, dan beristirahat semuanya terjadi di satu ruang yang sama, beban kognitif pun meningkat.
Otak manusia membutuhkan batas-batas spasial untuk mengatur pikiran, mengendalikan rangsangan, dan merasakan ketenangan.
Studi tahun 2019 dalam Journal of Housing and the Built Environment menunjukkan bahwa penghuni melaporkan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi dan konflik harian yang lebih sedikit di apartemen yang memiliki setidaknya pemisahan parsial antar-zona.
3. Pilihan desain yang menimbulkan ketidaknyamanan sehari-hari
Sebagian kekeliruan desain menggerus kenyamanan secara perlahan, meski tampak sepele. Contohnya, kamar mandi tamu yang diletakkan tepat di depan pintu masuk atau berdampingan dengan area utama untuk menjamu tamu.
Di atas kertas, tata letaknya terlihat berfungsi. Namun dalam kehidupan nyata, ia menciptakan rasa canggung dan alur pergerakan yang tidak alami.
Riset dalam studi perilaku-lingkungan menunjukkan bahwa ruang tidak pernah netral. Ia membentuk perilaku, dan perilaku memunculkan emosi.
Ketika desain terus-menerus memaksa situasi yang janggal, kelelahan emosional akan menumpuk dan merusak kenyamanan sehari-hari.
4. Pencahayaan yang buruk
Ilustrasi lampu kamar tidur yang hangat. Pencahayaan yang kurang bisa memicu kelelahan mental.
Cahaya adalah sistem biologis, bukan sekadar pilihan estetika atau fungsional.Ketika penghuni menggambarkan hunian mereka sebagai gelap, sering kali yang mereka maksud adalah kelelahan, gangguan tidur, dan rasa berat.
Studi tahun 2020 dalam jurnal Building and Environment menemukan bahwa paparan cahaya alami atau pencahayaan yang selaras dengan ritme biologis secara signifikan meningkatkan kualitas tidur, tingkat energi, dan indikator kesehatan mental.
5. Bangunan yang identik
Jika bangunan di satu wilayah tampak identik, tanpa penanda khas, maka hal ini akan memicu kehilangan kendali yang terus-menerus.
Studi tahun 2018 dalam jurnal Environment and Behavior menekankan pentingnya ruang yang membentuk identitas, sehingga membantu penghuni berorientasi dan merasa lebih membumi.
Nah, itulah 5 kesalahan desain rumah yang bisa memicu kelelahan psikologis.
Kabar baiknya, sebagian besar masalah ini dapat diatasi.
Membagi ruang terbuka secara halus, menyesuaikan posisi atau arah bukaan pintu, serta merencanakan pencahayaan dengan cermat, dapat secara drastis meningkatkan kualitas hidup sehari-hari.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang