Ini 4 Tipe Orangtua yang Tidak Dewasa Secara Emosional
Hubungan orangtua dan anak yang terasa melelahkan tak selalu berkaitan dengan sifat orangtua yang "toxic” atau “narsistik”.
Kondisi tersebut kerap dijelaskan sebagai orangtua yang tidak dewasa secara emosional, yakni orangtua yang kesulitan mengelola emosi dan stres sehingga tidak mampu merespons kebutuhan emosional anak secara konsisten.
Psikolog klinis Lindsay C. Gibson menjelaskan bahwa orangtua dengan ketidakmatangan emosional tidak selalu bersikap buruk setiap waktu.
“Orangtua tersebut sebenarnya memiliki sisi baik. Masalahnya, kehadiran emosional mereka terjadi sesuai jadwal dan kondisi perasaan orangtua itu sendiri, bukan berdasarkan kebutuhan anak,” ujarnya, dikutip dari Business Insider, Senin (5/1/2026).
Gibson menilai, kondisi ini dapat menjadi sumber masalah dalam hubungan orangtua dan anak ketika kehadiran emosional orangtua tidak konsisten.
Saat menghadapi konflik, kritik, atau emosi yang tidak nyaman, mereka dapat bereaksi berlebihan, menarik diri, atau bahkan menghilang, sehingga anak merasa harus “berjalan di atas kulit telur”.
Empat tipe orangtua yang tidak dewasa secara emosional
Gibson mengelompokkan orangtua yang tidak dewasa secara emosional ke dalam empat tipe utama. Meski satu orangtua bisa menunjukkan lebih dari satu ciri, biasanya ada satu pola yang paling dominan.
1. Orangtua yang reaktif
Orangtua tipe ini dapat terlihat hangat dan penuh perhatian selama situasi berjalan sesuai keinginan mereka.
Namun, ketika merasa terganggu, respons emosionalnya bisa berubah drastis menjadi marah atau tidak stabil.
Anak yang tumbuh dengan orangtua reaktif kerap berkembang menjadi pribadi yang terlalu berhati-hati, sulit menetapkan batasan, dan cenderung menjadi people pleaser demi menghindari konflik.
“Mereka membuat hidup menjadi tidak menyenangkan ketika mereka marah sehingga orang-orang secara otomatis mulai berpikir dua kali sebelum berbicara atau melakukan sesuatu,” kata Gibson.
2. Orangtua yang sangat kritis
Tipe ini ditandai dengan standar tinggi dan kecenderungan mengkritik hampir setiap aspek kehidupan anak, mulai dari prestasi hingga pilihan hidup saat dewasa.
“Mereka bisa sangat memaksa dan sangat mengontrol,” ucap Gibson.
Gibson menjelaskan, pola ini berangkat dari keyakinan bahwa kesuksesan hanya bisa diraih melalui dorongan keras dan tuntutan untuk selalu sempurna.
Pola ini dapat membuat anak merasa tidak pernah cukup baik, rentan mengalami kelelahan mental, atau memilih jalan hidup demi memenuhi ekspektasi orangtua, bukan keinginannya sendiri.
3. Orangtua pasif
Orangtua pasif sering tampak menyenangkan dan hadir dalam momen ringan. Namun, saat anak membutuhkan perlindungan atau dukungan emosional, mereka cenderung menghindar demi menjaga kenyamanan keluarga.
“Mereka tampak tidak merasa perlu untuk turun tangan dalam membantu anak,” tutur Gibson.
Anak yang dibesarkan dalam pola ini sering belajar menekan perasaan dan kesulitan membangun hubungan yang sehat di kemudian hari.
4. Orangtua yang tidak hadir secara emosional
Orangtua tipe ini minim respons terhadap kebutuhan emosional anak dan bersikap seolah anak tidak cukup penting untuk mendapatkan perhatian.
“Anak itu merasa tidak cukup penting untuk mendapatkan perhatian orangtuanya,” ujar Gibson.
Dampaknya, anak dapat tumbuh dengan harga diri rendah dan terbiasa menerima hubungan yang dingin atau tidak responsif di masa dewasa.
Menghadapi orangtua yang tidak dewasa secara emosional memang tidak mudah. Namun, menetapkan batasan yang jelas dan merespons secara tenang dapat membantu mengurangi konflik.
Dalam situasi tertentu, mengurangi intensitas komunikasi juga bisa menjadi pilihan untuk menjaga kesehatan mental.
Meski terasa berat, para ahli menilai pola hubungan yang tidak sehat tetap dapat diubah dengan mempertahankan batasan dan memprioritaskan relasi yang lebih aman secara emosional.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang