Menolak Tunduk ke AS, Siapa Delcy Rodriguez yang Kini Pimpin Venezuela?
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, menegaskan negaranya tidak akan tunduk kepada tekanan Amerika Serikat (AS), meski Washington mengklaim telah mengambil kendali atas Venezuela usai menggulingkan Presiden Nicolas Maduro. Sikap tersebut disampaikan Rodriguez dalam sebuah upacara untuk mengenang 100 warga Venezuela yang tewas selama serangan AS.
“Kami tidak tunduk atau ditaklukkan,” kata Rodriguez, sebagaimana dilansir AFP, Jumat, 9 Januari 2026.
Pernyataan keras itu muncul di tengah situasi politik yang bergejolak, menyusul laporan penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan Amerika Serikat dalam sebuah operasi militer. Insiden tersebut mengguncang stabilitas Venezuela dan memicu ketegangan baru dalam hubungan Caracas–Washington.
Di tengah kekosongan kepemimpinan, Delcy Rodriguez tampil ke publik dan bersikeras bahwa Maduro tetap merupakan satu-satunya presiden Venezuela yang sah. Namun, hanya berselang beberapa jam, dinamika politik berubah cepat.
Militer Venezuela yang sebelumnya menyatakan kesetiaan kepada Maduro, mengakui Delcy Rodriguez sebagai pemimpin sementara. Sehari kemudian, Mahkamah Agung Venezuela melantiknya sebagai presiden “dalam kapasitas sementara”, menjadikannya perempuan pertama yang memimpin Venezuela, meski dalam status transisi.
Siapa Delcy Rodriguez?
Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez
Melansir dari France 24, Delcy Rodriguez sendiri merupakan seorang pengacara berusia 56 tahun dengan spesialisasi hukum ketenagakerjaan. Ia menghabiskan hampir satu dekade di Prancis dan Inggris untuk menempuh pendidikan pascasarjana.
Ia berasal dari keluarga aktivis kiri. Saudaranya, Jorge Rodriguez, merupakan Ketua Parlemen Venezuela dan tokoh penting Partai Sosialis Bersatu Venezuela. Ayah mereka adalah aktivis Marxis yang meninggal dunia dalam tahanan pada 1976.
Karier politiknya dimulai pada era Presiden Hugo Chavez, ketika ia menjabat sebagai wakil menteri urusan Eropa dan memegang sejumlah peran penting lainnya di pemerintahan.
Ia juga merupakan salah satu pejabat Venezuela yang dikenai sanksi internasional. Pada 2018, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadapnya dengan tuduhan membantu Maduro “mempertahankan cengkeraman kekuasaan”.
Sanksi tersebut meliputi larangan masuk ke AS dan pembatasan transaksi keuangan dengan entitas Amerika. Uni Eropa juga menjatuhkan sanksi pada tahun yang sama dengan tuduhan merusak demokrasi dan supremasi hukum di Venezuela.
Di bawah kepemimpinan Nicolas Maduro, Rodriguez menjadi salah satu figur paling berpengaruh. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri, kemudian diangkat menjadi Wakil Presiden pada 2018. Pada 2024, ia juga dipercaya memegang jabatan Menteri Perminyakan, posisi strategis di negara yang perekonomiannya sangat bergantung pada ekspor minyak.
Venezuela sendiri diketahui memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia. Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa akses terhadap minyak Venezuela merupakan tujuan utama kebijakan Washington terhadap negara tersebut.
Para penasihat Trump menilai Rodriguez sebagai figur teknokrat yang pragmatis dan memiliki pengetahuan mendalam tentang sektor minyak serta hubungan dengan sektor swasta. Menurut sejumlah sumber yang mengetahui strategi AS, Rodriguez dipandang berpotensi menjadi mitra dalam proses transisi politik dan pengelolaan isu minyak.
Meski demikian, Rodriguez secara terbuka membantah klaim Trump yang menyebut dirinya siap bekerja sama dengan AS. Analis politik Pedro Benitez dari Central University of Venezuela menilai Rodriguez sebagai salah satu orang kepercayaan Maduro.
“Dia mungkin merupakan salah satu orang yang paling dipercaya Maduro selama bertahun-tahun,” katanya.
Pada periode 2020–2024, saat menjabat sebagai Wakil Presiden dan Menteri Ekonomi, Rodriguez mulai melunakkan retorikanya dan mengambil langkah pragmatis dengan melonggarkan kontrol perdagangan di ekonomi yang telah terdolarisasi secara de facto. Kebijakan tersebut memberi ruang bernapas bagi kalangan pelaku usaha, meski sebagian pengkritik menilainya sebagai langkah yang bersifat oportunistis.
Kini, dengan tekanan internasional yang kuat, ancaman sanksi, serta ketidakpastian arah pemilu, Delcy Rodriguez lah yang berada di pusat pusaran politik Venezuela dan menjadi figur kunci dalam menentukan masa depan negara tersebut.