Kopi Bukan Sekadar Minuman, Begini Cara Pedagang Mikro Raup Untung dari Bisnis Ini!

Ilustrasi kopi Indonesia
Ilustrasi kopi Indonesia

Di Indonesia, kopi bukan sekadar minuman harian. Kopi juga sudah menjadi motor penggerak ekonomi mikro dan UMKM, membantu konsumen, pedagang, dan pekerja yang berpartisipasi dalam ekosistem bisnis ini. 

Keberadaan kopi mendorong kegiatan usaha kecil, sekaligus menjadi sarana apresiasi dan pemberdayaan masyarakat.

Bukti nyata dari hal ini terlihat melalui program apresiasi yang diadakan oleh salah satu perusahaan kopi besar, Kopi Kapal Api, pada Desember 2025. Perusahaan memberangkatkan 114 peserta ke Tanah Suci, termasuk konsumen setia pemenang program, pedagang komunitas, dan karyawan berprestasi. 

“Kami ingin berbagi semangat, kebahagiaan dan berkah dengan mereka yang telah menjadi bagian dari perjalanan kami selama ini. Program umrah ini bukan sekadar hadiah, tapi ungkapan syukur kami,” kata Fidelius Marlfel, perwakilan manajemen, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Kamis, 4 Desember 2025.

Menurut Marlfel, program ini bukan hanya tentang pemberangkatan umrah, tetapi bentuk komitmen jangka panjang perusahaan untuk terus mendukung konsumen dan mitra UMKM. 

“Setiap cangkir kopi kami punya cerita. Ada kerja keras pedagang, ada kesetiaan konsumen, dan ada dedikasi karyawan di dalamnya. Kami ingin momen umrah ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan hadiah yang jauh lebih berharga,” paparnya. 

Program berlangsung dari akhir Oktober hingga awal November 2025. Salah satu peserta, Muharom, yang berjualan kopi setiap hari, mengaku terharu bisa berangkat. 

“Saya tidak pernah membayangkan bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci. Dari berjualan kopi setiap hari sampai akhirnya diberangkatkan umrah, rasanya seperti mimpi,” ujarnya.

Pelaku bisnis kopi yang berangkat umrah

Pelaku bisnis kopi yang berangkat umrah

Pak Anwari asal Jember juga menceritakan bahwa kopi yang ia bagikan ke mushola-mushola selama Ramadhan membuka kesempatan bagi dirinya, anak, dan menantunya untuk ikut program umrah. 

“Rasanya di luar nalar. Tidak pernah terbayang bahwa anak dan menantu saya juga dapat terpilih. Bahkan ketika terdapat amplop senilai tujuh juta rupiah, justru kami bertiga yang akhirnya diberangkatkan. Ini bukan sekadar hadiah, melainkan berkah yang luar biasa,” ungkapnya.

Selama 10 hari di Tanah Suci, para peserta menjalani ibadah di Makkah dan Madinah sekaligus mengunjungi tempat bersejarah seperti Masjid Quba, Jabal Uhud, Jabal Rahmah, dan Jabal Tsur. 

“Kami percaya, setiap cangkir kopi kami punya cerita. Dan kali ini, cerita itu adalah tentang syukur, harapan, dan semangat kebersamaan menuju Tanah Suci,” tutup Marlfel.