Misteri Kecelakaan China Eastern Terkuak: Aliran Bahan Bakar Diputus, Pilot Sengaja Jatuhkan Pesawat
Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat merilis laporan terbaru, membuka petunjuk paling jelas sejauh ini mengenai penyebab kecelakaan tragis pesawat China Eastern Airlines MU5735 -- yang menabrak gunung pada 21 Maret 2022 dan menewaskan seluruh 132 orang di dalamnya.
Dalam dokumen yang dirilis 1 Mei sebagai respons atas permintaan catatan publik, NTSB memaparkan temuan dari perekam data penerbangan pesawat Boeing 737-800 yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. NTSB dilibatkan dalam investigasi oleh otoritas Tiongkok karena pesawat dan mesinnya diproduksi oleh perusahaan Amerika, serta reputasi penyelidik AS sebagai ahli analisis kotak hitam pascakecelakaan.
Data tersebut menguatkan dugaan lama bahwa tidak ada kerusakan teknis pada pesawat sebelum insiden, sekaligus mengarah pada kemungkinan keterlibatan awak di kokpit dan faktor kesengajaan yang memicu terjadi kecelakaan pesawat China Eastern Airlines menabrak gunung
Para ahli keselamatan penerbangan yang menelaah data itu sepakat bahwa suplai bahan bakar ke kedua mesin terputus, mesin dimatikan disusul manuver tajam yang membuat pesawat menukik dan berputar 360 derajat sebelum akhirnya menabrak gunung.
Namun, data tersebut belum mampu menjelaskan secara pasti apa yang terjadi di kokpit, karena otoritas penerbangan Tiongkok belum merilis laporan akhir mereka, meskipun standar internasional mendorong laporan keluar sekitar satu tahun setelah kecelakaan.
Tuas Bahan Bakar Sengaja Diputus
Salah satu temuan paling krusial dalam rilis NTSB adalah posisi tuas bahan bakar pada pesawat 737 yang secara desain, tidak dapat berpindah secara tidak sengaja. Tuas tersebut harus ditarik terlebih dahulu sebelum bisa digeser ke posisi mati.
John Cox, CEO Safety Operating Systems, menjelaskan bahwa tuas bahan bakar terkunci pada tempatnya, sehingga kecil kemungkinan kedua tuas itu berpindah tanpa disengaja. Indikasinya, seseorang secara aktif memindahkan keduanya ke posisi mati.
Data penerbangan berhenti ketika pesawat masih berada di ketinggian 26.000 kaki setelah kehilangan daya hidrolik dan listrik. Namun, rekaman 12 menit sebelumnya memberikan gambaran rangkaian kejadian yang tidak biasa.
Perekam suara kokpit sebenarnya masih berfungsi karena memiliki cadangan baterai, tetapi NTSB tidak merilis transkrip percakapan tersebut. Kewenangan publikasi detail itu berada di tangan otoritas Tiongkok.
Jeff Guzzetti, mantan penyelidik NTSB dan FAA, menilai pola pergerakan kendali pesawat menunjukkan kemungkinan adanya pergumulan di kokpit dan kecelakaan itu mungkin merupakan bunuh diri pilot. Telah ada sejumlah kasus serupa sebelumnya, termasuk penerbangan Germanwings yang jatuh di Pegunungan Alpen Prancis pada tahun 2015, menewaskan semua orang di dalamnya.
"Biasanya ketika Anda ingin memutar pesawat, itu adalah gerakan halus roda kemudi ke satu arah. Tetapi di sini Anda melihatnya bergerak bolak-balik, bolak-balik, seolah-olah seseorang mencoba melawan gerakan awal putaran," kata Guzzetti. "Jadi ini belum pasti, tetapi jelas memiliki ciri-ciri pergumulan di kokpit."
Temuan ini kembali mengangkat kekhawatiran lama dalam industri penerbangan global tentang bagaimana sistem memantau dan menangani kesehatan mental pilot.
Banyak pilot, menurut para ahli, enggan mencari bantuan karena khawatir kehilangan sertifikasi medis dan dilarang terbang, yang berarti tidak menerima gaji selama proses evaluasi yang bisa berlangsung berbulan-bulan. Di sejumlah negara, penggunaan obat antidepresan juga masih menjadi hambatan bagi pilot aktif.
"Jelas, pilot—dan sangat dapat dimengerti—seringkali enggan untuk maju, karena mengetahui bahwa untuk mendapatkan sertifikasi ulang setelah menjalani evaluasi kesehatan mental, itu bisa sangat sulit dan sangat panjang," kata Cox.
Guzzetti membandingkan pola ini dengan kecelakaan Germanwings tahun 2015 di Pegunungan Alpen Prancis, serta kasus EgyptAir 1999 yang juga diduga melibatkan tindakan sengaja dari awak kokpit. Ia juga menyinggung insiden 2023 ketika seorang pilot di luar tugas mencoba mematikan mesin pesawat Horizon Air saat berada di kokpit.
Tak Ada Masalah Teknis
Pesawat naas itu terbang dari Kunming menuju Guangzhou ketika tiba-tiba menukik dari ketinggian sekitar 8.800 meter. Pesawat sempat tampak pulih sebelum akhirnya menghantam lereng gunung, meninggalkan kawah sedalam 65 kaki dan membakar area hutan di sekitarnya.
Awak pesawat sebelumnya melaporkan tidak ada masalah kepada pengontrol lalu lintas udara. Penyelidik Tiongkok pada tahap awal juga menyatakan tidak menemukan kelainan pada pesawat, awak, maupun faktor eksternal seperti cuaca.
Cox menegaskan bahwa data terbaru dari NTSB juga tidak menunjukkan adanya kegagalan teknis.
Kecelakaan ini menjadi salah satu insiden paling mematikan dalam sejarah penerbangan modern Tiongkok, di tengah reputasi keselamatan yang telah meningkat drastis sejak era kecelakaan fatal pada 1990-an. China Eastern sendiri merupakan salah satu dari empat maskapai milik negara terbesar di negara tersebut.