Maraknya Penipuan Digital, Literasi Keuangan Makin Krusial

Ilustrasi mengatur keuangan
Ilustrasi mengatur keuangan

Perkembangan layanan keuangan digital dalam beberapa tahun terakhir membawa perubahan signifikan pada cara masyarakat mengakses produk dan jasa keuangan. Namun, seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi, risiko penipuan digital dan penyalahgunaan data juga ikut berkembang. 

Kondisi ini mendorong kebutuhan akan literasi keuangan digital yang lebih kuat agar masyarakat mampu memahami manfaat sekaligus risiko dari penggunaan layanan keuangan berbasis teknologi.

Isu tersebut menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian acara Bulan Fintech Nasional (BFN) 2025 yang ditutup di Jakarta pada 15 Desember 2025. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) sepanjang 11 November–12 Desember 2025 ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari regulator, pelaku industri, hingga mitra dari dalam dan luar negeri. 

Penyelenggaraan BFN 2025 disebut mencerminkan upaya kolaboratif untuk memperluas akses keuangan, memperkuat tata kelola industri keuangan digital, serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap ekosistem fintech di Indonesia.

Dalam sambutannya, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menyampaikan apresiasi. Sebab, perhelatan BFN 2025 dinilai menunjukkan sinergi antara regulator, asosiasi, dan pelaku industri. 

Firlie Ganinduto, Sekretaris Jenderal AFTECH

Firlie Ganinduto, Sekretaris Jenderal AFTECH

Ia menilai forum tersebut menjadi sarana untuk menyelaraskan arah pengembangan fintech di Indonesia. “OJK terus mendorong sinergi dengan AFTECH dan seluruh pemangku kepentingan agar inovasi teknologi sektor keuangan berkembang secara bertanggung jawab, memperluas inklusi keuangan, serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan sektor riil,” ujarnya sebagaimana dikutip dari siaran pers, Senin, 15 Desember 2025.

Sementara itu, Ketua Umum AFTECH, Pandu Sjahrir, menyampaikan bahwa penyelenggaraan BFN 2025 menunjukkan keterlibatan berbagai pihak dalam menghadapi tantangan dan risiko yang muncul seiring perkembangan teknologi keuangan. 

Menurutnya, forum ini mempertemukan regulator, industri, dan pemangku kepentingan lainnya untuk membahas arah pengembangan fintech. “BFN 2025 menunjukkan kolaborasi nyata dari regulator, perbankan, fintech, akademisi, investor, dan mitra internasional bergerak bersama memastikan inovasi digital memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan sektor riil,” ujarnya.

BFN 2025 mengusung tema Kolaborasi Tanpa Batas: Transformasi Fintech dalam Mewujudkan Ekonomi yang Inklusif. Selama satu bulan penyelenggaraan, kegiatan ini melibatkan lebih dari 150 kontributor dan 90 mitra asosiasi industri dari dalam dan luar negeri, termasuk organisasi internasional. 

Rangkaian acara mencakup lebih dari 90 program edukasi yang berfokus pada literasi keuangan, penguatan integritas dan tata kelola industri fintech, serta peningkatan daya saing industri. Selain itu, terdapat lebih dari 50 program promosi produk keuangan digital dan penawaran 170 lowongan pekerjaan di sektor keuangan digital.

Puncak kegiatan BFN 2025 ditandai dengan pelaksanaan BFN Fest pada 10–11 Desember 2025. Acara ini mengangkat tema “From Clicks to Crops, From Code to Concrete: Realizing Inclusive Growth through Trusted Digital Finance Innovation” dan menghadirkan konferensi, pameran, serta forum jejaring industri seperti Jakarta Fintech Connect dan Digital x Real Sector Clinic. 

Hampir 100 narasumber dari 26 negara hadir membahas berbagai isu strategis industri keuangan digital berdasarkan hasil Annual Members Survey (AMS) 2024–2025 AFTECH. Total pengunjung BFN Fest tercatat hampir 4.500 orang.

Sepanjang pelaksanaan BFN 2025, sejumlah capaian strategis dilaporkan, termasuk peluncuran Annual Members Survey (AMS) 2024–2025, pengesahan Kode Etik Terintegrasi dalam Rapat Umum Anggota AFTECH pada 5 Desember 2025, serta berbagai program edukasi yang menyoroti manfaat fintech dan risiko terkait perlindungan data pribadi, penipuan online (scam), dan keamanan siber. 

Kegiatan literasi ini melibatkan kolaborasi dengan Indonesia Anti Scam Center (IASC), Global Anti Scam Alliance (GASA) Indonesia, serta Indonesian Fintech Youth Community (INFINITY) Roadshow yang menjangkau lebih dari 400 pelajar di Bangka Belitung.

Selain itu, BFN 2025 juga mencakup upaya mendorong kerja sama strategis untuk meningkatkan investasi dan daya saing industri, penguatan jejaring internasional, serta pengembangan talenta digital melalui peluncuran AFTECH Academy dan berbagai forum pengembangan kapasitas.

Menutup rangkaian kegiatan, Pandu Sjahrir menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan BFN 2025. “Ini membuktikan bahwa kolaborasi adalah kunci. Ketika regulator, industri, media, dan masyarakat bergerak dalam satu agenda, fintech dapat secara efisien dan efektif menjalankan perannya sebagai enabler bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif,” tutupnya.