Layanan Cari Jodoh Cindo Match Ramai Diminati Perempuan Milenial
Jika dulu perempuan sering digambarkan sebagai pihak yang menunggu untuk didekati, kini gambaran itu perlahan berubah.
Di Cindo Match, layanan cari jodoh berbasis komunitas, justru kaum hawa dari kalangan milenial terlihat lebih berani mengambil langkah pertama.
Mereka tak ragu membuka percakapan, menunjukkan ketertarikan, namun tetap menjaga sikap yang sopan dan berkelas.
Fenomena ini menunjukkan pergeseran cara pandang perempuan terhadap proses mencari pasangan.
Tidak lagi sekadar menunggu, tapi juga aktif berusaha. Meski begitu , keaktifan itu tetap dibingkai dengan kesadaran akan batasan, etika, dan rasa saling menghormati.
Anggota perempuan sedikit lebih banyak
Suasana area Jodoh Market yang diselenggarakan Cindo Match di Green Sedayu Mall, Jakarta Barat, Sabtu (24/1/2026).
Co-Founder Cindomatch, Angeline Chandra mengungkapkan, komposisi peserta memang didominasi perempuan.
“Di komunitas kami itu lebih banyak perempuan. Ada sekitar 55 persen perempuan dan sisanya yaitu 45 persen laki-laki. Namun, memang persentasenya tidak begitu jauh,” kata Angeline saat diwawancarai Kompas.com di Jakarta Barat, Sabtu (24/1/2026).
Meski selisihnya tipis, angka tersebut cukup menggambarkan antusiasme perempuan dalam memanfaatkan ruang yang dianggap lebih aman dan terkurasi untuk mencari pasangan.
Banyak perempuan yang datang dengan kesiapan mental untuk membangun hubungan serius, bukan sekadar coba-coba.
Angeline melihat, kehadiran perempuan yang lebih banyak ini juga dipengaruhi oleh kebutuhan akan rasa aman.
Dalam ekosistem Cindo Match yang memiliki proses seleksi dan verifikasi data, perempuan merasa lebih terlindungi dibandingkan ketika menggunakan aplikasi kencan biasa.
Didominasi usia 30–40 Tahun
Event Single Meet Up yang diselenggarakan Cindo Match di Green Sedayu Mall, Jakarta Barat, Sabtu (24/1/2026).
Soal usia, Angeline menyebut mayoritas peserta berasal dari generasi milenial, dengan rentang usia 30 hingga awal usia 40 tahunan.
“Mayoritas yang ikut Cindo Match ini dari kalangan milenial, jadi usia 30 sampai 40 tahunan. Ada juga yang usianya 25 atau bahkan di atas 40 tahun,” ujarnya.
Rentang usia ini bukan tanpa alasan. Di usia tersebut, banyak orang sudah lebih mengenal diri sendiri, lebih paham apa yang mereka cari, dan lebih siap membangun hubungan jangka panjang.
Namun, Cindo Match tetap menetapkan batas usia minimum usia, selain juga wajib sudah bekerja bagi setiap pendaftar.
“Tapi kami sepakat untuk menentukan usia cowok minimal 25 dan cewek 20. Tentunya mereka harus sudah kerja dan berpenghasilan,” kata Angeline.
Aturan ini dibuat untuk memastikan bahwa semua peserta sudah berada di fase hidup yang relatif stabil, baik secara emosional maupun finansial.
Dengan begitu, interaksi yang terjalin tidak hanya soal rasa suka, tetapi juga kesiapan membangun masa depan.
Perempuan mulai berani reach out tapi tidak agresif
Co-Founder Cindo Match, Angeline Chandra saat ditemui Kompas.com di Green Sedayu Mall, Jakarta Barat, Sabtu (24/1/2026).
Salah satu hal yang paling mengejutkan bagi Angeline adalah keberanian perempuan untuk memulai percakapan.
“Mengejutkannya adalah yang perempuan itu sangat open dan mau reach out laki-laki duluan. Aku selalu tekankan ke member untuk sopan dan be nice,” ungkapnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perempuan milenial semakin percaya diri dan sadar akan apa yang mereka inginkan.
Mereka tidak lagi melihat memulai percakapan sebagai sesuatu yang tabu atau memalukan.
Meskipun demikian, ia mengimbau para anggota perempuan Cindo Match untuk selalu mengedepankan komunikasi yang asertif.
“Khususnya untuk para perempuan, jangan sampai agresif, tetapi asertif. Itu dua hal yang berbeda dan pada akhirnya cowok pasti mau mengejar dan menunjukkan usahanya.”
Asertif berarti tahu apa yang diinginkan dan berani menyampaikannya dengan cara yang sopan. Sementara agresif justru bisa membuat orang lain merasa tertekan.
Di Cindo Match, keseimbangan ini menjadi penting. Perempuan didorong untuk aktif, tapi tetap menjaga sikap hangat, ramah, dan menghargai ruang personal lawan bicara.
Memulai percakapan bukan hal yang salah
Suasana area Jodoh Market yang diselenggarakan Cindo Match di Green Sedayu Mall, Jakarta Barat, Sabtu (24/1/2026).
Angeline menegaskan bahwa mengambil langkah pertama bukanlah kesalahan. Justru, keberanian itu sering kali menjadi awal dari komunikasi yang sehat.
“Memulai percakapan untuk kenalan itu enggak ada salahnya kok, namanya juga berusaha,” imbaunya.
Dari sapaan ringan, obrolan bisa berkembang menjadi diskusi lebih dalam tentang hobi, pekerjaan, hingga rencana hidup.
Dalam suasana yang terkurasi dan relatif aman, perempuan merasa lebih bebas menjadi diri sendiri. Mereka tidak hanya datang sebagai objek yang dipilih, tetapi sebagai subjek yang aktif menentukan arah relasi.
Ramainya perempuan milenial di Cindo Match juga menunjukkan kebutuhan besar akan ruang yang aman dan serius.
Bagi banyak perempuan, mencari pasangan bukan lagi soal gengsi, melainkan soal keberanian merawat masa depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang