Jangan Langsung Kirim Pesan Saat Marah, Psikiater Sarankan Tunggu 30 Menit
Banyak konflik dalam hubungan terjadi karena emosi disampaikan secara spontan, terutama melalui pesan singkat.
Psikiater Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menyarankan anak muda memberi jeda sebelum merespons emosi agar konflik tidak semakin membesar.
Menurutnya, kemampuan mengatur emosi sangat penting untuk menjaga hubungan tetap sehat.
“Relasi yang sehat bukan tentang seberapa sering bersama menghabiskan waktu dengan senang gembira, tetapi seberapa aman, bertumbuh, dan dihargai dalam menjalankannya,” ujarnya dalam keterangan yang diterima Minggu (1/3/2026).
Kemampuan mengelola emosi menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga hubungan tetap sehat.
Kenali diri sebelum menjalin hubungan
Lahargo menjelaskan bahwa hubungan yang sehat dimulai dari pemahaman terhadap diri sendiri.
Seseorang perlu mengetahui kebutuhan emosional, nilai hidup, dan batasan yang tidak bisa ditoleransi. Kesadaran diri membantu seseorang memahami apa yang diharapkan dari sebuah hubungan.
Pemahaman ini juga membantu seseorang menilai apakah suatu hubungan membawa kebaikan atau justru merugikan.
Hubungan yang sehat biasanya terbentuk ketika kedua pihak memahami dirinya masing-masing.
Belajar mengatur emosi saat konflik
Ilustrasi emosi mudah meledak. Psikiater menyarankan anak muda menunda mengirim pesan saat marah selama 30 menit agar konflik dalam hubungan tidak semakin membesar.
Mengatur emosi menjadi hal penting ketika terjadi konflik dalam hubungan. Banyak orang menyesal setelah mengirim pesan panjang saat sedang marah.
Lahargo menyarankan untuk memberi jeda sebelum merespons emosi. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menunggu sekitar 30 menit sebelum mengirim pesan. Selama jeda tersebut, seseorang dapat menarik napas dan menenangkan diri terlebih dahulu.
Ia juga menyarankan untuk menuliskan pesan yang ingin disampaikan tanpa langsung mengirimkannya. Cara ini membantu seseorang berpikir lebih jernih sebelum merespons masalah.
Emosi yang tidak diatur sering merusak hubungan yang sebenarnya masih bisa diperbaiki.
Bedakan cinta dan obsesi
Hubungan yang sehat tidak dibangun atas dasar kepemilikan. Cinta yang sehat memberi ruang bagi pasangan untuk tetap menjadi dirinya sendiri. Lahargo menjelaskan bahwa cinta bukan tentang merasa tidak bisa hidup tanpa pasangan.
“Cinta bukan tentang: ‘Aku nggak bisa hidup tanpa kamu.’ Cinta yang sehat lebih seperti: ‘Aku memilih bersamamu, karena itu keinginanku dan itu membuatku lebih baik’,” ujarnya.
Sebaliknya, obsesi sering membuat seseorang ingin memiliki pasangan sepenuhnya. Perilaku seperti terus memeriksa lokasi, cemburu tanpa alasan jelas, atau mengontrol aktivitas pasangan bukan tanda cinta yang sehat.
Sikap tersebut justru dapat merusak hubungan dan memicu konflik yang berkepanjangan. Lahargo mengingatkan bahwa kemampuan mengelola emosi dan memahami batasan menjadi dasar penting dalam membangun hubungan yang sehat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang