Alasan BST Koridor 6 Rute Tirtonadi-Solo Baru Dihentikan Mulai 2026
Layanan Bus Batik Solo Trans (BST) Koridor 6 dengan rute Terminal Tirtonadi–Solo Baru resmi berhenti beroperasi mulai 1 Januari 2026.
Penghentian layanan tersebut dilakukan menyusul berakhirnya subsidi operasional dari pemerintah pusat yang selama ini menopang jalannya koridor tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo, Taufiq Muhammad, menjelaskan bahwa keputusan tersebut tidak terlepas dari keterbatasan anggaran yang dihadapi pemerintah daerah.
Kondisi ini mendorong Dishub melakukan penataan ulang layanan transportasi publik agar tetap efisien dan berkelanjutan.
"Koridor 6 itu Terminal Tirtonadi-Solo Baru. Karena keterbatasan anggaran kita atur ulang rutenya gitu," kata Taufiq, dikutip , Jumat (2/1/2026).
Sebagai solusi, Dishub Solo telah berkoordinasi dengan pengelola BRT Trans Jateng untuk mengakomodasi kebutuhan mobilitas masyarakat yang sebelumnya dilayani BST Koridor 6.
Solusi dengan penyesuaian rute Trans Jateng
Potret warga sedang menggunakan bus Batik Solo Trans.
Hasil koordinasi tersebut menghasilkan penyesuaian rute Trans Jateng Tirtonadi–Wonogiri agar melintasi kawasan Solo Baru."Kemarin kita koordinasi dengan Trans Jateng juga. Trans Jateng itu kan Tirtonadi-Wonogiri. Awalnya kemarin tidak lewat Solo Baru. Kemarin kita sepakati dari Wonogiri mutar dulu di Solo Baru baru menuju kota ke Tirtonadi," kata dia.
Menurut Taufiq, faktor lain yang turut menjadi pertimbangan adalah tingkat keterisian penumpang BST Koridor 6 yang relatif lebih rendah dibandingkan koridor lainnya di Kota Solo.
Rute dinilai tumpang tindih
Selain itu, rute tersebut dinilai tumpang tindih dengan layanan Trans Jateng.
"Koridor 6 sebenarnya penumpangnya ya sekitaran 40 persen okupansinya. Koridor 1 sampai 100 persen lebih. Lha makanya kemarin (pertimbangan Koridor 6 dihentikan) yang ke Solo Baru ada Trans Jateng. Sementara Koridor 6 kita hentikan dulu," kata Taufiq.
Ia menambahkan, Dishub Solo masih membuka peluang pengoperasian kembali BST Koridor 6 pada masa mendatang apabila dukungan anggaran tersedia, khususnya dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
"Harapannya 2027 dari provinsi sudah bisa mem-back up yang aglomerasi Soloraya. Jadi anggaran APBD kita bisa fokus yang di dalam kota," katanya lagi.
Dengan dihentikannya Koridor 6, saat ini layanan BST di Solo tersisa lima koridor aktif.
Penyesuaian juga dilakukan terhadap rute feeder seiring dengan penghentian operasional Koridor 11 akibat kebijakan efisiensi anggaran.
"Rute-rute yang okupansi penumpangnya di bawah 50 persen kita atur ulang. Makanya yang feeder jadi lima koridor," ungkap Taufiq.
Respons masyarakat
Bus Batik Solo Trans (BST) yang beroperasi di Jalan Slamet Riyadi Kota Solo Jawa Tengah
Di sisi lain, kebijakan ini menuai respons dari masyarakat.
Salah satu warga, Gagat Dika Aprianta, menilai Koridor 6 memiliki peran penting bagi warga yang beraktivitas antara Solo Baru dan Terminal Tirtonadi.
Gagat mengaku baru mengetahui penghentian layanan tersebut dan berharap pemerintah menyediakan alternatif transportasi yang memadai bagi pengguna setia BST.
"Kalau iya (berhenti), mohon bisa diganti menjadi feeder untuk rute tersebut. Walaupun rutenya kurang ramai, kami kesulitan jika tidak ada BST, karena saya rutin menggunakan BST untuk ke rumah sakit seminggu dua kali," jelas Gagat.
Ia pun meminta agar pemerintah mempertimbangkan kembali dampak penghentian layanan tersebut terhadap kebutuhan mobilitas warga, khususnya bagi kelompok yang bergantung pada transportasi publik.
Layanan BisKita Bogor juga berhenti beroperasi
Biskita Trans Pakuan Bogor kembali beroperasi pada Selasa, 8 April 2025.
Hal senada juga terjadi dengan layanan BisKita Transpakuan di Kota Bogor.
Layanan BisKita Bogor yang memiliki 6 koridor tersebut berhenti beropasi karena masa kontrak kerja sama operasional bus telah berakhir pada 31 Desember 2025.
Kepala Dinas (Dishub) Kota Bogor, Sujatmiko Baliarto mengatakan bahwa operasional BisKita selama ini berbasis kontrak tahunan yang harus diperbarui setiap akhir tahun.
"BisKita itu berkontrak per tahun. Jadi per 31 Desember itu selesai. Satu Januari ini masih proses pengadaan barang dan jasa. Jadi pasti ada kesenjangan angkutan untuk semua koridor," kataya dikutip , Jumat (2/1/2026).
Pihaknya menegaskan, layanan BisKita baru bisa Kembali beroperasi setelah eluruh proses lelang rampung dan kontrak kerja sama baru ditandatangani.
"Ya, kan dilelang dulu. Tapi mudah-mudahan cepat," ungkapnya.
BisKita Transpakuan Bogor sendiri melayani sejumlah koridor utama, di antaranya Koridor 1 Bubulak–Cidangiang, Koridor 2 Bubulak–Ciawi, Koridor 5 Ciparigi–Stasiun Bogor, serta Koridor 6 Parung Banteng–Stasiun Bogor.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang