Pernah Tercatat di Peta Belanda, Apakah Kota Gaib Saranjana Benar-benar Ada?
Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial, dan Budaya Kalimantan, Mansur, mengatakan bahwa Kota Saranjana pernah tercatat dalam peta zaman Hindia Belanda.
Ia merujuk pada peta karya Salomon Muller, naturalis asal Jerman, berjudul "Kaart van de Kust-en Binnenlanden van Banjermasing behoorende tot de Reize in het zuidelijke gedelte van Borneo" atau peta wilayah pesisir dan pedalaman Borneo.
Peta yang dibuat pada 1845 itu memuat penanda wilayah bernama Tandjong (hoek) Serandjana.
Dalam peta tersebut, Tandjong (hoek) Serandjana berada di sisi selatan Pulau Laut, berbatasan dengan Poeloe Kroempoetan dan Poeloe Kidjang.
Mansyur menjelaskan, Muller memiliki kapasitas akademik yang memadai karena pernah mendapatkan pelatihan dari Museum Leiden.
Saat itu, Muller juga tengah melakukan penelitian tentang flora dan fauna di kepulauan Indonesia.
Berkaca dari temuan tersebut, apakah Kota Saranjana benar-benar ada?
Dugaan Lokasi Saranjana
Mansyur menjelaskan bahwa terdapat sejumlah versi mengenai letak Saranjana. Ada yang meyakini lokasinya di Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Versi lain menyebut Teluk Tamiang di Pulau Laut. Namun, ada pula yang menyatakan wilayah ini berada di sebuah bukit kecil di Desa Oka-Oka, Kecamatan Pulau Laut Kelautan.
"Bukit yang berbatasan langsung dengan laut ini indah dan cocok dijadikan destinasi wisata. Namun, tempat ini dianggap angker oleh penduduk sekitar," ujar Mansyur, dikutip dari , Selasa (10/1/2023).
Asal-usul Nama Saranjana
Dari sisi bahasa, ia menilai terdapat kemiripan antara Saranjana, Sarangjana, atau Serandjana dengan nama Sarangtiung.
Saranjana disebut berada di selatan Pulau Laut, sedangkan Sarangtiung terletak di utara.
"Apakah unsur kesamaan ini menunjukkan hubungan? perlu pendalaman. Hal yang pasti, menunjukkan tempat berupa 'sarang'," kata Mansyur.
Namun ia menegaskan bahwa hal tersebut belum dapat dijadikan bukti kuat, karena tidak ada sumber yang menunjukkan keterkaitan langsung.
Ia menyebutnya masih sebatas pencocokan yang belum sampai pada taraf hipotesis.
Pendekatan lain melihat kemungkinan asal kata dari kosakata India yang memaknai "Saranjana" sebagai tanah yang diberikan.
Meski demikian, Mansyur menyebut pandangan ini juga masih berupa cocoklogi, terlebih belum ditemukan peninggalan budaya hasil Indianisasi di Pulau Laut.
Sumber lain berasal dari cerita lisan masyarakat yang tertuang dalam publikasi "Myths in Legend of Halimun Island Kingdom in Kotabaru Regency" oleh Normasunah.
"Normasunah berpendapat sesuai mitos. Gunung Saranjana merupakan jelmaan dari tokoh Sambu Ranjana dalam Legenda Kerajaan Pulau Halimun," papar Mansyur.
Dalam legenda tersebut, Raja Pakurindang berkata:
"Sambu Batung, engkau dan Putri Perak tinggallah di utara pulau ini. Teruskan rencanamu membuka diri dan membaur di alam nyata. Dan engkau Sambu Ranjana tinggallah di selatan, lanjutkan niatmu menutup diri. Aku merestui jalan hidup yang kalian tempuh. Namun ingat, meskipun hidup di alam berbeda, kalian harus tetap rukun. Selalu bantu-membantu dan saling mengingatkan."
Berdasarkan hal itu, Mansyur berpendapat bahwa nama Sambu Ranjana kemudian mengalami evolusi secara pelafalan sehingga menjadi "Saranjana" di masyarakat setempat.
Sementara itu, Mansyur menegaskan bahwa belum ada kepastian apakah Muller benar-benar mengunjungi Tandjong (hoek) Serandjana sebelum menggambarkannya dalam peta.
"Belum bisa dipastikan apakah Salomon Muller pernah berkunjung ke Tandjong (hoek) Serandjana sebelum memetakannya," jelas Mansyur.
Ia juga menyebut, Muller tidak pernah secara khusus membahas wilayah tersebut dalam artikel-artikelnya yang dimuat di Verhandelingen van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen.
Peta yang mencantumkan Serandjana itu tercantum dalam Reizen en onderzoekingen in den Indischen Archipel, seri pertama yang diterbitkan Staatsbibliothek zu Berlin.
"Peta ini dibuat 18 tahun sebelum Salomon Muller meninggal dunia pada tahun 1863," kata Mansyur.
Nama Serandjana juga muncul dalam karya profesor geografi dan etnologi Belanda, Pieter Johannes Veth, melalui kamus berjudul "Aardrijkskundig en statistisch woordenboek van Nederlandsch Indie: bewerkt naar de jongste en beste berigten", halaman 252, terbitan Amsterdam oleh P.N. van Kampen pada 1869. Dalam kamus itu tertulis:
"Sarandjana, kaap aan de Zuid-Oostzijde van Poeloe Laut, welk eiland aan Borneo's Zuid-Oost punt is gelegen."
Kalimat tersebut kurang lebih berarti, "Sarandjana, tanjung di sisi selatan Poeloe Laut, yang merupakan pulau yang terletak di bagian tenggara Kalimantan."
Apakah Kota Gaib Saranjana Benar-benar Ada?
Dalam perspektif lain, terdapat dugaan bahwa Saranjana merupakan wilayah kekuasaan Suku Dayak Samihim yang mendiami Pulau Laut.
Dayak Samihim adalah subetnis suku Dayak yang tinggal di daerah timur laut Kalimantan Selatan.
Mansyur menjelaskan bahwa Saranjana berbentuk negara suku yang telah ada sebelum 1660-an atau pra-abad ke-17 Masehi.
Pada saat itu, kepala suku pertama bernama Sambu Ranjana dan masyarakatnya menganut animisme sebelum mendapat pengaruh Hindu lama.
Namun, Suku Dayak Samihim pergi dari Saranjana setelah dilanda peperangan dengan kekuatan asing yang tiba dengan perahu.
Kekuatan tersebut menyerang penduduk dan menghancurkan wilayah Suku Dayak Samihim.
"Walaupun sudah meninggalkan wilayahnya, nama pusat kekuasaan Suku Dayak Samihim di Pulau Laut, sampai sekarang tetap dinamakan dengan Saranjana," lanjutnya.
Ada pula hipotesis yang memandang Saranjana sebagai memori kolektif tentang kerajaan maju yang menjadi cita-cita Pangeran Purabaya dan Gusti Busu dari Kerajaan Pulau Laut.
"Jadi, wilayah Saranjana adalah semacam memori kolektif, yakni sebagai negeri impian dari pemilik pertama tanah apanaze Pulau Laut ini," kata Mansyur.
Hipotesis ini cenderung melihat Saranjana bukan sebagai wilayah nyata, melainkan gambaran negeri ideal yang hidup dalam imajinasi sosial masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, bayangan mengenai Saranjana menjadi sebuah mitos mengenai wilayah yang diidam-idamkan oleh masyarakat.
Mitos tersebut berkembang hingga sekarang sehingga Saranjana digambarkan sebagai wilayah yang maju.
Apakah Saranjana Pernah Jadi Kabupaten/Kota?
Terpisah, Kepala Biro Administrasi Pimpinan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Berkatullah menjelaskan bahwa Kota Saranjana tidak tercatat di wilayahnya, baik secara kabupaten maupun kota.
Namun, rumor yang berkembang di masyarakat menyebutkan bahwa wilayah tersebut berada di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
"Tidak pernah tercatat secara administrasi," jelas Berkatullah, dikutip dari , Sabtu (4/2/2023).
Berdasarkan penjelasan Mansyur, keberadaan Kota Saranjana belum dapat dipastikan secara historis meski ada dugaan atau sumber sejarahnya.
Hingga kini, tidak ada wilayah yang tercatat secara administratif dengan nama Saranjana, meskipun dalam sejumlah sumber lama nama tersebut pernah disebutkan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang