Harga Diprediksi Naik Januari 2026, Ritel Siap-siap Pasang Strategi Hadapi Lonjakan Permintaan Ramadan

Pedagang di pasar tradisional. (ilustrasi)
Pedagang di pasar tradisional. (ilustrasi)

 Tekanan harga diprediksi meningkat pada awal tahun dan menjadi perhatian utama pelaku ritel menjelang musim belanja Ramadan 1447 H. Hal tersebut diketahui dari Survei Penjualan Eceran November 2025 oleh Bank Indonesia (BI). 

Berdasarkan survei tersebut, harga pada tiga bulan mendatang meningkat signifikan. “Dari sisi harga, tekanan inflasi pada 3 bulan yang akan datang, yaitu Januari 2026 diprakirakan meningkat,” tulis survei tersebut, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Rabu, 10 Desember 2025.

Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Januari 2026 tercatat sebesar 163,2, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 157,2. Kenaikan ini didorong beberapa faktor, termasuk ekspektasi kenaikan harga bahan baku, penyesuaian upah, kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), serta permintaan yang biasanya meningkat menjelang Ramadan.

Di sisi lain, tekanan harga diperkirakan mulai mereda memasuki April 2026. IEH bulan tersebut turun menjadi 161,7, lebih rendah dari 172,5 pada survei sebelumnya, seiring normalisasi permintaan setelah Idulfitri 1447 H. 

Melalui survei, BI juga mencatat ekspektasi pelaku usaha terhadap penjualan dalam beberapa bulan ke depan. "Responden memprakirakan penjualan eceran turun pada 3 dan 6 bulan yang akan datang, yakni Januari dan April 2026."

Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Januari turun menjadi 157,2 dari 167,7, sementara April 2026 tercatat 144,8, lebih rendah dari 155,7 pada periode sebelumnya.

Meski menurun, BI mencatat bahwa IEP Januari 2026 masih lebih tinggi dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir karena adanya permintaan tambahan menjelang Ramadan. Artinya, meskipun aktivitas belanja pasca-Natal dan Tahun Baru melemah, ritel tetap berpotensi menikmati tambahan penjualan dari permintaan musiman Ramadan yang datang lebih awal pada 2026.

Untuk konteks dinamika pasar menjelang akhir 2025, penjualan eceran pada November menunjukkan tren peningkatan. BI mencatat bahwa kinerja penjualan eceran pada November 2025 diprakirakan meningkat dengan proyeksi pertumbuhan 5,9 persen (yoy). 

Kenaikan ini utamanya berasal dari kelompok Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya, Barang Budaya dan Rekreasi, Suku Cadang dan Aksesori, serta Makanan, Minuman, dan Tembakau. 

Dengan ekspektasi permintaan yang meningkat pada Ramadan namun harga yang juga ikut naik, keseimbangan strategi akan menentukan seberapa kuat sektor ritel mampu memanfaatkan momentum konsumsi di awal 2026.