Rebutan 'Emas Hitam' di Negara Kaya Minyak
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sukses menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dua hari usai Tahun Baru 2026.
Ia ingin menguasai minyak mentah negara tersebut. Namun, China sudah berinvestasi di Venezuela sejak awal 2000. Apakah, Beijing akan tersingkir dari Amerika Latin?
Mengutip situs NBCNews, Senin, 12 Januari 2026, para ahli mengatakan bahwa China, yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia, kemungkinan besar tidak akan tergusur dari Amerika Latin, tempat negara itu telah berinvestasi dan membina hubungan selama lebih dari 20 tahun sementara perhatian AS fokus di tempat lain.
Meskipun Pemerintahan Trump dilaporkan telah memerintahkan Venezuela untuk memutuskan hubungan ekonomi dengan Beijing, Menteri Energi AS Chris Wright mengaku jika negaranya tidak akan memutus pasokan minyak mentah Venezuela dari China. "Mereka (China) akan terus membelinya. Sama seperti negara-negara lain di dunia," klaim dia.
Akan tetapi, China sama sekali tidak bergantung pada Venezuela untuk minyak mentah. Meskipun Beijing membeli sebagian besar ekspor minyak mentah Venezuela, jumlah tersebut hanya mencakup persentase satu digit dari total pembelian 'emas hitam' China.
Meskipun demikian, Beijing mengecam keras serangan AS terhadap Venezuela dan klaimnya atas minyak mentah negara tersebut, dengan mengatakan, 'hak dan kepentingan sah China dan negara-negara lain di Venezuela harus dilindungi'.
“Penggunaan kekuatan yang sembrono oleh Amerika Serikat terhadap Venezuela dan tuntutannya agar Venezuela melepaskan sumber daya minyaknya berdasarkan prinsip 'Amerika Pertama' merupakan perilaku intimidasi,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning.
Sementara itu, Penjabat Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, menyambut baik dukungan tersebut, dan mengatakan kalau dirinya sudah bertemu dengan Duta Besar China untuk Venezuela, Lan Hu.
“Kami menghargai sikap tegas dan konsisten China dalam mengutuk keras pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan kedaulatan Venezuela,” kata Rodríguez dalam sebuah unggahan di Telegram, menurut Reuters, merujuk pada penangkapan tidak manusiawi Nicolas Maduro oleh Delta Force, pasukan khusus AS, dan CIA.
Meskipun Venezuela adalah satu-satunya mitra strategis 'sepanjang masa' China di Amerika Latin, hubungan tersebut memburuk selama 12 tahun Pemerintahan Maduro, dengan perdagangan bilateral dan investasi China menurun karena Venezuela tertinggal dalam pembayaran pinjaman miliaran dolar AS kepada China dan mengalami penurunan produksi minyak mentah.
Venezuela adalah negara pemegang cadangan minyak mentah terbesar di dunia yang terkonfirmasi melebihi 300 miliar barel. Namun, karena manajemen yang buruk oleh perusahaan minyak milik negara Venezuela (PDVSA) dan sanksi AS, produksi saat ini telah turun menjadi 1 juta barel per hari, sepertiga dari puncaknya (3 juta barel per hari).
Klaim AS untuk 'merebut kembali minyak yang dicuri' berakar dari deklarasi nasionalisasi pada 2007 oleh Presiden Venezuela saat itu, Hugo Chávez. Ia secara paksa menyita aset perusahaan minyak besar AS seperti ExxonMobil dan ConocoPhillips. Saat ini, Chevron adalah satu-satunya perusahaan besar Barat yang tersisa di Venezuela.