Anak Bungsu Warren Buffett Baru Tahu Ayahnya Seorang Miliarder di Umur 20 Tahun

Seperti di film-film, salah satu anak Warren Buffett ternyata tidak tahu bahwa ia lahir dan dibesarkan di keluarga milarder, hingga ia menginjak usia dewasa.
Bungsu dari tiga bersaudara anak Warren Buffett, Peter mengatakan, bahwa ia baru mengetahui status ayahnya sebagai miliarder saat berusia 20-an tahun, setelah melihat nama sang investor legendaris tercantum dalam daftar Forbes.
Peter yang kini berusia 67 tahun menceritakan awal mula mencurigai ayahnya seorang miliarder dalam sebuah wawancara pada 2013 dengan majalah asal Amerika Serikat.
Saat pertama curiga akan hal itu, ia sempat berbincang dengan ibunya mengenai kemunculan Buffett dalam daftar tersebut.
“Ya, kira-kira saat itulah kami baru mengetahui berapa banyak uang yang dimiliki keluarga kami,” kenangnya.
“Dan kami menertawakannya, karena kami berkata, ‘Lucu juga ya. Kami tahu siapa diri kami, tetapi sekarang semua orang memperlakukan kami secara berbeda,’” ujarnya, dilansir dari VN Express, Rabu (21/1/2026).
Masa kecil Peter jauh dari kemewahan
Ia menggambarkan momen itu sebagai sebuah perubahan yang “menarik”, meski terjadi secara halus, karena kekayaan sang ayah tidak pernah menjadi bagian yang mendefinisikan masa kecilnya.
“Kami tidak hidup di dunia atau dalam kerangka budaya yang memamerkan banyak kekayaan,” ujarnya. “Teman-teman kami sama terkejutnya dengan saya.”
Dalam wawancara lain, Peter menceritakan lebih jauh tentang masa kecilnya. Ia mengatakan bahwa ia dan saudara-saudaranya nyaris tidak mengetahui apa pekerjaan ayah mereka.
“Pekerjaannya terasa cukup misterius,” ujarnya dalam podcast Freakonomics pada 2011, dikutip dari Business Insider.
Ia mengingat saat sang kakak perempuan mengisi formulir sekolah soal pekerjaan orangtua ketika duduk di kelas empat atau lima SD. Menurut Peter, saat itu sang kakak menuliskan pekerjaan Buffett sebagai “analisis keamanan”.
“Diasumsikan bahwa pekerjaannya adalah memeriksa sistem alarm,” kata Peter.
“Bagi anak-anak, rasanya seperti, ‘Apa arti semua angka di kertas itu? Dan apa sebenarnya Bursa Efek New York, jual beli saham, dan semua itu?’ Jadi kami benar-benar tidak tahu,” sambungnya.
Buffett menolak meminjami anak uang
Buffett, yang kini berusia 95 tahun, dianggap sebagai salah satu investor terbesar dalam sejarah.
Dijuluki “Oracle of Omaha”, mantan CEO Berkshire Hathaway itu sempat menjadi orang terkaya di dunia setelah menyalip Bill Gates pada 2008, dengan kekayaan bersih sekitar 62 miliar dollar AS.
Meski kini bukan lagi yang terkaya di dunia, Buffett masih berada di jajaran 10 besar orang terkaya dengan total kekayaan mencapai 146,1 miliar dollar AS.
Meski berlimpah harta, namun gaya hidup Buffett jauh dari kemewahan.
Dilansir dari Fortune, Buffett dikenal dengan gaya hidupnya yang hemat, termasuk makan di McDonald’s, mengemudikan mobil tua, serta tinggal di rumah sederhana yang dibelinya seharga 31.500 dollar AS pada 1958.
Selain selalu sederhana, Buffett juga dermawan. Ia telah menyumbangkan miliaran dollar untuk berbagai bidang, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga pengentasan kemiskinan.
Meski begitu, ia menetapkan batas tegas dalam hal anak-anaknya, dengan menekankan pentingnya kemandirian.
Buffett sendiri mencatat bahwa saat anak-anaknya benar-benar memahami besarnya kekayaan keluarga, mereka sudah lebih dulu membentuk identitas dan jalan hidup masing-masing.
“Anak-anak itu sudah terbentuk saat itu. Mereka tahu siapa teman-teman mereka, dan teman-teman itu bersama mereka karena suka, bukan karena mereka anak orang kaya di lingkungan,” ujarnya kepada Forbes.
Putrinya, Susan Buffett, pernah membagikan sebuah anekdot terkenal ketika ayahnya menolak permintaannya untuk meminjami 41.000 dollar AS guna merenovasi dapur, dan justru menyuruhnya pergi ke bank.
Buffett menjelaskan bahwa sebagaimana seorang quarterback, tidak otomatis bermain untuk Nebraska hanya karena ayahnya bermain di sana. Anak-anak juga tidak seharusnya mendapatkan keuntungan yang belum mereka peroleh sendiri.
Susan mengatakan bahwa ayahnya telah lama menanamkan prinsip tersebut kepada anak-anaknya.
“Saya justru sepakat dengan filosofi ayah yang tidak menumpahkan banyak uang kepada anak-anaknya,” ujarnya dalam wawancara pada 2017.
“Saya sangat bersyukur memiliki orangtua seperti mereka dan atas apa yang telah mereka berikan. Tapi tentu saja, dia tidak akan meninggalkan kami 50 miliar dollar, dan memang seharusnya tidak. Itu akan gila,” sambung Susan.
Peter sendiri saat ini berprofesi sebagai musisi, komposer, dan penulis. Ia pernah memenangkan Emmy Award tingkat regional dan menjadi penulis buku terlaris versi The New York Times. Ia juga dikenal sebagai filantropis dan pernah menjabat sebagai ketua bersama di NoVo Foundation.
Peter mengatakan, ketika orang-orang mempertanyakan apakah Buffett kecewa karena ia memilih musik alih-alih bisnis, ia selalu menjawab bahwa dirinya hanya mengikuti apa yang ia cintai, sesuatu yang selalu didorong oleh kedua orangtuanya.
“Jadi sebenarnya, tidak pernah terasa sulit menjadi anaknya,” pungkas Peter.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang