Tren Sastra Kembali di Era Digital, 4 Sosok Ini Bawa Literasi Jadi Gaya Hidup Baru

Fatin Hamama, 1. Sutardji Calzoum Bachri, 2. Romo Sindhunata , 3. Kaisar Deem, 4. Fatin Hamama
Fatin Hamama

 Di tengah derasnya arus digitalisasi, cara masyarakat menikmati hiburan dan informasi telah mengalami perubahan besar. Teknologi membuat semua hal menjadi instan dan mudah diakses, termasuk karya sastra yang kini bertransformasi ke bentuk digital. 

Banyak pembaca beralih dari buku cetak ke e-book, blog sastra, hingga konten literer di media sosial seperti Instagram dan TikTok. Platform digital ini memungkinkan generasi muda untuk menemukan, membagikan, dan menciptakan karya sastra mereka sendiri dengan lebih bebas. Scroll lebih lanjut yuk!

Fenomena ini menjadikan literasi tidak lagi terbatas pada ruang akademik, melainkan bagian dari gaya hidup digital yang dinamis dan inklusif.

Meski demikian, di tengah gempuran teknologi dan budaya instan, tren sastra justru menunjukkan kebangkitan baru di Indonesia. Komunitas sastra tumbuh subur di dunia maya, dan karya-karya penulis Tanah Air semakin diapresiasi oleh publik luas. Festival literasi, penghargaan sastra, hingga diskusi daring menjadi ajang untuk merayakan kekuatan kata dan refleksi kemanusiaan. 

Banyak kalangan muda kini memandang membaca dan menulis sebagai ekspresi diri yang berkelas, setara dengan tren gaya hidup modern lainnya. Sastra tak lagi dianggap kuno, melainkan simbol kecerdasan emosional dan kepekaan sosial yang dibutuhkan di era digital.

Salah satu penanda kebangkitan ini hadir lewat empat penerima Penghargaan Sastra 2025. Penghargaan bergengsi ini diberikan melalui tiga lembaga yaitu Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, Lembaga Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai.

Di tengah era digital dan percepatan teknologi, penghargaan ini menjadi penegasan bahwa karya yang memiliki kedalaman estetik, kekuatan moral, dan empati kemanusiaan tetap menjadi fondasi kehidupan intelektual bangsa.

1. Sutardji Calzoum Bachri

Sutardji Calzoum Bachri, sang “Presiden Penyair Indonesia,” menerima Satupena Lifetime Achievement Award 2025 atas dedikasinya merevolusi bahasa Indonesia. 

Ia mengembalikan puisi kepada akar magisnya—mantra—melalui karya monumental seperti O Amuk Kapak dan Tragedi Winka & Sihka, menjadikan bahasa lebih bernyawa dan bebas.

2. Romo Sindhunata 

Sementara itu, Romo Sindhunata dianugerahi Dermakata Award 2025 kategori Non-Fiksi atas kemampuannya mengangkat kearifan rakyat kecil menjadi refleksi filsafat hidup. Lewat karya seperti Ilmu Ngglethek dan Opo Jare Tekek, ia membuktikan bahwa tawa dan air mata rakyat dapat menjadi sumber pengetahuan yang luhur.

3. Kaisar Deem

Dalam kategori fiksi, Kaisar Deem memenangi Dermakata Award melalui kumpulan cerpen Jose Kecil dalam Dirimu. Karyanya menghadirkan realisme sosial yang menyentuh, menyuarakan luka dan ketidakadilan yang sering terlupakan. Dari sudut pandang bocah penyintas Timor Leste, ia menunjukkan bahwa fiksi dapat menjadi bentuk perlawanan terhadap lupa kolektif bangsa.

4. Fatin Hamama

Adapun Fatin Hamama, peraih Puisi Esai Award 2025, menghadirkan suara kemiskinan urban, spiritualitas, dan kasih sayang manusia dalam bahasa yang lembut namun menggugah. Melalui karya seperti Puisi dan Bunga Kangkung serta Mazmur Duka Mazmur Cinta, ia menjadikan puisi sebagai sarana empati dan penyembuhan di tengah kerasnya kehidupan kota modern.

“Empat penerima penghargaan tahun ini menunjukkan bahwa di tengah teknologi yang semakin canggih, masyarakat tetap membutuhkan kedalaman kata-kata. Mereka bukan hanya penulis, tetapi penjaga nurani bangsa. Karya-karya mereka mengingatkan kita bahwa kata-kata yang jujur dapat menjadi cahaya yang menuntun masyarakat menuju kemanusiaan yang lebih luhur," kata Denny JA, pendiri Denny JA Foundation, dalam keterangannya.

Melalui keempat sosok ini, sastra kembali menempati panggung utama dalam kehidupan modern. Ia bukan lagi sekadar aktivitas intelektual, melainkan gaya hidup baru yang menyeimbangkan kecanggihan teknologi dengan kedalaman rasa dan nurani manusia.