Contoh Kalimat Validasi untuk Anak Sesuai Usia, Panduan untuk Orangtua
Banyak orangtua kerap bingung saat anak rewel atau marah. Kuncinya bukan buru-buru memberi solusi, melainkan memberi validasi pada perasaan mereka.
Kelsey Mora, spesialis kehidupan anak bersertifikat dan konselor profesional klinis menuturkan, validasi bisa membuat anak merasa aman dan didengar di setiap tahap usia.
“Anak-anak perlu merasa dilihat, didengar, dan dipercaya. Ketika anak-anak merasa divalidasi, mereka merasa aman. Dan rasa aman adalah fondasi bagi pengaturan emosi, komunikasi, dan koneksi,” ujar Mora, dilansir dari CNBC Make it, Senin (15/9/2025).
Ia menambahkan, rasa aman inilah yang menjadi dasar anak belajar mengelola emosi dan membangun kepercayaan diri.
Berikut panduan kalimat validasi yang bisa digunakan orangtua sesuai usia anak, seperti dibagikan Mora.
Kalimat validasi orangtua untuk anak sesuai usia
Usia 0–2 tahun: “Ibu di sini"
Validasi membuat anak merasa aman, didengar, dan dipercaya. Simak panduan kalimat validasi yang bisa digunakan orangtua sesuai tahap usia anak.
Untuk bayi dan balita, validasi terasa lewat kehadiran dan nada suara. Ucapan singkat seperti “Ibu di sini” sambil tetap dekat dengan anak, menunjukkan bahwa orangtua mampu menemani saat sulit.
Mora menyarankan orangtua juga menenangkan diri dengan menarik napas yang dalam agar anak ikut merasakan ketenangan.
Usia 3–5 tahun: “Kamu enggak mau pulang ya?”
Validasi membuat anak merasa aman, didengar, dan dipercaya. Simak panduan kalimat validasi yang bisa digunakan orangtua sesuai tahap usia anak.
Di usia prasekolah, anak sering mengekspresikan emosi lewat perilaku. Orangtua bisa menyebutkan apa yang dilihat agar anak punya kata-kata untuk emosinya.
Misalnya, “Kamu melempar mainan karena kesal. Bisa coba cara yang lebih aman?”
Kalimat ini seperti mengakui perasaan si kecil sekaligus mengarahkan ke cara berekspresi yang lebih sehat.
Usia 6–9 tahun: “Wajar kok kamu kecewa"
Validasi membuat anak merasa aman, didengar, dan dipercaya. Simak panduan kalimat validasi yang bisa digunakan orangtua sesuai tahap usia anak.
Anak-anak usia sekolah mulai merasakan emosi yang lebih dalam, tapi kerap ragu apakah perasaan mereka wajar.
Menurut Mora, pengakuan sederhana bahwa kecewa itu wajar dapat membantu anak membangun kepercayaan diri menghadapi tantangan.
Usia 10–12 tahun: “Boleh kok ngerasa kesal”
Validasi membuat anak merasa aman, didengar, dan dipercaya. Simak panduan kalimat validasi yang bisa digunakan orangtua sesuai tahap usia anak.
Praremaja mulai paham bahwa sebuah masalah bisa dilihat dari banyak sisi.
Validasi di tahap ini membantu mereka mengakui perasaan sendiri, lalu memikirkan langkah berikutnya. Setelah divalidasi, anak biasanya lebih siap memecahkan masalah sendiri.
Usia 13 tahun ke atas: “Ibu denger cerita kamu”
Validasi membuat anak merasa aman, didengar, dan dipercaya. Simak panduan kalimat validasi yang bisa digunakan orangtua sesuai tahap usia anak.
Remaja membutuhkan ruang untuk mengekspresikan emosi tanpa merasa dihakimi. Memberi kalimat yang menegaskan pengalaman mereka dan menghargai kepercayaan yang diberikan, membuat mereka mau terus terbuka.
Semakin aman remaja merasa, semakin besar kemungkinan mereka mencari dukungan saat butuh bantuan.
Mora menekankan, validasi bukan berarti membenarkan semua perilaku. Orangtua tetap perlu memberi batasan, tetapi dengan cara yang menenangkan.
Ia lantas berbagi pengalamannya bekerja dengan lebih dari 1.000 anak yang menghadapi beragam situasi, mulai dari rawat inap hingga kehilangan orang terdekat.
Ia berkali-kali menyaksikan bagaimana validasi sederhana dari orangtua bisa membantu anak menenangkan diri.
“Kapan pun anak kesal, entah Anda setuju atau tidak, mengerti atau tidak, mereka perlu merasa Anda memercayai mereka sebelum mereka dapat beralih ke mode pemecahan masalah,” jelasnya.
Kehadiran yang tenang dan kata-kata yang tepat membantu anak beralih dari “otak perasaan” ke “otak berpikir” sehingga mereka bisa lebih jernih melihat masalah.
Bagi orangtua, cara ini memang tampak sederhana, tapi dampaknya besar. Validasi bukan hanya menenangkan anak, tetapi juga membangun hubungan yang lebih erat.
“Semakin aman seorang anak merasa, semakin besar kemungkinan mereka untuk terus terbuka tentang perjuangan mereka dan mencari dukungan saat membutuhkannya,” pungkas Mora.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.