Menghidupkan Jakarta dengan Cerita, Cara Baru Menjelajah Kota Megapolitan

Ilustrasi Monumen Nasional (Monas) Jakarta
Ilustrasi Monumen Nasional (Monas) Jakarta

Jakarta bukan hanya gedung pencakar langit, jalanan padat, atau pusat bisnis yang tak pernah tidur. Di balik riuhnya, Jakarta menyimpan jejak kisah, ruang-ruang tersembunyi, dan fragmen sejarah yang bisa menjadi pengalaman wisata unik bila dirangkai dengan narasi yang tepat. 

Semakin banyak warga atau wisatawan  mencari pengalaman yang “bercerita”, bukan sekadar berfoto; dan di titik inilah upaya kreatif dari para penulis, sineas, hingga komunitas lokal membuka peluang besar bagi Jakarta untuk tampil sebagai destinasi wisata berbasis cerita. 

Program “Mencari Cerita Jakarta” yang digerakkan Wahana Kreator dan Wahana Edukasi pun menjadi salah satu langkah penting untuk membawa Jakarta tampil layak di panggung global. Dalam acara peluncuran Mencari Cerita Jakarta Volume 1, Co-Founder dan Head of Content Wahana Kreator, Gina S Noer, menegaskan bahwa Jakarta sebenarnya mempunyai potensi besar untuk disejajarkan dengan kota-kota global.

“Jakarta sebagai megapolitan yang sangat kompleks dan keren ini sebenarnya bisa menyandingkan namanya di tingkat global seperti Seoul, New York, atau Paris, dengan jenis-jenis film seperti Night in Paris, Night in Busan, atau berbagai film yang mengangkat kota besar seperti New York atau Tokyo. Tapi kenapa sepertinya kita belum?” ungkap Gina di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta, Kamis, 11 Desember 2025.

Menurut Gina, salah satu masalahnya adalah kurangnya narasi kuat yang membuat Jakarta mudah dikenali dan dicintai wisatawan mancanegara. Bagi sebagian turis asing, Jakarta masih perlu diperkenalkan berkali-kali untuk bisa dipahami. 

Hal inilah yang mendorong Wahana Kreator dan Wahana Edukasi membangun program pendampingan penulisan skenario, yang bukan hanya melatih penulis, tetapi mengajak mereka menjelajahi kota.

Dalam sambutannya, Gina mengatakan bahwa upaya ini tidak terlepas dari dukungan ekosistem yang solid. “Kami banyak bergerak di bidang penulisan. Seperti yang tadi sudah dijelaskan, hal yang paling mahal dalam dunia digital dan platform digital adalah political will dan momentum. Kita tahu political will dan momentum itu priceless,” ungkapnya. 

Mencari Cerita Jakarta Vol. 1

Mencari Cerita Jakarta Vol. 1

Melalui program ini, para penulis diajak mengunjungi berbagai titik kota untuk menangkap denyut kehidupan Jakarta: dari Kepulauan Seribu, perkampungan lama, hingga sudut-sudut kota yang menyimpan memori warganya. Kunjungan, riset, dan latihan penulisan skenario tersebut melahirkan berbagai kisah yang akhirnya terkumpul dalam buku Mencari Cerita Jakarta Volume 1.

“Ternyata ketika diberi kesempatan dan pendampingan, hasilnya luar biasa. Para penulis ini kami ajak visit ke berbagai tempat di Jakarta. Kami berikan kemampuan storytelling, dan muncullah cerita-cerita unggulan di Mencari Cerita Jakarta Volume 1 ini,” ujarnya. 

Karya-karya ini diharapkan kelak dikembangkan menjadi film, serial, atau konten visual lain yang dapat memperkenalkan Jakarta kepada dunia, bukan dari brosur wisata, melainkan dari sisi manusia dan ceritanya.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno hadir memberi sambutan penuh refleksi tentang pentingnya merekam Jakarta hari ini sebelum kota itu berubah sepenuhnya. Ia membuka pidatonya dengan gaya khasnya, penuh humor dan nostalgia. 

“Ini momen Anda untuk menulis sisa-sisa Jakarta,” kata pria yang juga aktor senior Tanah Air itu. 

Rano mengingatkan bahwa banyak elemen Jakarta yang sudah hilang atau berubah. Seperti suara ayam di kampung, tokek di rumah-rumah Betawi, suasana kampung masa kecil, dan jika itu tidak ditulis sekarang, maka pengalaman itu akan punah tanpa jejak. 

“Bahkan kalau Anda menonton Si Doel Anak Sekolahan, saya sengaja beli tokek. Tokek itu hewan kecil yang bunyinya khas. Saya taruh di rumah Si Doel untuk suaranya. Sampai sekarang tokeknya sudah besar,” kata Rano Karno. 

Baginya, perjalanan wisata di Jakarta tidak akan lengkap tanpa memahami sejarah dan cerita yang menyertai setiap tempat. Ia mencontohkan Pulau Onrust dan Kota Tua sebagai destinasi yang sarat narasi. 

Rano menegaskan pentingnya menulis kisah-kisah tersebut untuk diwariskan pada Jakarta yang akan memasuki usia 500 tahun. “Misalnya, Anda pergi ke Pulau Onrust. Pulau Onrust tidak lepas dari sejarah pelabuhan dan perbaikan kapal Belanda. Kota Tua dibangun dari batu-batu pemberat kapal yang dibawa dari Belanda. Kisah ini bisa Anda tulis,” kata dia. 

Tak hanya menginspirasi, Rano juga memberikan panduan praktis mengenai proses kreatif. Menurutnya, cerita adalah inti dari segalanya. Aktor atau sutradara bisa dicari, tapi cerita tidak bisa digantikan. Karena itu, wisata berbasis cerita menjadi peluang besar untuk menghadirkan Jakarta dengan karakter yang lebih hidup, mendalam, dan otentik.

Program Mencari Cerita Jakarta akhirnya bukan hanya gerakan literasi, melainkan sebuah jembatan untuk membangun ekosistem wisata baru, yakni wisata berbasis narasi. Wisatawan tidak lagi sekadar melihat, tetapi mengalami Jakarta melalui kisah yang dituturkan oleh warganya sendiri.