Kamboja Ekstradisi Konglomerat Chen Zi ke China, Dalang Jaringan Scam Global

Konglomerat judi daring Kamboja Chen Zhi diekstradisi ke China
Konglomerat judi daring Kamboja Chen Zhi diekstradisi ke China

 Kamboja mengumumkan telah menangkap dan mengekstradisi Chen Zi ke China. Ia merupakan seorang konglomerat yang dituduh gembong dalam praktik perjudian dan penipuan (scamming) daring berskala besar di negara tersebut.

Kementerian Luar Negeri China mengkonfirmasi penangkapan Ketua Prince Holding Group, Chen Zhi, di Kamboja dan pemindahannya ke China merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam memberantas perjudian daring.

"Selama beberapa waktu, China telah aktif bekerja sama dengan negara-negara termasuk Kamboja untuk menindak kejahatan perjudian daring dan penipuan telekomunikasi dengan hasil yang signifikan. Pemberantasan perjudian daring dan penipuan telekomunikasi adalah tanggung jawab bersama komunitas internasional," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Kamis, 8 Januari 2026

Kementerian Dalam Negeri Kamboja menyebutkan bahwa Chen Zhi (38 tahun), Ketua Prince Holding Group, bersama dua warga negara China lainnya ditangkap dan diekstradisi ke China pada Selasa, 6 Januari 2025, atas permintaan otoritas China.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning

Dalam siaran televisi di China, Chen digambarkan sebagai "pemimpin sindikat kejahatan perjudian dan penipuan transnasional besar".

Chen, yang lahir di China dan merupakan warga negara China, sebelumnya sempat memiliki kewarganegaraan Kamboja yang kemudian dicabut. Ia kini menghadapi dakwaan dari Amerika Serikat dan Inggris atas berbagai tuduhan terkait penipuan dan pencucian uang.

"China siap bekerja sama dengan negara-negara tetangga termasuk Kamboja untuk meningkatkan kerja sama penegakan hukum, melindungi keselamatan jiwa dan harta benda masyarakat serta menjaga pertukaran dan kerja sama antara negara-negara kawasan," ungkap Mao Ning.

Jaksa penuntut Amerika Serikat menuduh Chen sebagai dalang penipuan siber multinasional, menggunakan jaringan bisnisnya untuk pencucian uang, serta melakukan kekerasan terhadap para pekerja.

Pihak berwenang AS juga menyita aset milik Chen Zhi, termasuk properti senilai sedikitnya 100 juta dolar AS serta mata uang kripto senilai 14 miliar dolar AS.

Chen dituduh menipu sekitar 250 warga Amerika hingga menyebabkan kerugian jutaan dolar, dengan salah satu korban dilaporkan kehilangan 400.000 dolar AS dalam bentuk mata uang kripto.

Prince Group disebut mengoperasikan lebih dari 100 bisnis di 30 negara, dengan pusat-pusat penipuan yang sebagian besar berlokasi di Kamboja dan Myanmar, yang menargetkan korban di berbagai negara.

Sementara itu, otoritas Inggris telah membekukan bisnis dan aset Chen di Inggris, termasuk sebuah rumah mewah senilai 12 juta euro serta gedung perkantoran di London yang nilainya mencapai 100 juta euro.

Di Singapura, penyelidikan baru dimulai pada 30 Oktober setelah otoritas setempat mengumumkan penyitaan aset keuangan milik Chen senilai lebih dari 150 juta dolar Singapura (114 juta dolar AS) serta satu kapal pesiar.

Di Taiwan, polisi menyita 26 mobil mewah, termasuk Ferrari, Bugatti, dan Porsche, sementara polisi Hong Kong menyita berbagai aset keuangan. Ketiga otoritas tersebut saat ini tengah melakukan penyelidikan terhadap Chen.

Namun, hingga kini belum jelas dakwaan apa yang secara resmi akan dihadapi Chen. Media lokal China menyebut Chen Zhi sebagai otak di balik salah satu jaringan penipuan daring lintas negara terbesar.

Kelompok kriminal yang dipimpinnya disebut menggunakan bisnis legal sebagai kedok untuk menjalankan berbagai modus penipuan, termasuk skema "sha zhu pan" atau penipuan asmara dan investasi. Dalam modus ini, korban yang tidak menyadari penipuan dibujuk untuk menyerahkan uang, yang kemudian dipindahkan melalui mata uang kripto.

Chen Zhi disebut lahir pada 1987 di sebuah desa nelayan kecil di Provinsi Fujian. Ia dilaporkan tidak menamatkan pendidikan menengah dan merantau sejak usia muda.

Ia pernah mendirikan perusahaan gim daring dan sempat terlibat dalam pembajakan server gim ilegal. Pada 2010, Chen Zhi melarikan diri ke Kamboja dengan membawa hasil kejahatan dan membangun identitas baru sebagai "pengembang properti". Pada 2014, ia memperoleh kewarganegaraan Kamboja.

Pada 2015, Chen mendirikan Prince Group dengan fokus pada pengembangan properti, kemudian membangun Prince Bank, dan pada 2020 bahkan mendirikan sebuah maskapai penerbangan di Kamboja.

Sejak 2017, Chen Zhi pernah menjabat sebagai penasihat sejumlah menteri hingga perdana menteri. Media Kamboja menggambarkan Chen Zhi sebagai “dermawan yang murah hati”.

Sebelumnya, Prince Group membantah keterlibatan dalam praktik penipuan dan mengklaim telah memutus hubungan dengan kawasan penipuan daring.

Namun, laporan media menyebutkan bahwa hingga 2025, Prince Group masih mengendalikan lebih dari 10 lokasi ilegal di Kamboja. Dua di antaranya bahkan memiliki "peternakan ponsel" dengan sekitar 1.250 unit ponsel dan mengoperasikan lebih dari 76.000 akun media sosial palsu untuk melakukan penipuan.