Top 6+ Dampak Toxic Positivity pada Kesehatan dan Kesejahteraan Hidup
Ketika keharusan untuk selalu bahagia berubah menjadi tekanan yang mengabaikan realitas, inilah yang disebut sebagai toxic positivity.
Kondisi ini bukan hanya mematikan perasaan alami, tapi juga dapat berdampak serius pada kesehatan mental, hubungan sosial, dan kesejahteraan fisik seseorang.
“Toxic positivity adalah tekanan terus-menerus untuk berbahagia apa pun situasinya,” kata terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Whitney Goodman, dilansir dari Everyday Health, Jumat (28/11/2025).
Sikap ini sering muncul sebagai respons spontan yang terdengar positif, tapi justru menutup validasi emosi seseorang.
Berikut penjelasan mengenai bagaimana toxic positivity dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan hidup kamu.
Dampak toxic positivity pada kesehatan
1. Membuat kamu menekan emosi
Salah satu dampak terbesar toxic positivity adalah dorongan untuk menekan perasaan yang dianggap buruk. Padahal menekan emosi justru membuatnya semakin kuat dan sulit dikelola.
Profesor psikologi di University of Kentucky, Suzanne C. Segerstrom menjelaskan, strategi menghindari perasaan negatif tidak efektif dan biasanya gagal dalam jangka panjang.
Sementara itu, profesor keperawatan dari University of Minnesota, Mary Jo Kreitzer menuturkan, menekan emosi lama kelamaan bisa membuatnya meledak dengan cara yang tak terduga.
“(Jika) mencoba menahan bola pantai di bawah air, suatu saat mereka akan terlepas dan muncul ke permukaan dengan cara yang tidak terduga,” tutur Kreitzer.
Penelitian bahkan menunjukkan bahwa menekan emosi dapat meningkatkan stres dan memicu distress emosional, termasuk pikiran bunuh diri pada individu yang sedang menghadapi tekanan berat.
2. Munculnya rasa malu dan bersalah
Toxic positivity dapat membuat emosi tertekan, memicu rasa bersalah, dan menurunkan kesehatan mental dan fisik. Kenali dampaknya selengkapnya.
Toxic positivity kerap mengirim pesan terselubung bahwa perasaan negatif adalah sesuatu yang salah.
Ketika seseorang terus-menerus mendengar "kamu harus tetap positif", muncul perasaan bersalah karena tidak bisa memenuhi ekspektasi tersebut.
“Toxic positivity membuat seseorang merasa bahwa emosinya tidak pantas,” ujar Kreitzer.
Kondisi ini dapat memicu rasa malu yang dalam. Riset juga menunjukkan bahwa rasa malu berkaitan dengan berbagai masalah mental, termasuk gangguan makan dan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).
3. Membuat kamu menyembunyikan diri yang sebenarnya
Ketika seseorang merasa harus selalu tampak bahagia, mereka kehilangan ruang untuk menjadi autentik. Emosi negatif yang seharusnya wajar malah dianggap kelemahan.
Kreitzer menegaskan bahwa memaksakan kebahagiaan yang tidak alami menginvalidasi pengalaman manusia yang normal.
Akibatnya, seseorang tidak lagi berani menunjukkan diri yang sebenarnya, termasuk kebutuhan dan rentannya.
4. Menimbulkan rasa terisolasi dari orang lain
Toxic positivity dapat membuat emosi tertekan, memicu rasa bersalah, dan menurunkan kesehatan mental dan fisik. Kenali dampaknya selengkapnya.
Saat seseorang diberi tahu untuk “tidak usah khawatir” dalam situasi yang penuh tekanan, mereka bisa merasa sendirian dalam menghadapi emosinya.
Goodman menjelaskan, toxic positivity bisa membuat seseorang menutup diri karena tidak bisa menerima apa yang ia rasakan.
“Toxic positivity membuat kita semakin terisolasi dan enggan bergantung pada orang lain saat membutuhkan dukungan,” jelas dia.
Ketika situasi sulit dianggap remeh oleh lingkungan, individu cenderung menyimpan perasaan sendiri sehingga hubungan sosial pun melemah.
5. Membuat kamu pasif dan mengabaikan masalah
Toxic positivity tidak hanya mematikan emosi, tetapi juga dapat menahan seseorang dari mengambil tindakan penting dalam hidupnya.
Menurut Claudia Trudel-Fitzgerald, asisten profesor psikologi di Kanada, toxic positivity bisa berdampak pada cara seseorang dalam menyelesaikan masalah.
“Ketika seseorang percaya bahwa tersenyum adalah kunci melewati masalah, ia lebih mungkin mengabaikan masalah dan tidak mengambil tindakan yang dibutuhkan,” tutur Trudel-Fitzgerald.
Pemikiran ini dapat membuat seseorang menyalahkan diri sendiri ketika tujuan tidak tercapai, menciptakan lingkaran frustrasi dan penyangkalan.
6. Berpengaruh pada kesehatan fisik
Dampak toxic positivity tidak berhenti pada kesehatan mental. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa mengganggu kesehatan fisik.
Segerstrom menjelaskan, strategi menghindari emosi dapat meningkatkan stres fisiologis yang berhubungan dengan berbagai penyakit.
Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Psychosomatic Research menemukan bahwa mereka yang sering menekan perasaan memiliki risiko kematian lebih tinggi dalam periode 12 tahun, termasuk akibat kanker.
Peneliti menyimpulkan bahwa menerima emosi negatif jauh lebih sehat dibanding terus-menerus mencoba bersikap positif.
Toxic positivity mungkin tampak seperti niat baik, tetapi dampaknya bisa merusak fisik danmental.
Para ahli sepakat bahwa kunci kesejahteraan emosional adalah menerima seluruh spektrum perasaan, baik dan buruk, sebagai bagian dari pengalaman manusia yang normal.
Dengan memberi ruang bagi emosi apa adanya, kita dapat membangun kesehatan mental yang lebih kuat, hubungan yang lebih jujur, dan hidup yang lebih seimbang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang