Penjualan Ritel Diprediksi Melonjak 5,9 Persen Jelang Nataru, Sinyal Ekonomi Membaik?

Ilustrasi ritel modern.
Ilustrasi ritel modern.

Menjelang akhir tahun, geliat konsumsi masyarakat mulai terasa di berbagai kota besar. Pusat perbelanjaan ramai, permintaan kebutuhan rumah tangga meningkat, dan transaksi ritel kembali menguat. 

Fenomena ini menjadi sinyal awal bahwa dorongan musiman Natal dan Tahun Baru (Nataru) masih menjadi motor penting bagi aktivitas ekonomi nasional. 

Survei Penjualan Eceran yang dirilis Bank Indonesia (BI) menunjukkan tren positif pada kinerja ritel dua bulan terakhir. Pada Oktober 2025, Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 4,3 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan September. 

Penguatan ini berlanjut pada November 2025, yang diprakirakan meningkat menjadi 5,9 persen secara tahunan. “IPR November 2025 diperkirakan tumbuh sebesar 5,9 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan IPR Oktober 2025 yang sebesar 4,3 persen (yoy),” demikian dikutip dari siaran pers BI, Rabu, 10 Desember 2025.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh membaiknya permintaan pada mayoritas kelompok barang. Kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya yang sebelumnya terkontraksi, kini berbalik tumbuh empat persen secara tahunan. Barang budaya dan rekreasi, suku cadang dan aksesori, serta makanan, minuman dan tembakau juga menunjukkan lonjakan signifikan dengan pertumbuhan hingga dua digit.

Secara bulanan, penjualan ritel pada November diperkirakan naik 1,1 persen, meningkat dari 0,6 persen pada Oktober. Dorongan permintaan jelang Nataru menjadi faktor utama, terutama pada subkelompok sandang, bahan bakar kendaraan bermotor, hingga perlengkapan rumah tangga. 

Tidak hanya nasional, penguatan ritel juga terlihat di sejumlah kota. Pada Oktober, Surabaya mencatat pertumbuhan tertinggi mencapai 19,1 persen secara tahunan, disusul Semarang dan Denpasar. 

Sementara untuk November, pertumbuhan diperkirakan kuat di Bandung, Medan, dan Manado. Selain permintaan konsumsi, kelancaran distribusi turut menjadi penopang performa ritel di berbagai wilayah.

Di sisi lain, tekanan harga diperkirakan akan meningkat pada awal tahun mendatang. “Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Januari 2026 tercatat sebesar 162,3, meningkat dibandingkan dengan 152,2 pada periode sebelumnya,”  tulis laporan BI. 

Kenaikan ini mencerminkan antisipasi terhadap inflasi musiman yang biasanya muncul menjelang Ramadan, termasuk karena penyesuaian harga bahan baku, upah, dan tarif PPN.

Namun tekanan harga diperkirakan mereda menjelang April 2026 seiring normalisasi permintaan setelah periode Idulfitri. "IEH untuk April menurun menjadi 161,7, jauh lebih rendah dari 172,5 pada periode sebelumnya."

Dari sisi prospek, pelaku ritel memperkirakan penjualan akan turun pada Januari dan April 2026 karena berlalunya puncak permintaan akhir tahun. Meski demikian, proyeksi Januari tetap lebih tinggi dibanding rata-rata tiga tahun terakhir karena adanya permintaan untuk persiapan Ramadan.