Saham Chevron Melejit di Atas 5 Persen Setelah AS Tangkap Maduro

Ilustrasi Chevron
Ilustrasi Chevron

Perusahaan energi asal Amerika Serikat (AS), Chevron, memperoleh keuntungan di tengah eskalasi ketegangan geopolitik AS dan Venezuela yang semakin memanas. Saham Chevron mencetak lonjaan pesat setelah perdagangan selesai waktu setempat pada Senin, 5 Januari 2026. 

Saham Chevron menguat 5,2 persen ke level US$163,85. Kenaikan saham terjadi tepat setelah pasukan AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro menyusul perintah dari Washington memberi sinyal untuk mengambil alih kendali negara kaya minyak tersebut.

Di tengah aksi menggulingkan pemimpin Venezuela, pelaku pasar cenderung beriskap optimis terhadap fundamental Chevron. Perusaahaan asal AS ini menjadi satu-satunya  yang masih beroperasi di Venezuela.

Bagi investor, potensi keuntungan Chevron tidak semata berasal dari lonjakan produksi dalam waktu singkat. Pasar melihat perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi, produksi, penyulingan, pemasaran hingga distribusi ini memiliki peran strategis karena memiliki aset, tenaga kerja, dan kemitraan di Venezuela.

Chevron Corporation Akan PHK hingga 9.100 Karyawan Secara Bertahap

Chevron mengekspor sekitar 150.000 barel per hari (bpd) minyak mentah Venezuela ke wilayah Pantai Teluk AS. Minyak Venezuela dikenal sebagai heavy sour crude, yakni minyak kental dengan kandungan sulfur tinggi yang sangat cocok untuk diolah oleh kilang-kilang di AS bagian selatan.

Posisi ini menjadikan Chevron dipandang sebagai pihak yang paling siap diuntungkan jika kebijakan AS berubah dan membuka ruang aktivitas yang lebih luas. Sehingga setiap perubahan akses terhadap pasokan ini dinilai berdampak langsung terhadap pasar energi.

Chevron memiliki katalis positif yang berpotensi mendorong saham dalam jangka pendek. Perusahaan berencana menggelar rapat kinerja kuartalan yang akan dihadiri oleh CEO Mike Wirth dan CFO Eimear Bonner pada Jumat, 30 Januari 2026.

Di satu sisi, risiko makro membayangi koreksi saham Chevron. Laporan Employment Situation AS untuk Desember yang dirilis Jumat, 9 Januari, berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga dan prospek pertumbuhan, yang berdampak langsung pada saham-saham sektor energi.

Perusahaan minyak nasional Venezuela, PDVSA, dilaporkan mulai memangkas produksi setelah blokade ekspor AS membuat pengiriman minyak turun hingga nol. Kargo Chevron yang sebelumnya masih bisa bergerak berdasarkan lisensi khusus AS juga terhambat sejak Kamis pekan lalu.

Kondisi ini membayangi reli saham Chevron terhadap risiko koreksi jangka pendek. Namun, Chevron menegaskan operasionalnya tetap berjalan normal sesuai dengan seluruh hukum dan regulasi yang berlaku meski tidak merinci kondisi terbaru aktivitas pengapalan.

Kinclongya saham Chevron sejalan kenaikan harga minyak mentah global. Minyak Brent ditutup menguat US$1,01 ke level US$61,76 per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak US$1 menjadi US$58,32 per barel meski sempat berfluktuasi sepanjang sesi.

Global Head of Sector Analysts di Third Bridge, Peter McNally, menuturkan optimisme pasar terhadap skenario pembukaan kembali Venezuela masih terlalu dini. Ia menegaskan, pemulihan industri minyak Venezuela membutuhkan investasi besar.

“Jelas bahwa dibutuhkan puluhan miliar dolar untuk memulihkan industri itu," ungkap Peter dikutip dari TechStock pada Selasa, 6 Januari 2026. 

Presiden AS Donald Trump menegaskan embargo minyak AS terhadap Venezuela masih berlaku. Sementara itu, Chevron terus menavigasi kebijakan dan izin yang berubah-ubah dalam setahun terakhir.  

Jika blokade ekspor berlanjut dan ketidakpastian politik meningkat, potensi keuntungan Chevron dari Venezuela berisiko tertahan dan tidak segera terealisasi. Ketidakpastian politik di dalam Venezuela dan volatilitas kebijakan di Washington menambah lapisan risiko pelaksanaan lainnya.

Saat ini, investor bersikap menunggu dan mencermati (wait and see) dua agenda penting yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham Chevron dan pasar minyak ke depan.

Pertama, rencana pembicaraan antara pemerintahan Presiden Donald Trump dan para eksekutif perusahaan minyak pada akhir pekan ini. Keputusan ini berpotensi membuka sinyal perubahan embargo atau perizinan ekspor minyak yang menjadi faktor kunci yang menentukan kelanjutan operasional dan prospek bisnis perusahaan energi AS, khususnya Chevron.

Kedua, perhatian investor mengarah pada laporan kinerja keuangan Chevron yang dijadwalkan rilis pada 30 Januari 2026. Laporan dianggap sebagai katalis penting karena akan memberikan gambaran konkret mengenai kinerja, proyeksi bisnis, serta risiko yang dihadapi perseroan di tengah ketidakpastian geopolitik.