Anak Marah saat HP Diambil Tanda Kecanduan Gadget, Begini Saran Psikolog untuk Mengatasinya

Anak-anak bermain gadget
Anak-anak bermain gadget

 Fenomena anak-anak yang marah atau tantrum saat gawainya diambil bukan lagi hal asing di era digital. Namun, di balik reaksi tersebut, para ahli mengingatkan bahwa itu bisa menjadi gejala awal dari kecanduan digital (digital addiction). 

Psikolog Poppy Amalya, M.Psi., Psikolog., CHT., M.NLP, menegaskan pentingnya orangtua memahami dunia digital yang kini sudah menjadi bagian dari keseharian anak, terutama generasi Alpha.

“Anak-anak sekarang sudah bisa browsing ke mana-mana. Mereka bukan hanya pengguna, tapi juga kreator dan konsumen digital yang aktif,” ujar Poppy dalam gelaran Festival Anak Indonesia 3.0 yang digelar PPLIPI, di The Park Pejaten, Jakarta Selatan, Minggu 7 September 2025.

Ferry Soraya,  Indah Surya Dharma Ali dan Kartika Yudhisti.

Ferry Soraya, Indah Surya Dharma Ali dan Kartika Yudhisti.

Menurutnya, orangtua tak bisa lagi pasif dan hanya bertindak sebagai pengontrol, namun perlu hadir sebagai pendamping yang memahami kebutuhan emosional anak.

Di tengah gempuran teknologi, Poppy menekankan pentingnya koneksi emosional sebagai fondasi utama dalam tumbuh kembang anak. 

“Anak-anak butuh didengar dan dipahami, bukan sekadar dikontrol,” tambahnya. 

Ia menyoroti bahwa perhatian orangtua kini sering kali tergantikan oleh gadget, sehingga anak belajar mencari perhatian dari layar, bukan dari hubungan nyata.

Generasi Alpha yang lahir di era digital dikenal sebagai generasi yang sangat adaptif terhadap teknologi, multitasking, kreatif, serta sadar isu kesehatan dan lingkungan. 

Namun, kemudahan akses terhadap informasi juga membawa tantangan baru, seperti overexposure terhadap konten negatif, kurangnya kontrol emosi akibat stimulasi berlebihan, hingga pola asuh pasif di mana anak dibiarkan berjam-jam menatap layar.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak usia dua tahun yang terpapar screen time lebih dari dua jam per hari memiliki risiko 2,7 kali lebih tinggi mengalami keterlambatan bicara (speech delay). Lebih jauh lagi, screen time berlebih berdampak negatif pada perkembangan kognitif, motorik, bahasa, fisik, hingga sosial emosional anak.

“Pemakaian gadget yang tidak terkontrol bisa membuat anak kurang percaya diri. Mereka jadi tergantung pada validasi dari media sosial atau permainan digital,” ujar Poppy.

Poppy pun mendorong orangtua untuk mengedepankan pola asuh yang aktif dan responsif, bukan reaktif. Berdamai dengan teknologi bukan berarti menyerah, tapi membangun relasi yang sehat dengan digitalisasi—dimulai dari rumah.

Perayaan Hari Anak Nasional

Perhimpunan Perempuan Lintas Profesi Indonesia (PPLIPI) menggelar Festival Anak Indonesia untuk mengembangkan bakat dan percaya diri.

Ketua Umum PPLIPI, Indah Suryadharma Ali, mengatakan, festival ini lahir dari kepedulian perempuan lintas profesi terhadap isu-isu perempuan dan anak.

“Kami berhimpun di wadah organisasi ini karena peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan perempuan. Dalam struktur organisasi, ada wakil Ketua umum di berbagai bidang. Khusus kegiatan ini merupakan program signature dari bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang terus menerus kami jalankan,” ujar Indah.

Indah mengatakan, selain fokus pada anak, kegiatan ini berkolaborasi dengan bidang lain di PPLIPI seperti ekonomi dan kesehatan.

“Kegiatan ini juga berkolaborasi dengan bidang ekonomi, kesehatan, dan lainnya. Contohnya hari ini kami juga menghadirkan UMKM binaan dalam P2LIPI Bazaar,” ucap Indah

Sementara itu, Ketua Pelaksana acara sekaligus Wakil Ketua Umum bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kartika Yudhisti menegaskan, Festival Anak Indonesia merupakan agenda tahunan dalam rangka memperingati Hari Anak  Nasional.

“Festival Anak Indonesia ini merupakan program signature dari P2LIPI, khususnya dari bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Tujuan utamanya dalam rangka Hari Anak Nasional, kami ingin memberikan wadah bagi anak-anak untuk menampilkan bakat dan talentanya,” jelas Kartika.

Kartika menuturkan, dalam festival yang sudah memasuki tahun ketiga ini, berbagai kegiatan digelar, mulai dari lomba menggambar dan mewarnai, lomba fashion show, hingga lomba menyanyi.

“Mudah-mudahan dengan adanya acara ini, anak-anak memiliki tempat untuk menampilkan bakatnya, menghasilkan karya, dan menambah rasa percaya diri,” tutur Kartika.

Tidak hanya untuk anak-anak, tahun ini kata Kartika gelaran Festival Anak Indonesia juga menambahkan Talkshow Parenting dengan tema “Mendidik dengan Hati di Era Digital” guna memberi wawasan bagi para orang tua.

“Jadi selain anak-anaknya, kami juga ingin orang tua mendapat tambahan pengetahuan dalam mendidik anak sesuai tantangan zaman,” ungkap Kartika.

Adapun kata Kartika, jumlah peserta yang mengikuti lomba sebanyak 180 orang. Untuk menggambar dan mewarnai hampir 120 orang, sisanya mengikuti lomba menyanyi dan fashion show. Rentang usia yang mengikuti lomba yakni 4 tahun sampai 12 tahun,” kata Kartika.