Badai Matahari Terbesar dalam 20 Tahun Picu Aurora Meluas, Ini Dampaknya

aurora, badai Matahari, Badai Matahari Terbesar dalam 20 Tahun Picu Aurora Meluas, Ini Dampaknya

Badai matahari terbesar dalam 20 tahun mencapai Bumi pada awal pekan ini Senin (19/1/2026) hingga Selasa (20/1/2026).

Peristiwa ini memicu aurora meluas di berbagai wilayah lintang tinggi hingga menengah.

Aktivitas Matahari yang ekstrem tersebut juga kembali menyoroti dampak cuaca antariksa terhadap sistem teknologi modern yang digunakan secara global, termasuk di Indonesia.

Lantas, apa dampak badai Matahari terbesar ini?

Badai Matahari level tinggi capai Bumi

Badai matahari ini tercatat sebagai peristiwa terkuat sejak 2003 dan diklasifikasikan sebagai badai radiasi matahari dengan tingkat keparahan tinggi.

Space Weather Prediction Center (SWPC) menyebut peristiwa tersebut berkaitan dengan badai geomagnetik level G4 yang dipicu oleh Coronal Mass Ejection (CME).

CME tersebut berasal dari solar flare kelas X, jenis semburan Matahari paling intens, yang melontarkan partikel bermuatan berkecepatan tinggi menuju Bumi.

Ketika partikel itu mencapai medan magnet Bumi, gangguan pada sistem teknologi berpotensi terjadi, termasuk navigasi GPS dan satelit komunikasi.

SWPC mengaku telah mengingatkan berbagai lembaga dan operator infrastruktur penting sebelum badai tiba.

"Kami melakukan panggilan ke berbagai pihak untuk memastikan operator infrastruktur teknologi penting memahami apa yang sedang terjadi," kata Prakirawan SWPC Shawn Dahl, dikutip dari CNN, Senin (20/01/2026).

Aurora terlihat lebih ke selatan

Badai matahari ini memicu aurora borealis yang terlihat lebih ke selatan dari biasanya, terutama di sejumlah negara Eropa.

Fenomena aurora akibat badai matahari ekstrem terjadi ketika partikel energi tinggi dari Matahari berinteraksi dengan gas di atmosfer Bumi dan menghasilkan cahaya berwarna.

Dilansir dari BBC Sky at Night Magazine Selasa (21/1/2025), badai geomagnetik level G4 cukup kuat untuk memperluas jangkauan aurora hingga lintang yang jarang mengalaminya.

Kondisi ini menjadi indikator meningkatnya aktivitas Matahari dan dinamika cuaca antariksa.

Namun, orientasi medan magnet dalam CME memengaruhi wilayah yang mengalami aurora paling intens. Faktor tersebut membuat tampilan aurora tidak merata di seluruh belahan Bumi, meski energinya tergolong besar.

Risiko teknologi dinilai terkendali

Meski badai matahari terbesar dalam 20 tahun ini berdampak luas secara visual, ilmuwan menilai gangguan teknologi berskala besar tidak terjadi.

Ryan French, fisikawan surya dari University of Colorado Boulder, menyebut operator satelit telah mengambil langkah mitigasi sejak dini.

"Operator satelit memang mengambil tindakan, tetapi dampak teknologi yang meluas untuk publik secara umum tidak diperkirakan terjadi," terang French. 

SWPC dan badan pemantau cuaca antariksa lainnya menyatakan badai geomagnetik seperti ini tetap berisiko bagi navigasi GPS, komunikasi radio, dan sistem satelit, meski tidak selalu berujung pada gangguan masif.

Bagi Indonesia, dampak badai matahari ini bersifat tidak langsung, tetapi tetap relevan.

Indonesia bergantung pada satelit komunikasi, navigasi GPS, dan sistem penerbangan sipil yang juga rentan terhadap gangguan satelit dan fluktuasi radiasi matahari.

Ilmuwan menyebut Aktivitas Matahari meningkat awal 2026 dan masih berpotensi memicu lontaran lanjutan dalam beberapa hari ke depan.

Karena itu, badai matahari dan cuaca antariksa tetap menjadi perhatian global, termasuk terkait dampak badai matahari terhadap satelit dan GPS yang menopang aktivitas modern di berbagai negara.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang