Top 5+ Langkah Tingkatkan Literasi Keuangan agar Lebih Inklusif di Era Digital
Literasi keuangan kini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat. Di tengah pesatnya transformasi digital dan meningkatnya partisipasi ekonomi kreatif, pemahaman tentang pengelolaan keuangan yang baik perlu disampaikan dengan cara yang lebih inklusif dan mudah dipahami.
Pendekatan edukasi finansial juga harus menyesuaikan dengan kebutuhan beragam lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas dan generasi muda. Tidak hanya berfokus pada angka dan teori, literasi keuangan modern kini menekankan aspek empati, kesetaraan, serta keterlibatan sosial.
Berikut lima langkah membangun literasi keuangan yang inklusif dan berdampak luas.
1. Gunakan Bahasa yang Universal dan Mudah Dipahami
Langkah pertama dalam membangun literasi keuangan yang inklusif adalah memastikan pesan finansial dapat dipahami oleh semua kalangan, tanpa terkecuali. Bahasa teknis dan istilah rumit sering kali menjadi penghalang utama bagi masyarakat dalam memahami produk atau layanan keuangan.
Pendekatan yang lebih visual, naratif, dan emosional dapat menjembatani kesenjangan ini. Melalui penggunaan bahasa sederhana, ilustrasi, atau video interaktif, pesan keuangan bisa disampaikan secara lebih universal dan empatik, sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat luas.
2. Ciptakan Program Edukasi yang Inklusif Melalui Kolaborasi
Inklusi keuangan tidak bisa dicapai sendiri. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memperluas jangkauan edukasi finansial, seperti yang dilakukan melalui inisiatif Good Gesture yang diperkenalkan di IdeaFest 2025.
Program ini merupakan hasil kerja sama antara Bank Saqu, Astra Digital, komunitas Teman Tuli, dan para pemenang Solopreneur Academy 2025. Inisiatif tersebut menampilkan tiga video edukatif berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang agar bisa diakses semua lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.
Head of Marketing & Branding Bank Saqu, Willy Apriando
“Kami percaya bahwa setiap ide hebat seharusnya bisa diakses oleh siapa pun, tanpa terkecuali. Good Gesture menjadi bukti bahwa literasi keuangan dapat disampaikan secara inklusif, universal, dan penuh empati. Karena mengelola uang dengan bijak adalah fondasi untuk mewujudkan mimpi, apa pun latar belakang kita,” ujar Willy Apriando, Head of Marketing & Branding Bank Saqu, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Kamis, 6 November 2025.
Pendekatan ini sejalan dengan pedoman inklusi keuangan nasional yang didorong oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Pedoman Setara, panduan layanan keuangan yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.
3. Dorong Kreativitas Sebagai Media Literasi
Kreativitas memiliki peran besar dalam membuat literasi keuangan terasa hidup dan relevan. Pesan edukatif yang dikemas dalam bentuk seni, film pendek, konten digital, atau karya visual dapat menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi muda.
Dengan memanfaatkan kekuatan narasi dan ekspresi kreatif, pesan tentang pengelolaan uang, investasi, dan perencanaan keuangan dapat dikomunikasikan dengan cara yang lebih menarik, tanpa terasa menggurui.
4. Berdayakan Komunitas Lokal dan Pelaku UMKM
Komunitas lokal, UMKM, dan solopreneur adalah motor penggerak ekonomi nasional. Memberdayakan mereka melalui edukasi finansial berbasis pengalaman nyata akan menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan.
Melalui pelatihan, mentoring, dan akses informasi yang lebih terbuka, pelaku usaha kecil dapat lebih memahami pentingnya manajemen keuangan, pencatatan arus kas, serta strategi investasi sederhana yang bisa menunjang keberlangsungan usaha mereka.
5. Integrasikan Teknologi dalam Edukasi Finansial
Langkah terakhir yang tak kalah penting adalah mengintegrasikan teknologi dalam edukasi keuangan. Aplikasi interaktif, video edukatif berbasis AI, hingga platform digital berbasis komunitas dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas akses literasi keuangan.
Dengan teknologi, masyarakat bisa belajar kapan pun dan di mana pun. Lebih dari itu, teknologi juga memungkinkan lembaga keuangan untuk menciptakan pendekatan edukatif yang personal dan adaptif sesuai kebutuhan tiap individu.
Itu dia lima langkah membangun literasi keuangan yang inklusif. Di tengah dunia yang semakin terhubung, inklusi finansial bukan hanya soal membuka akses terhadap layanan keuangan, tetapi juga memastikan setiap orang memiliki pemahaman dan kesempatan yang sama untuk tumbuh bersama secara ekonomi.