Produk Ramah Lingkungan Kian Diminati Anak Muda, Industri Fesyen Berbahan Alam Jadi Sumber Cuan Baru?

Ilustrasi Pakaian dari Bahan Alami
Ilustrasi Pakaian dari Bahan Alami

Bumi tidak pernah menciptakan sesuatu yang sia-sia karena segala yang tumbuh dari tanah, setiap lembar daun, serat, dan warna, membawa potensi yang menunggu untuk ditemukan dan dimaknai kembali oleh manusia. Melalui riset dan proses ekstraksi, bahan yang dianggap tidak bernilai ini justru menjadi sumber warna alam dengan karakter unik, stabil, dan bersahaja.

Pandangan ini menjadi inspirasi bagi Ratih Wahyu Saputri selaku Pemilik Karpas Ethnique untuk mengeksplorasi sumber daya alam, yaitu daun kelapa sawit yang kerap dianggap limbah tidak berguna. Ia mengungkapkan memilih bahan dari tumbuhan, khususnya limbah daun kelapa sawit, karena minim dari hal-hal yang menyebabkan haram.

"Sebetulnya tumbuhan itu kalau saya katakan adalah lebih kepada halal. Jadi halal untuk apa pun yang kita pakai. Kalau hewan itu, kita nggak mengatakan tidak halal, tapi ada potensi. Tinggal setelah itu, cara pengolahan kita harus benar, mengikuti aturan yang benar," ungkap Ratih.

Di balik perjalanan kreatif Karpas, Ratih membawa misi yang jauh lebih besar dari sekadar menghasilkan busana cantik. Ia berupaya membangun ekosistem mode yang berpihak pada alam, memberdayakan komunitas, dan membuka ruang kolaborasi bagi talenta muda yang kerap terpinggirkan.

Pemilik Karpas Ethnique Ratih Wahyu Saputri

Pemilik Karpas Ethnique Ratih Wahyu Saputri

Ratih mendirikan usaha pakaian bahan alami ini pada tahun 2014 dengan nama ID Ethnique lalu bertransformasi melalui proses rebranding menjadi Karpas Ethnique. Ini merintis bisnis ini menggunakan menggunakan modal pribadi tanpa pendanaan eksternal.

Ia menggandeng siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk ikut terlibat dalam proses kreatif pembuatan setiap potong baju. Ratih melihat potensi besar yang selama ini tidak tersalurkan secara optimal sehingga Karpas bisa menjadi ruang bagi pelajar untuk berkarya.

"Kami melibatkan anak-anak SMK. Mereka punya talenta lho tapi sayang, jika bukan kita yang, ayo, ayo, ayo, kalian itu bisa. Itu (talenta) nggak ada yang keluar," ujarnya.

Selain pelajar, Karpas juga bekerja sama dengan pengrajin perempuan berusia 66 tahun yang memiliki keahlian seni sulam. Ratih bahkan melibatkan siswa-siswi dari SMK dengan kebutuhan khusus seperti tuna rungu atau tuna wicara untuk melukis di studio Karpas. Semua ini menjadi bukti komitmennya terhadap inklusivitas dan pemberdayaan lintas generasi.

Saat ini, Karpas memproduksi berbagai busana berbahan alami yang seluruh proses pewarnaannya menggunakan ekstrak daun kelapa sawit. Namun Ratih memiliki visi yang lebih panjang adalah menciptakan benang dari bahan alami agar proses produksi dapat benar-benar berjalan dari hulu ke hilir sekaligus memperluas penggunaan bahan alami di industri fesyen Tanah Air.

"Jadi kita betul-betul dari end to end nya adalah dia natural gitu kan. Kalau sekarang kan bahannya, nah kita mau buat tuh dari benangnya. Jadi nanti bisa digunakan oleh orang-orang lain," jelas Ratih.

Dari usahanya ini, Ratih berharap Karpas dapat dikenal sebagai merek yang mengutamalan nilai (value) berkelanjutan dan ramah lingkungan. Di mana Karpas memegang lima prinsip bisnis yang mencakup natural, exclusive, handcrafted, sustainable, dan empowerment.

Tidak menapik bahwa Ratih berharap mendapat dukungan dari pemerintah. Pasalnya, bisnis yang dijalankan Karpas merupakan salah satu cara menjaga bumi dengan memanfaatkan kembali limbah seperti daun kelapa sawit bahkan produk baju lebih mudah terurai.

"Karena kalau value-nya sudah bisa menancap, maka insya Allah produknya akan digemari dan dikenal. Baru yang kedua kita pengen pemerintah juga bisa men-support, (sebagai salah satu cara) kita bisa melestarikan alam," tegas ratih.

Dengan semangat keberlanjutan dan penghargaan terhadap kebijaksanaan alam, Karpas Ethnique kembali menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Karpas Dyealogue di Hotel Ashley Wahid Hasyim, Jakarta, pada Sabtu, 6 Desember 2025.

Forum ini mempertemukan para pelaku pewarna alam, akademisi, peneliti, pemerhati budaya, dan kreator industri tekstil untuk membangun percakapan strategis tentang masa depan pewarna alam Indonesia. Acara ditutup dengan peragaan busana (fashion show) busana siap pakai koleksi Karpas yang merupakan hasil pewarnaan alami menggunakan daun kelapa sawit.

Karpas mengusung warna bumi (Earth Tone Series) hasil dari ekstrak daun kelapa sawit dalam koleksinya yang diaplikasikan pada bahan alami seperti sutra, katun, rayon, organdy, dan tencel.