Harga Minyak Dunia Tembus US$112, Analis Peringatkan Pertanda Buruk Bagi Ekonomi Global
Mengutip India Today, harga minyak mentah Brent diperdagangkan di level US$112,85 atau sekitar Rp 1.912.694,65 (estimasi kurs Rp 16.950 per dolar AS) per barel. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat (AS), West Texas Intermediate (WTI), berada di harga US$98,91 atau Rp 1.676.425,59 per barel.
Serangan AS dan Israel ke Iran semakin meluas ke berbagai wilayah strategis di Asia Barat. Situasi yang awalnya bersifat geopolitik kini mulai bertransformasi menjadi ancaman ekonomi global dan harga minyak sebagai pusat tekanan utama.
Kekhawatiran pasar tidak lagi hanya soal harga yang naik, tetapi juga terganggunya pasokan energi. Selat Hormuz sebagai jalur vital yang dilalui hampir 20 persen pasokan minyak dunia berada dalam tekanan.
Kapal tanker Rusia memasok minyak ke India.
Pergerakan kapal tanker melambat, biaya asuransi melonjak, dan serangan berulang membuat jalur distribusi energi tersebut menjadi kawasan berisiko tinggi.
Presiden Vayana, Kaushal Sampat, menilai eskalasi konflik ini sudah menyentuh sektor energi secara langsung. Ia menambahkan bahwa kondisi ini bukan sekadar gangguan jangka pendek.
“Ini bukan hanya masalah sementara, tetapi kombinasi antara gangguan langsung dan risiko struktural yang mulai muncul,” katanya.
Sejumlah estimasi pasar menyebutkan sekitar 8 hingga 10 juta barel per hari pasokan minyak berpotensi terdampak jika gangguan terus berlanjut. Bahkan, Selat Hormuz sendiri mengangkut hampir 20 juta barel per hari sehingga gangguan kecil sekalipun bisa berdampak global.
Pasar saham menjadi volatil, mata uang melemah, dan imbal hasil obligasi menyesuaikan dengan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi. Investor pun mulai menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi seiring melonjaknya biaya energi.
Chief Research Officer Master Capital Services, Dr. Ravi Singh, mengatakan tekanan sudah terlihat di pasar keuangan dunia. “Pelemahan terbaru di pasar saham dipicu oleh eskalasi konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, dan aksi jual investor asing,” jelasnya.
Risiko yang lebih besar kini mengarah pada kemungkinan resesi global jika harga minyak terus naik. Vijayakumar mengingatkan, level harga tertentu bisa menjadi titik kritis.
“Jika harga Brent menembus US$120 dan bertahan selama sebulan, hal itu dapat memukul pertumbuhan global. Bahkan resesi tidak bisa dikesampingkan,” katanya.
Analis Choice Broking, Aamir Makda, menjelaskan dampak kenaikan minyak terjadi secara bertahap. Menurutnya, risiko akan semakin besar jika harga terus naik yang terjadi dalam tiga gelombang.
"Awalnya dari biaya transportasi, lalu merambat ke harga pangan dan FMCG, hingga akhirnya memicu inflasi inti. Jika harga bertahan di atas US$130 selama lebih dari dua kuartal, data historis menunjukkan potensi resesi di ekonomi besar,” jelas Makda.
Lebih lanjut, Vijayakumar menyebut konflik berkepanjangan akan menjadi skenario terburuk bagi semua pihak. Ia menyampaikan, sulit memprediksi apakah ini akan menjadi masalah jangka pendek atau panjang.
"Namun kemungkinan besar bersifat sementara, karena jika berkepanjangan akan sangat merugikan,” ujarnya.
Head of Global Investments Ionic Asset, Ankita Pathak, juga menilai situasi saat ini masih penuh ketidakpastian. Saat ini gangguan lebih kepada rantai pasok, bukan kekurangan fundamental.
"Serangan terhadap infrastruktur energi meningkatkan risiko. Harga di atas US$130 bisa memicu penurunan permintaan,” jelasnya.
Namun, jika konflik terus berlanjut bukan tidak mungkin menyebabkan dampak yang lebih luas. Mulai dari penurunan permintaan hingga likuiditas yang semakin ketat.
“Jika konflik hanya berlangsung beberapa minggu lagi, dampaknya mungkin masih terbatas. Namun jika berkepanjangan, bisa memicu penurunan permintaan, menahan penurunan suku bunga, dan memperketat likuiditas secara global,” tegas Pathak.