Serba-serbi Cokelat, dari Jenis sampai Cara Simpannya
Cokelat bukan sekedar bahan pelengkap dessert, melainkan elemen penting dalam dunia memasak, khususnya baking di era modern.
manisnya cokelat membuat makanan ini disukai sebagai camilan hingga campuran bahan kue.
Mulai dari ragam jenis cokelat hingga cara menyimpannya, ada banyak hal menarik yang dapat dieksplorasi dari cokelat. Kompas.com merangkum serba-serbi cokelat sebagai panduan informasi berikut ini.
1. Rasa cokelat asli pahit
Sebelum dikemas menjadi cokelat batang yang siap dikonsumsi, makanan ini melalui proses panjang dari biji kakao.
Biji kakao diambil dari buah pohon kakao. Biji kakao melalui serangkaian pengolahan meliputi pengeringan, fermentasi, hingga pemanganggan.
Itu sebabnya, cokelat asli terasa pahit saat dimakan. Namun, sebagian besar produk cokelat di supermarket justru bercita rasa manis.
Cita rasa produk cokelat sangat bergantung pada penambahan bahan lain, khususnya gula dan susu.
Semakin banyak persentase bahan tambahan pada produk cokelat, semakin manis rasa cokelat tersebut.
2. Cokelat putih bukanlah cokelat
Meski namanya tertulis sebagai cokelat, tahukah kamu bahwa white chocolate tidak mengandung cokelat?
"White chocolate tidak ada mengandung cokelat. White chocolate itu kandungannya dari susu. Tidak bisa disebut cokelat," kata Demonstrator Baking Parrot Chocolate, Chef Herald Datung Banua Dalope, saat ditemui awak media di booth Parrot Chocolate SIAL Interfood, Kamis (13/11/2025).
Alih-alih dibuat dari padatan kakao layaknya cokelat asli, white chocolate justru dibuat dari cocoa butter, susu, dan perisa vanila. Itu sebabnya, white chocolate tidak berwarna coklat layaknya cokelat asli.
3. Jenis cokelat populer, bedanya couverture dan compound
Dari segi bahan, cokelat couverture dibuat dari campuran cocoa mass dan lemak kakao (cocoa butter).
ilustrasi couverture, jenis cokelat terbaik untuk membuat praline mengilap.
Cocoa mass atau cocoa liquor merupakan pasta kental yang diperoleh dari biji kakao, lalu diproses menjadi dua jenis bahan, yakni cocoa butter dan cocoa powder.
Adapun cokelat compound dibuat dari campuran bubuk kakao (cocoa powder) dan lemak nabati.
"Cokelat compound itu tidak bisa benar-benar disebut sebagai cokelat asli. Dalam bahasa Indonesia cokelat compound itu olahan gula," ungkap Chef Herald.
4. Fat bloom cokelat bukanlah jamur
Jangan buru-buru membuang cokelat dengan bercak putih. Bisa jadi, bintik-bintik putih keabuan tersebut bukanlah jamur, melainkan fat bloom.
Saat menyimpan cokelat utuh maupun sisa, fat bloom biasa muncul bila suhu penyimpanan cokelat berubah drastis.
"Kalau tiba-tiba muncul warna putih di cokelat, itu artinya fat bloom, lemak cokelat naik ke atas karena panas," tutur Chef Herald.
Fat bloom merupakan kondisi saat lemak kakao (cocoa butter) terpisah dan naik ke permukaan cokelat yang ditandai dengan bercak putih.
"Kesannya kayak jamuran, tapi bukan. Tetap aman dikonsumsi," sambung dia.
5. Hindari menyimpan cokelat di kulkas
Chef Herald mengatakan, sebaiknya jangan simpan cokelat di dalam kulkas, khususnya sisa cokelat kemasan yang sudah dibuka.
"Setelah digunakan, usahakan jangan simpan sisa cokelat di kulkas karena bisa bikin cokelat cepat rusak," kata dia.
Chef Herald menyarankan penyimpanan cokelat di suhu ruang sejuk dengan kemasan tertutup demi menjaga kualitas dan masa simpannya.
"Cukup wrap (bungkus) sisa cokelat dan taruh di suhu biasa (suhu ruang). Kemasan cokelat usahakan ditutup rapat," ujarnya.
"Kalau disimpan di suhu ruang, masa simpan cokelat mengikuti kedaluwarsanya, yang penting tempat menyimpannya bersih," sambung Chef Herald.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.