Bug Hunter Lulusan SMK Purbalingga Masuk Hall of Fame NASA, Punya Mimpi Menjadi Polisi Siber

bug hunter, Bug Hunter Lulusan SMK Purbalingga Masuk Hall of Fame NASA, Punya Mimpi Menjadi Polisi Siber, Berawal dari Jalan yang Tak Direncanakan, Rasa Penasaran Rehan yang Mengubah Arah Hidup, Rehan Belajar Otodidak Bermodal Ponsel, Rehan Memilih Jalur Etis dalam Bug Hunting, Rehan Temukan Ribuan Data Bocor di Daerah Sendiri, Rehan Mendapat Puluhan Sertifikat dan Apresiasi Internasional, Rehan Raih Penghasilan dari Bug Hunting, Dukungan Orang Tua Jadi Kekuatan Utama Rehan, Mimpi Rehan Menjadi Polisi Siber

Seorang pemuda asal Desa Tunjung Muli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, mencuri perhatian lewat kiprahnya di dunia keamanan siber.

Aan Rehan (18), lulusan SMK Mutu Tunjung Muli jurusan agribisnis, dikenal sebagai bug hunter yang aktif menemukan celah keamanan sistem digital.

Ketertarikannya pada dunia siber tumbuh secara otodidak sejak masih duduk di bangku sekolah.

Bahkan sebelum lulus, Rehan telah mendapat pengakuan dari berbagai lembaga nasional hingga internasional.

Berawal dari Jalan yang Tak Direncanakan

Sebelum menekuni dunia keamanan digital, Rehan mengenyam pendidikan di SMP Negeri 4 Karangmoncol.

Setelah lulus, ia sempat mendaftar ke sekolah negeri, namun tidak diterima. Kondisi tersebut justru membawanya masuk ke SMK Tunjung Muli dan memilih jurusan agribisnis.

Meski awalnya bukan pilihan utama, Rehan mengaku mulai menyukai bidang tersebut.

Namun, ketertarikannya perlahan bergeser ketika ia gemar membaca berita teknologi dan isu kebocoran data yang ramai dibahas di media sosial.

Rasa Penasaran Rehan yang Mengubah Arah Hidup

Sejak awal masuk SMK, Rehan mengikuti berbagai kabar kebocoran data. Rasa penasaran itu memuncak pada 2022, saat kasus peretasan yang melibatkan Bjorka ramai diperbincangkan.

"Dari situ saya mulai mengikuti, tapi waktu itu saya belum kepikiran buat belajar. Sampai akhirnya di tahun 2022, saya mulai penasaran," ujarnya saat ditemui Tribunbanyumas.com, Minggu (4/1/2026).

Rehan Belajar Otodidak Bermodal Ponsel

Pada usia 17 tahun, Rehan mulai belajar secara mandiri melalui internet dan YouTube.

Ia mempelajari dasar-dasar pencarian kerentanan, mulai dari pemetaan aset situs web, mengekstraksi tautan, hingga mengenali data sensitif yang seharusnya tidak terbuka ke publik.

"Awalnya cuma penasaran, akhirnya saya coba cari tahu tuh caranya," katanya.

Setelah sekitar enam bulan belajar intensif, Rehan memberanikan diri mempraktikkan ilmunya.

Ia menemukan sejumlah file PDF berisi data pribadi seperti NIK, KK, nomor telepon, dan nama lengkap yang dapat diakses publik dari situs instansi.

Rehan Memilih Jalur Etis dalam Bug Hunting

alih menyalahgunakan data, Rehan memilih melaporkan temuan tersebut secara etis. Ia menyusun laporan kerentanan dan mengirimkannya melalui berbagai jalur, mulai dari CSIRT, Diskominfo setempat, hingga Badan Siber dan Sandi Negara.

Temuan pertamanya terjadi pada situs milik Kabupaten Mesuji, Lampung, berupa celah SQL Injection yang memungkinkan akses basis data dan dashboard admin.

"Saya langsung lapor ke Diskominfo nya. Alhamdulilah langsung fast respon, dan langsung di benerin," ucapnya.

Ia kemudian menerima ucapan terima kasih berupa sertifikat, yang menjadi pengalaman berharga dan membanggakan.

Rehan Temukan Ribuan Data Bocor di Daerah Sendiri

Rehan terus mengasah kemampuannya dan menemukan berbagai kerentanan lain.

Di Purbalingga, ia pernah menemukan sekitar 1.000 data warga yang bocor di salah satu kecamatan, mencakup NIK, KK, dan nomor ponsel.

"Dan saat itu saya juga langsung melaporkan, alhamdulilah juga langsung ditindaklanjuti," katanya.

Rehan Mendapat Puluhan Sertifikat dan Apresiasi Internasional

Hingga 2026, Rehan telah mengantongi sekitar 25 sertifikat pengakuan dari berbagai instansi, termasuk pemerintah daerah, universitas, media nasional, hingga lembaga internasional.

Beberapa di antaranya berasal dari Provinsi DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Kota Yogyakarta, Kabupaten dan Kota Magelang, Kota Cimahi, Detik.com, Universitas Airlangga, hingga NASA.

NASA bahkan memasukkan nama Rehan ke dalam Hall of Fame.

"Baru banget kemarin. Jadi saya kan lapornya di bug root lewat VDP. Itu mereka open sayembara, buat yang berhasil meretas sistem mereka itu dapat sertifikat sama masuk Hall Of Fame, jadi nama saya di pajang bersama bug hunter lainnya di websitenya NASA," jelasnya.

Rehan Raih Penghasilan dari Bug Hunting

Selain sertifikat, Rehan juga memperoleh penghasilan dari bug hunting. Salah satu gaji pertamanya berasal dari sayembara luar negeri dengan nilai sekitar 300 dolar AS atau setara Rp5 juta.

"Di Indonesia, untuk fee nya itu jarang. Mungkin karena masih jarang juga ya bug hunter itu, malah saya dapatnya itu di luar negeri, kemarin dapat gaji pertama sekitar 300 dolar. Itu pun di sistem kerentanan yang paling rendah," ujarnya.

Meski tidak selalu dibayar, Rehan tetap bersemangat untuk terus belajar dan menargetkan kemampuan pada level kerentanan yang lebih tinggi.

Dukungan Orang Tua Jadi Kekuatan Utama Rehan

Keberhasilan Rehan tidak lepas dari dukungan orang tua dan guru semasa sekolah. Ia menyebut guru-gurunya selalu memberi motivasi agar tetap semangat belajar.

Meski ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan dan ibunya ibu rumah tangga, keduanya memberikan dukungan penuh, termasuk membelikan ponsel baru untuk menunjang aktivitas bug hunting.

"Selama ini saya kalau bug hunting itu pakai HP, dulu HP saya cuma RAM 3, sekarang udah upgrade, dibelikan sama orang tua buat melanjutkan bug hunting ini," katanya.

Hingga kini, hampir seluruh aktivitas bug hunting masih dilakukan melalui ponsel.

"Sebenernya kalau mau lebih gampang pakai laptop, tapi saya belum bisa beli, jadi sementara pakai hp dulu," ujarnya.

Mimpi Rehan Menjadi Polisi Siber

Setelah lulus SMK, Rehan kini menjalani masa gap year. Hari-harinya diisi dengan membantu orang tua, belajar bersama komunitas, dan terus berburu celah keamanan.

Rehan bercita-cita melanjutkan kuliah di bidang Teknik Informatika dan bermimpi menjadi bagian dari tim siber kepolisian. Ia menilai sistem keamanan di Indonesia masih rentan, terutama akibat minimnya pembaruan dan pengelolaan keamanan.

"Saya pengen terus berkontribusi buat negara. Semoga saja kedepan pemerintah juga lebih memperhatikan soal keamanan siber dan membuka lebih banyak peluang kerja di bidang ini," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul “Sosok Aan Rehan, Pemuda Asal Purbalingga Jadi Bug Hunter hingga Diapresiasi NASA”.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang