Cashless tapi Careless: Kesenjangan Literasi Bikin Mahasiswa Rentan Terjebak Utang Digital
Tingginya adopsi layanan keuangan digital saat ini belum sepenuhnya diimbangi dengan literasi yang memadai. Hal ini mengakibatkan generasi muda khususnya mahasiswa yang terjebak dalam masalah finansial seperti utang konsumtif.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, inklusi keuangan pada kelompok usia 18–25 tahun telah mencapai 89,96%, namun tingkat literasinya baru berada di level 73,22%.
Merespons hal tersebut, CEO dan Chief Editor Warta Ekonomi mengatakan kesenjangan antara inklusi dan literasi ini membuat generasi muda rentan.
“Banyak anak muda sudah aktif menggunakan teknologi dan berinvestasi, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang cukup tentang risiko dan cara mengelolanya. Hal ini membuat mereka adaptif terhadap teknologi, tetapi juga rentan terhadap perilaku konsumtif, lemahnya kontrol keuangan, dan jebakan utang,” ujarnya dalam seminar bertajuk “Cashless, Careless: Jadi Mahasiswa Cerdas Finansial di Era Digital”, dikutip Kamis, 21 Mei 2026.
"Kondisi ini diperparah oleh budaya YOLO dan FOMO, yang mendorong pengeluaran berlebih, bahkan melalui utang konsumtif, sehingga tingkat utang generasi muda di sektor fintech menjadi relatif lebih tinggi," sambungnya.
Sejalan dengan hal itu, Direktur Departemen Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Andi Muhammad Yusuf, menegaskan bahwa kesenjangan ini memicu kerawanan baru.
“Orang memakai produk keuangan tapi tidak paham apa yang dipakai. Ini mengandung kerawanan, termasuk meningkatnya pengaduan dan potensi kejahatan keuangan digital,” ujar Andi.
Andi menegaskan OJK terus mendorong penguatan literasi agar berdampak nyata bagi masyarakat. “Literasi keuangan bukan sekadar pengetahuan, tetapi harus berdampak pada kesejahteraan. Individu yang memahami cara mengelola keuangan cenderung lebih stabil secara finansial dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik,” jelasnya.
Dari sisi akademisi, Direktur Kampus Binus Alam Sutera, Lim Sanny, mengingatkan mahasiswa agar tidak terlena dengan kemudahan teknologi.
“Seiring dengan kemajuan teknologi, transaksi menjadi lebih mudah dan cepat. Namun di balik kenyamanan itu, kita harus tetap bijak dalam mengelola keuangan agar tidak terjebak dalam sikap careless,” kata Lim Sanny.
“Kami berharap mahasiswa dapat menggali lebih banyak wawasan dan memahami bagaimana mengelola keuangan secara bijak di era digital, serta siap menerapkannya dalam kehidupan pribadi maupun profesional,” sambungnya.
Sementara itu, para pelaku industri keuangan yang hadir turut menyoroti pentingnya keamanan dan pemahaman risiko.
Direktur Utama ShopeePay Indonesia, Eka Nilam Dari, memastikan perlindungan berlapis telah diterapkan untuk pengguna e-wallet.
"Layanan verifikasi terhadap transaksi baik itu PIN ataupun OTP itu sudah jadi satu basic standar yang dimiliki. Juga ada layanan 2FA di mana verifikasi tambahan yang bisa dilakukan oleh para pengguna ShopeePay untuk setiap ada transaksi yang mungkin secara pattern transaksi lain daripada biasanya. Tambahan layer dari sisi keamanan itu untuk memastikan bahwa memang orang yang sama ataupun user yang sama yang menggunakan aplikasi tersebut," paparnya.