Harga Emas Terus Melonjak, Ini Investasi Masa Depan yang Mulai Dilirik

investasi, Harga Emas Terus Melonjak, Ini Investasi Masa Depan yang Mulai Dilirik

Pakar investasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Bowo Setiyono, Ph.D menilai, perak secara umum dapat menjadi alternatif instrumen investasi di tengah melonjaknya harga emas sejak 2025.

Menurutnya, perak memiliki karakter yang hampir seperti safe haven layaknya emas, terutama saat ketidakpastian meningkat. Namun, posisi perak berada di bawah emas sebagai logam mulia.

"Mengapa? Perak secara historis lebih volatil dibanding emas karena posisinya di bawah emas sebagai logam mulia," ujar Bowo kepada Kompas.com, Selasa (3/2/2026).

Bowo menambahkan, perak juga diakui sebagai aset penyimpan nilai dan kerap dijuluki “the poor man’s gold”.

Julukan tersebut datang karena perak berperan sebagai safe haven saat ketidakpastian ekonomi dan politik meningkat.

Perak juga tetap diminati investor ketika terjadi permintaan industri yang tinggi, supply deficit, dan fluktuasi nilai tukar.

"Ketidakpastian geopolitik dan isu independensi bank sentral memperkuat permintaan perak sebagai aset lindung nilai," jelas Bowo.

Harga Perak Pernah Melonjak hingga 26 Persen

Meski demikian, Bowo memperkirakan pergerakan harga perak cenderung tidak stabil. 

Sepanjang 2025, harga perak sempat melonjak hingga 150 persen.

Memasuki awal 2026, perak kembali mencatat kenaikan tajam. Dalam tiga minggu pertama tahun ini, harganya naik lebih dari 26 persen.

"Pada awal 2026, perak terus naik hingga menyentuh 84–95 dollar AS tergantung pasar dan momentum geopolitik. Valuasi perak di awal 2026 mulai dianggap mahal dan berisiko koreksi oleh pasar," jelas Bowo.

Kenaikan tersebut menunjukkan potensi keuntungan besar, tetapi juga volatilitas yang tinggi. 

Bowo juga menilai, perak cenderung liar daripada emas dengan kenaikan besar dan fluktuasi yang tinggi.

Perak Cukup Menjanjikan untuk Investasi

Bowo menjelaskan, perak menjadi salah satu instrumen investasi yang cukup menjanjikan, terutama bagi investor yang siap menanggung volatilitas. 

Hal tersebut dapat dilihat dari struktur pasar menunjukkan defisit pasokan bertahun-tahun sehingga tekanan harga cenderung naik jangka panjang.

Perak juga memiliki fundamental permintaan kuat, terutama penggunaan industri (panel surya, elektronik, EV) yang terus meningkat.

"Saat emas naik, perak biasanya mengikuti, bahkan sering kali naik secara persentase lebih tinggi. Ini ibarat harga batubara dengan harga minyak," ungkap Bowo.

"So, perak itu cukup menjanjikan bagi investor yang agresif atau moderat, namun kurang pas atau ideal bagi investor yang ingin stabilitas tinggi. Nah, jika dipakai sebagai alat diversifikasi aset, perak bisa menjadi salah satu aset tambahan dalam portofolio investasi," sambung Associate Professor FEB UGM tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang