Bencana Tanah Bergerak di Tegal, BPBD: Masih Berpotensi Bergerak Lagi jika Hujan

Tegal, Desa Padasari, tanah bergerak, BPBD, Bencana Tanah Bergerak di Tegal, BPBD: Masih Berpotensi Bergerak Lagi jika Hujan

 Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah (Jateng), Bergas Catursasi Penanggungan, mengungkapkan adanya kemungkinan gerakan tanah masih akan terjadi jika hujan terus turun di area Tegal. 

"Jadi kondisi lokasi di Kabupaten Tegal yang terdampak tanah gerak, apabila terjadi hujan, masih dimungkinkan terjadinya gerakan tanah," katanya dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Senin (9/2/2026). 

Diketahui, fenomena pergerakan tanah di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah masih berlangsung dan terus meluas.

Menurut informasi dari laman Sekretariat Daerah Kabupaten Tegal, bencana tanah bergerak di daerah tersebut terjadi sejak Senin (2/2/2026) akibat hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 14.00 WIB.

Kondisi tanah yang terus bergerak ini membuat jumlah warga yang mengungsi terus meningkat dan kini mencapai 2.453 jiwa berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan bahwa BNPB terus memantau perkembangan situasi sekaligus mendampingi pemerintah daerah dalam penanganan bencana.

“BNPB mengimbau warga untuk mengikuti arahan BPBD setempat guna mengantisipasi potensi ancaman yang meluas di wilayah tersebut,” katanya, seperti dalam rilis yang diterima , Senin (9/2/2026).

Upaya evakuasi terus dilakukan

Bergas Catursari mengungkapkan bahwa pemerintah daerah didukung berbagai pihak terus mengupayakan evakuasi warga ke tempat yang lebih aman.

Menurut keterangannya, ada sekitar 596 rumah warga yang rusak akibat fenomena tanah bergerak. 

Nantinya, rumah warga yang sudah tidak layak huni akibat terdampak tanah bergerak akan direlokasi atau dibangunkan kembali. 

"Yang nanti akan disiapkan itu sejumlah sekitar 464," ungkapnya.

Kerusakan rumah akibat pergerakan tanah bervariasi, mulai dari rusak ringan, sedang, sampai rusak berat, bahkan roboh. 

Meski evakuasi terus dilakukan, namun masih ada satu dukuh yang belum mengungsi. 

"Hampir semua dievakuasi, diungsikan, memang masih ada satu titik, satu dukuh di bagian atas (belum mengungsi)," ungkapnya, diberitakan KompasTV, Senin.

"Memang ini perlu pendekatan khusus, pendekatan sosial di mana tergantung daripada kearifan daripada teman-teman lapangan untuk mendekati warga atau tokoh masyarakat setempat," sambungnya. 

Penyebab tanah bergerak

Tegal, Desa Padasari, tanah bergerak, BPBD, Bencana Tanah Bergerak di Tegal, BPBD: Masih Berpotensi Bergerak Lagi jika Hujan

TANAH BERGERAK: Warga membersihkan puing-puing rumah yang rusak akibat bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026), Menurut data PMI Kabupaten Tegal jumlah rumah, fasilitas umum, sekolah, pondok pesantren dan akses jalan yang rusak parah semakin meluas dan bertambah sebanyak 448 akibat bencana tanah bergerak.

Dilansir dari , pakar Manajemen Kebencanaan Geologi dari UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno, mengungkap penyebab tanah bergerak di Tegal.

"Kalau kita buka-buka data Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), di sana memang masuk pada zona kerentanan tanah menengah hingga tinggi. Nah, penyebab utamanya sebenarnya adalah karena batuannya yang cenderung lempungan. Dominasinya itu kalau misalnya di istilah geologinya ada formasi rambatan," ujarnya.

Batuan lunak sendiri memiliki variasi antara basah dan kering yang tinggi.  

"Jadi, kalau dia basah, maka dia akan mengembang. Kalau kering, dia akan menyusut. Ini yang menjadikan bahasa yang lazim dipakai itu tanah itu bergerak. Jadi mengembang dan menyusut. Ketika mengembang, maka dia lebih tidak stabil," jelasnya.  

Dalam musim hujan seperti sekarang ini, terlebih dengan curah hujan yang tengah tinggi, risiko tanah bergerak menjadi meningkat.  

Hal ini diperparah dengan struktur bangunan di atasnya yang tidak disesuaikan dengan kondisi tanah.

"Kecenderungannya kita kan semakin bikin rumah yang tembokan ya. Nah, sementara basis tanahnya itu mengembang dan menyusut sehingga ketika ada hujan yang berlebih, mengembangnya berlebih, maka daya adaptasi atau daya tahan rumah itu sudah terlewati. Dia akan retak, rontok," jelasnya.  

Menurutnya, untuk lokasi seperti ini, bangunan yang lebih mudah beradaptasi terhadap jenis tanah yang mengambang dan menyusut adalah bangunan kayu. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang