PVMBG Sebut Tak Ada Guguran Awan Panas Semeru Hari Ini, Tapi Statusnya Masih Awas

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Priatin Hadi Wijay
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Priatin Hadi Wijay

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kementerian ESDM, melaporkan bahwa meskipun aktivitas guguran awan panas tidak lagi terdeteksi hari ini, status Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur  tetap berada pada Level IV (Awas).

PVMBG menyebutkan dua laporan pemantauan terbaru yang masuk pada hari ketiga periode 00.00–06.00 WIB dan 06.00–12.00 WIB menunjukkan bahwa kegempaan erupsi masih tinggi tercatat 36 hingga 45 kali  dalam 12 jam terakhir.

Selain itu, guguran material masih terjadi 4 hingga 7 kali, disertai aktivitas hembusan dari kawah.

Gunung Semeru erupsi

"Yang kita syukuri, hari ini tidak ada lagi guguran awan panas yang sebelumnya menjadi kekhawatiran kita semua," kata Kepala PVMBG Hadi Wijaya, Jumat, 21 November 2025.

Hadi mengatakan dua hari sebelumnya, guguran awan panas sempat terjadi berturut-turut hari pertama berlangsung sekitar  4 jam, hari kedua kurang dari 1 jam, dan hari ini tidak teramati kembali.

PVMBG menilai kondisi ini sebagai tanda meredanya potensi awan panas, namun mengingatkan bahwa erupsi masih aktif* sehingga material vulkanik diperkirakan masih menumpuk di sekitar kawah. 

"Risiko dapat meningkat apabila curah hujan tinggi yang berpotensi memicu lahar dingin," ujarnya

Hadi mengatakan BPBD Lumajang melaporkan 956 warga masih berada di pengungsian, sementara laporan dari titik lain menunjukkan jumlah pengungsi telah melampaui 1.000 orang

Meski sebagian warga sudah kembali ke rumah, PVMBG mengingatkan bahwa masyarakat harus tetap siagakarena potensi bahaya masih ada. "Termasuk Erupsi dengan lontaran batu pijar, guguran material, lahar dingin akibat hujan dua hari terakhir," ungkapnya

Lebih lanjut Hadi mengatakan, kemarin tercatat 137 pendaki berada di area pendakian. Seluruhnya dilaporkan dalam kondisi aman karena berada pada radius sekitar 8 km dari puncak.

"Jarak aman ini masih dianggap relevan menurut rekomendasi PVMBG dan Badan Geologi, tetapi akan terus dievaluasi  sesuai perkembangan aktivitas gunung," terang Hadi

Hadi menambahkan PVMBG telah menerjunkan 8 ahli di lapangan terdiri dari: 4 ahli gunung api PVMBG,.4 tim drone dari BPPTKG, ditambah 2 pengamat gunung api dari Ijen dan Bromo.

"Tim ini bertugas memperkuat pemantauan visual dan memberikan edukasi kepada masyarakat," katanya.

Tim di lapangan nantinya melaporkan bahwa bekas aliran dan guguran material masih sangat berbahaya pada jalur Lumajang–Malang.

PVMBG meminta warga bersabar karena akses masih harus dibatasi ketat sambil menunggu koordinasi lebih lanjut dengan BPBD, TNI, dan kepolisian.

"Meskipun guguran awan panas tidak terlihat hari ini, erupsi yang masih tinggi  dapat menjadi ancaman serius karena akumulasi material di kawah berpotensi terbawa hujan menjadi aliran lahar dingin. Seluruh aktivitas, termasuk penambangan pasir, dilarang dalam radius lebih dari 20 km dari puncak," katanya.

Laporan: Cepi Kurnia, tvOne Bandung.