Daftar Pekerjaan Ini Bakal Bisa Digantikan AI, Karyawan Kantoran Wajib Waspada!
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kembali memicu kekhawatiran serius di pasar tenaga kerja global. Perusahaan AI Anthropic merilis studi terbaru yang memetakan sejauh mana teknologi ini mampu mengambil alih pekerjaan manusia, khususnya di sektor kantoran atau white-collar.
Dalam laporan bertajuk Labor market impacts of AI: A new measure and early evidence, peneliti Maxim Massenkoff dan Peter McCrory mengungkap bahwa penggunaan AI di dunia kerja saat ini masih jauh di bawah potensi sebenarnya.
Mereka menyebutkan bahwa adopsi AI yang terjadi baru mencakup sebagian kecil dari kemampuan yang secara teknis dapat dilakukan oleh teknologi tersebut.
Fenomena ini mengingatkan pada perubahan besar akibat teknologi di masa lalu, di mana penemuan listrik menghilangkan sejumlah pekerjaan sederhana seperti penyala lampu jalan dan operator lift. Kemudian, komputer menggantikan banyak pekerjaan administratif seperti penginput data dan operator telepon.
Kini, AI dinilai berpotensi menciptakan gelombang disrupsi yang lebih luas. Secara teoritis, AI mampu menangani sebagian besar tugas di berbagai sektor, mulai dari bisnis dan keuangan, manajemen, ilmu komputer, matematika, hukum, hingga administrasi perkantoran.
Namun dalam praktiknya, tingkat pemanfaatannya masih terbatas. Para peneliti menilai hal ini dipengaruhi oleh sejumlah hambatan, seperti regulasi hukum, keterbatasan teknologi, kebutuhan perangkat tambahan, serta masih perlunya campur tangan manusia untuk memverifikasi hasil kerja AI.
Meski demikian, hambatan tersebut diperkirakan bersifat sementara. Seiring perkembangan teknologi dan meningkatnya adopsi, kesenjangan antara kemampuan dan penggunaan AI diproyeksikan akan semakin menyempit.
Studi ini juga memperkenalkan metrik baru yang disebut observed exposure, yaitu ukuran yang membandingkan kemampuan teoritis AI dengan penggunaan nyata di lingkungan kerja profesional. "Hasilnya menunjukkan bahwa AI saat ini baru menyentuh sebagian kecil dari potensi yang dimilikinya," ungkap studi tersebut, sebagaimana dikutip dari Fortune, Kamis, 2 April 2026.
Menariknya, kelompok pekerja yang paling berisiko terdampak justru bukan pekerja kasar, melainkan profesional dengan pendidikan tinggi dan pendapatan besar. Kelompok ini cenderung memiliki kemungkinan lebih tinggi berasal dari kalangan perempuan, berpenghasilan lebih besar, serta memiliki gelar pendidikan lanjutan.
Profesi seperti pengacara, analis keuangan, dan pengembang perangkat lunak termasuk yang paling terekspos AI. Selain itu, pekerjaan seperti programmer, layanan pelanggan, dan penginput data juga berada dalam kategori berisiko tinggi.
Namun demikian, dampak tersebut belum sepenuhnya terlihat saat ini. Dalam beberapa kasus, AI sebenarnya sudah mampu mengerjakan tugas tertentu, tetapi belum diterapkan secara nyata di lapangan.
Salah satu contohnya adalah tugas dokter dalam memberikan persetujuan pengisian ulang resep obat, yang secara teknis bisa diotomatisasi oleh AI, tetapi belum ditemukan dalam praktik penggunaan saat ini.
Kesenjangan antara kemampuan dan implementasi AI terlihat jelas dalam berbagai sektor. Di bidang komputer dan matematika, AI secara teori mampu menangani hingga 94 persen tugas, tetapi penggunaan nyatanya baru sekitar 33 persen. Hal serupa juga terjadi di sektor administrasi, di mana kemampuan AI mencapai sekitar 90 persen, namun pemanfaatannya masih jauh lebih rendah.
Para peneliti menggambarkan kondisi ini sebagai perbandingan antara potensi besar yang belum dimanfaatkan dengan penggunaan aktual yang masih terbatas. Seiring waktu, mereka memperkirakan pemanfaatan AI akan terus meningkat hingga mendekati kemampuan maksimalnya.
Di sisi lain, terdapat sekitar 30 persen pekerjaan yang hampir tidak terpengaruh AI, terutama pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik, seperti koki, mekanik, bartender, dan pencuci piring.
Sementara itu, dampak awal AI di pasar tenaga kerja lebih terlihat pada perlambatan perekrutan dibandingkan gelombang pemutusan hubungan kerja. Studi menunjukkan bahwa tingkat mendapatkan pekerjaan di sektor yang terekspos AI mengalami penurunan sekitar 14 persen sejak era ChatGPT dibandingkan tahun 2022.
Penelitian lain juga menemukan penurunan sekitar 16 persen dalam tingkat pekerjaan bagi pekerja muda berusia 22 hingga 25 tahun di sektor yang terdampak AI. Kondisi ini mendorong sebagian pekerja muda untuk tetap bertahan di pekerjaan lama, beralih ke bidang lain, atau kembali melanjutkan pendidikan.