Softskill Makin Relevan, Pembentukan Karakter Sejak Kian Krusial Bagi Masa Depan Anak

Ilustrasi anak-anak.
Ilustrasi anak-anak.

Pembentukan karakter (character building) anak sejak dini semakin menjadi perhatian di tengah tuntutan keterampilan abad ke-21 (21st century skill). Hal ini seiring bergesernya 'permintaan' perusahaan yang lebih melihat softskill sehingga kemampuan akademik bukan lagi jaminan bagi anak memiliki masa depan cerah. 

Di tengah dunia yang semakin kompleks, anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar nilai akademik. Kemampuan berempati, bekerja sama, dan memahami lingkungan sekitar menjadi bekal penting untuk menghadapi masa depan. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Marketing Director English 1, Rhea Danaparaminta, mengatakan keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21 ini tidak hanya sebatas kemampuan berbicara dan rasa percaya diri sebagaimana yang digembar-gemborkan. Oleh sebab itu, ia menganjurkan para orang tua menanamkan sikap kepekaan dan empati kepada anak sejak dini. 

"Membangun kepekaan ini harus dari dini. Dia (anak) harus punya empati terhadap orang sekitar,” ujar Rhea saat ditemui dalam Acara penggalangan dana bertajuk English 1 Unite for Sumatra di Jakarta pada Rabu, 1 April 2026.

Ilustrasi Anak Membantu Teman

Ia menegaskan, empati menyadarkan anak untuk memahami bahwa kehidupan tidak hanya berpusat pada dirinya sendiri. Tanpa empati dan kolaborasi, kepercayaan diri dan kemampuan komunikasi tidak akan memberikan dampak nyata.

"Confidence dan speaking itu nggak akan making impact kalau nggak ada empati dan kolaborasi. Jadi itu yang sebenarnya kita usahakan untuk tanamkan,” imbuh Rhea.

Pembentukan karakter, lanjut Rhea, tidak bisa hanya dibebankan pada institusi pendidikan. Peran orang tua tetap menjadi fondasi utama dalam membangun nilai-nilai tersebut yang ditunjang dengan lingkungan belajar yang baik sehingga diharapkan anak dapat tumbuh dengan keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan emosional.

"Karakter building itu bukan hanya dimulai dari tempat sekolah, tapi dari rumah. Kita (lembaga belajar) hanya perpanjangan tangan dari orang tua untuk membangun karakter pada anak,” lanjutnya.

Rhea menambahkan, nilai empati dan kolaborasi dapat ditanamkan melalui berbagai kegiatan sosial seperti donasi dan program belajar bersama. Program Junior Learning Buddies dari English 1, misalnya, yang melibatkan para siswa kepada murid di level B1 (intermediate) yang berusia 9-10 tahun untuk mengajar anak-anak terdampak bencana di Sumatera.

Program ini juga penggalangan donasi sebagai bentuk kepedulian sosial. Dari aksi penggalangan donasi selama tiga bulan yang berakhir pada tanggal 1 April 2026, terkumpul dana sekitar Rp103 juta yang akan disalurkan kepada sekitar 170 ribu anak di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.

Kata Rhea, para murid yang menjadi akan melalui empat tahapan pelatihan sebelum terjun mengajar. Proses ini tidak hanya melatih kemampuan komunikasi, tetapi juga tanggung jawab dan kerja sama.

Ia tidak bisa memastikan bahwa adanya perubahan sikap dari peserta didik setelah mengikuti program ini. Namun, Rhea mengungkapkan, melihat antusiasme tinggi dari anak-anak selama mengikuti program di mana sebanyak 60 peserta ikut menjadi tutor.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Kalau perilaku, sulit memastikan setiap anak ada perubahan. Namun yang pasti adalah antusiasme mereka. Harapannya memang ini bisa membangun karakter mereka ke depannya,” imbuh Rhea.

Kemampuan berempati, bekerja sama, dan memahami lingkungan sekitar menjadi bekal penting untuk menghadapi masa depan. Dengan pendekatan yang tepat, anak tidak hanya tumbuh cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial yang kuat.