Update Tanah Bergerak di Tegal, Trauma Warga, dan Solusi Hunian Baru

Update Tanah Bergerak di Tegal, Trauma Warga, dan Solusi Hunian Baru

 Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka dan mendorong pemerintah memprioritaskan relokasi permanen sebagai bagian dari pemulihan jangka panjang.

Hingga Kamis (5/2/2025), ratusan rumah dilaporkan mengalami kerusakan mulai dari ringan hingga berat.

Infrastruktur publik seperti jalan umum, sekolah, dan tempat ibadah turut terdampak.

Warga memilih mengungsi

Lebih dari seribu warga mengungsi di sejumlah titik aman.

Pergerakan tanah disebut mulai terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama lima jam pada Senin (2/2/2025).

Warga memilih mengungsi setelah kondisi bangunan dinilai membahayakan.

"Rumah rusak karena takut akhirnya mengungsi. Untuk suami dan orangtua masih di sana karena sebagian barang masih di rumah," kata warga setempat, Siti Waridah, di posko pengungsian, dikutip , Kamis.

Trauma menghantui warga setempat

Update Tanah Bergerak di Tegal, Trauma Warga, dan Solusi Hunian Baru

Sedikitnya 19 rumah warga di Dusun Purwo dan Dusun Krandegan, Desa Pucungkerep, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, mengalami kerusakan parah akibat bencana gerakan tanah.

Menurut Siti, sebagian besar rumah warga di sekitarnya mengalami kerusakan, mulai dari dinding ambrol hingga lantai retak.

Trauma juga dirasakan para pengungsi, termasuk Nur Halimah (35) yang menyaksikan langsung rumahnya hancur.

"Jam sembilan malam saya keluar karena tembok sudah hancur. Tanah sudah merembes ke bawah, diinjak saja sudah tidak bisa," kata Nur di tempat pengungsian, Jumat (6/2/2026).

Ia kini tinggal di tenda bersama anaknya yang berusia lima tahun dan berharap pemerintah menyediakan hunian di lokasi yang lebih aman.

Kondisi serupa dialami Ahmad Ubaidillah, siswa kelas V SD Padasari 01, yang rumahnya miring akibat pergeseran tanah.

“Sudah sekitar tiga hari tinggal di tempat ngungsi. Rumahnya nggak hancur, tapi miring ke atas,” kata Ahmad.

“Walaupun rumahnya nggak hancur, ya tetap sedih,” tambahnya.

2.000 jiwa mengungsi akibat tanah bergerak di Tegal

Update Tanah Bergerak di Tegal, Trauma Warga, dan Solusi Hunian Baru

Bupati Tegal, Ischak Maulana Rohman mendampingi kunjungan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka ke lokasi bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Tegal, Jateng, Jumat (6/2/2026)

Sebelumnya, Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyebutkan, total 464 rumah terdampak dengan sekitar 250 di antaranya rusak berat.

Lebih dari 2.000 jiwa kini mengungsi di empat posko utama.

Pemerintah daerah telah menetapkan status tanggap darurat dan mengaktifkan pos komando bencana.

"Alhamdulillah, sejak semalam kami sudah menyiapkan tenda darurat lengkap dengan alas, dapur umum di dua titik, serta toilet portabel sebanyak lima unit. Untuk sementara, toilet existing di rumah warga juga masih dimanfaatkan," kata dia.

Ia menegaskan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, meski kerusakan permukiman dan fasilitas umum cukup signifikan.

Pemerintah daerah juga menyiapkan rencana relokasi ke lahan milik Perhutani yang dinilai lebih stabil.

"Kami sudah siapkan langkah relokasi ke lahan Perhutani di bagian bawah. Kami mohon dukungan izin dan bantuan pembangunan huntara dari pemerintah pusat," katanya lagi.

Penanganan bencana

Update Tanah Bergerak di Tegal, Trauma Warga, dan Solusi Hunian Baru

Sejumlah rumah di Wonosobo terancam tanah bergerak

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan penanganan bencana harus berkelanjutan, tidak hanya sebatas tanggap darurat.

Ia meminta seluruh unsur bersiaga serta menyiapkan hunian sementara hingga hunian tetap.

“Saya minta seluruh unsur siaga. Harus ada langkah antisipasi dan pencegahan. Jangan sampai ada kejadian susulan yang tidak tertangani," tegas Gubernur.

“Kita tidak bisa hanya memberi bantuan lalu selesai. Semua yang membutuhkan hunian sementara dan hunian tetap harus didukung. Hari ini di Tegal, semua harus cukup, mulai dapur, sekolah, dan kebutuhan lainnya. Jalan dan jembatan itu prioritas. Kalau ada jembatan putus, maksimal satu minggu harus selesai, bahkan tiga hari sudah tertangani," imbuh dia.

Ia menambahkan sekitar 250 rumah diperkirakan tidak dapat dibangun kembali di lokasi semula sehingga penyediaan hunian menjadi prioritas utama.

"Huntara itu diproyeksikan menjadi huntap. Fasilitas umum harus lengkap. Dinas Sosial provinsi dan kabupaten harus memikirkan masa depan masyarakatnya," pungkasnya.

Pemerintah Kabupaten Tegal memastikan masa tanggap darurat berlangsung selama 14 hari dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, dapur umum, serta pemantauan kondisi tanah yang masih dinamis sembari menunggu rekomendasi teknis Badan Geologi terkait rencana relokasi warga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang