Emas Cetak Rekor Sepanjang Sejarah Capai Harga Rp81 Juta, Analis Pede Bisa Tembus Cepe
Harga emas dunia mencetak rekor baru tertinggi sepanjang sejarah (all high time/ATH) pada perdagangan Rabu, 21 Januari 2026. Logam mulia berwarna kuning ini melampaui level US$4.800 atau sekitar Rp 81,2 juta per ons.
Kenaikan harga emas ini memperpanjang reli seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ancaman tarif dari Gedung Putih. Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memicu kekhawatiran terhadap perang dagang global.
Kenaikan harga ini kembali memicu perdebatan di kalangan investor soal seberapa jauh tren penguatan emas dapat berlanjut. Khususnya setelah tahun 2025 yang menjadi momentum spektakuler bagi komoditas logam mulia.
Ilustrasi memasang karpet dinding.
Memasuki tahun 2026, momentum emas dinilai masih sangat kuat didukung kombinasi sejumlah sentimen positif. Mulai dari meningkatnya tensi ketegangan geopolitik, penurunan suku bunga riil, serta upaya investor dan bank sentral mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Hasiil survei London Bullion Market Association (LBMA) terhadap sejumlah analis menunjukkan harga emas berpeluang menembus US$5.000 per ons tahun ini. Optimisme ini dilandasi kspektasi penurunan suku bunga riil AS, pelonggaran kebijakan Federal Reserve (The Fed) serta berlanjutnya diversifikasi cadangan bank sentral dengan melepas kepemilikan dolar AS.
Keyakinan juga datang Senior commodities strategist di ICBC Standard Bank, Julia Du, yang memandang ruang kenaikan emas masih sangat luas. Ia bahkan memperkirakan harga emas bahkan dapat mencapai US$7.150 atau Rp 121,1 juta per ons.
"Emas menjadi berita utama setelah tahun 2025," ujar Julia Du dikutip dari CNBC Internasional pada Rabu, 21 Januari 2026.
Goldman Sachs juga mengamini peluang emas akan bullish pada tahun ini. Perusahaan jasa keuangan multinasional global berbasis di New York melihat emas sebagai transaksi dengan tingkat keyakinan tertinggi dalam portofolionya.
"Emas tetap menjadi pilihan utama kami dalam jangka panjang atau skenario dasar, harganya pada akhir tahun ini adalah US$4.900,” ungkap Kepala Riset Komoditas Global di Goldman Sachs, Daan Struyven.
Struyven mengulas reli emas pada 2023 dan 2024 yang ditopang pembelian bank sentral. Sementara itu, lonjakan yang lebih agresif pada 2025 terjadi seiring meningkatnya permintaan dari sektor swasta dan erbagai kalangan, seperti perusahaan pengelola kekayaan (family office), manajer aset, hedge fund, hingga dana pensiun.
Kepala strategi logam MKS PAMP, Nicky Shiels, menyoroti geopolitik masih menjadi katalis kenaikan harga emas. Menurutnya, ketegangan geopolitik AS dalam merebut Venezuela belum menunjukkan tanda-tanda 'damai'.
Menurutnya justru muncul konflik baru setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara-negara di Eropa yang berbisnis dengan Venezuela. Kondisi ini justru semakin membuat investor berbondong-bondong memburu emas.
"Harga emas naik 60 persen jadi kita tidak akan melihat pengulangan kenaikan tersebut, tetapi US$5.400 merupakan kenaikan solid 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini adalah perdagangan jangka panjang, bukan puncak harga komoditas yang tiba-tiba," tegasnya.