Temuan Bayi Hiu Paus di Teluk Saleh NTB Jadi Kunci Terungkapnya Misteri yang Membayangi Ilmuwan

hiu paus, Teluk Saleh, Temuan Bayi Hiu Paus di Teluk Saleh NTB Jadi Kunci Terungkapnya Misteri yang Membayangi Ilmuwan, Indikasi Kuat Area Melahirkan dan Pengasuhan, Fase Awal Kehidupan Hiu Paus Sangat Jarang Teramati, Temuan Berulang di Teluk Saleh, Status Masih Strong Potential Pupping Ground, Signifikansi Ekologis dan Upaya Konservasi

Para ilmuwan mengonfirmasi temuan bayi hiu paus berukuran sekitar 135 hingga 145 sentimeter di perairan Teluk Saleh, bagian utara Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Penemuan neonatal hiu paus tersebut terjadi pada Agustus hingga September 2024 berdasarkan laporan nelayan setempat dan dokumentasi ilmiah lanjutan.

Hasil kajian menyebutkan ukuran dan usia bayi hiu paus mengindikasikan fase kehidupan yang sangat dini dan jarang teramati di alam liar.

Temuan ini diumumkan melalui jurnal ilmiah internasional dan membuka peluang terungkapnya lokasi melahirkan hiu paus yang selama ini menjadi misteri biologi laut.

Indikasi Kuat Area Melahirkan dan Pengasuhan

Dilansir dari Antara, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia (KI) Mochamad Iqbal Herwata Putra menyatakan temuan ini memiliki makna ilmiah yang sangat penting.

"Secara ilmiah, ini adalah sinyal yang sangat kuat dan mengindikasikan bahwa Teluk Saleh kemungkinan besar memiliki fungsi ekologis sebagai area melahirkan dan pengasuhan anakan hiu paus," kata Iqbal dalam keterangannya di Mataram, NTB, Selasa (16/12/2025).

Penemuan bayi hiu paus yang hidup bebas di alam liar tersebut dipublikasikan dalam jurnal Diversity dan menempatkan Teluk Saleh sebagai salah satu kandidat terkuat area pengasuhan anakan hiu paus di dunia.

Temuan ini juga membuka peluang terjawabnya salah satu teka-teki terbesar dalam biologi laut, yakni lokasi hiu paus melahirkan.

Fase Awal Kehidupan Hiu Paus Sangat Jarang Teramati

Hiu paus dengan nama ilmiah Rhincodon typus dikenal sebagai ikan terbesar di dunia.

Namun, fase paling awal kehidupan spesies pemakan plankton ini hampir tidak pernah teramati secara langsung di alam.

Iqbal menjelaskan hingga kini belum ada satu pun lokasi melahirkan hiu paus yang terkonfirmasi secara ilmiah di dunia.

Selama lebih dari satu abad penelitian, kemunculan bayi hiu paus berukuran di bawah 1,5 meter secara global baru tercatat 33 kali dan sebagian besar tidak terdokumentasi secara memadai.

Temuan Berulang di Teluk Saleh

Namun, kondisi berbeda justru terlihat di Teluk Saleh. Pada Agustus hingga September 2024, nelayan bagan melaporkan sedikitnya lima kali penampakan hiu paus kecil berukuran 1,2 hingga 1,5 meter di sekitar lokasi penangkapan ikan.

Pada 6 September 2024, satu individu bayi hiu paus tertangkap secara tidak sengaja oleh jaring nelayan sebelum dilepaskan kembali ke laut.

Bayi hiu paus tersebut sempat ditempatkan dalam kotak styrofoam berisi air laut, sehingga memungkinkan estimasi ukuran tubuh secara presisi melalui analisis visual berbasis objek pembanding.

Dengan dimensi kotak 120 x 42 x 32 sentimeter, ilmuwan memperkirakan panjang total bayi hiu paus mencapai 135 hingga 145 sentimeter.

Berdasarkan kurva pertumbuhan studi Chang et al. (1997), ukuran tersebut mengindikasikan usia sekitar 120 hari atau empat bulan.

Status Masih Strong Potential Pupping Ground

Ilmuwan konservasi dari Elasmobranch Institute Indonesia, Edy Setyawan, menilai temuan ini sebagai kemajuan signifikan dalam riset hiu paus global.

"Catatan bayi hiu paus sangat langka di seluruh dunia dan setiap pengamatan baru memperkuat basis data global. Temuan itu memberikan wawasan krusial tentang di mana dan bagaimana hiu paus memulai kehidupan," ujarnya.

Meski demikian, Edy menegaskan Teluk Saleh secara ilmiah masih berstatus strong potential pupping ground dan belum dapat disebut sebagai lokasi kelahiran yang terkonfirmasi sepenuhnya.

Beberapa bukti tambahan masih dibutuhkan untuk memastikan kawasan tersebut benar-benar berfungsi sebagai tempat melahirkan hiu paus.

Signifikansi Ekologis dan Upaya Konservasi

Penemuan bayi hiu paus di Teluk Saleh tercatat sebagai yang pertama di Indonesia dan termasuk individu berenang bebas terkecil yang pernah didokumentasikan secara global.

Ilmuwan menilai perairan ini kemungkinan berperan sebagai area melahirkan dan pembibitan awal hiu paus.

Konservasi Indonesia (KI) bersama mitra dan otoritas pemerintah tengah mendorong pembentukan kawasan konservasi perairan atau Marine Protected Area (MPA) berbasis hiu paus pertama di Indonesia di Teluk Saleh.

Lebih lanjut, Iqbal menyebut temuan ini berpotensi meningkatkan status kawasan penting Teluk Saleh sebagai dasar ilmiah yang lebih kuat untuk perlindungan resmi.

Bayi hiu paus menghadapi risiko nyata seperti jerat jaring nelayan, penurunan kualitas perairan, dan meningkatnya lalu lintas kapal.

Iqbal menilai tingkat kelangsungan hidup pada fase awal ini sangat menentukan masa depan populasi hiu paus secara global.

Ke depan, KI berencana melakukan pemantauan lanjutan, memperkuat sistem pelaporan berbasis masyarakat, serta memajukan rencana pembentukan MPA yang melindungi hiu paus sekaligus memperkuat konservasi berbasis komunitas.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang