Usman Hamid Sebut Soeharto Bukan Pahlawan, Ini Alasannya

Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid
Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid

 Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid menjadi narasumber dalam diskusi "Mencari Pahlawan Sejati" di Museum Multatuli, Rangkasbitung, Banten, Rabu 5 November. Dalam paparannya, Usman merumuskan kriteria mendasar bagi seorang pahlawan.

"Pertama-tama bagi saya adalah orang yang hidup untuk orang lain. Nah, hidup untuk orang lain ini di dalam ilmu sosial dan politik dikenal sebagai sifat altruisme. Jadi, dia memikirkan orang lain bersulitan terhadap yang lain sampai dia mengorbankan diri sendiri. Jadi, pahlawan itu orang yang punya sifat-sifat altruisme itu," ujarnya.

Ia membedakan antara pahlawan secara umum dengan pahlawan nasional. Usman mengutip sedikit pernyataan sejarawan Bonnie Triyana yang menjadi pembicara sebelumnya dalam forum tersebut.

"Tadi saya dengar dari Pak Bonnie ada cerita pembecak di Lebak umurnya sudah 76 tahun sudah narik becak 50 tahun supaya anaknya bisa sekolah dan sebagainya. Jadi, sebenarnya pahlawan-pahlawan tetapi ketika kita sematkan kata nasional, nah biasanya itu berhubungan dengan pembebasan nasional, pembebasan sebuah bangsa dari kolonialisme," jelas Usman.

Presiden ke-2 RI Soeharto

Menurut Usman, keberanian seorang pahlawan bukan hanya fisik, tetapi juga intelektual dan moral. "Keberanian itu bukan sekedar keberanian fisik keberanian orang yang tadi sebut atau keberanian intelektual. Dalam hal ini apa yang benar adalah benar yang salah adalah salah, yang baik, baik yang jahat, jahat. Nah ketika orang yang tidak bisa dijadikan teladan untuk menunjukkan mana yang benar, mana yang salah, mana yang jahat, bukan lagi pahlawan," tegasnya.

Ia menekankan konsistensi nilai hingga akhir hayat sebagai syarat penting. "Bukan hanya semasa hidupnya tetapi sampai akhir hayat hidupnya dia pegang nilai itu, dia pegang keberanian moral itu, keberanian intelektual itu, dan nilai-nilai kebenaran itu. Jadi kalau dia meninggal dunia dalam keadaan melakukan kejahatan atau dengan status tersangka atau dengan status terdakwa entah itu kejahatan pelanggaran hak asas manusia, kejahatan lingkungan, atau korupsi, sulit untuk diletakkan sebagai pahlawan," papar Usman.

Mengomentari usulan gelar pahlawan untuk Presiden Ke-2 RI Soeharto, Usman memberikan perspektif sejarah. "Ketika para pemuda Banten terlibat di dalam revolusi tahun 40-an, Soeharto di mana? ada yang tahu enggak? Soeharto menjadi anggota tentara KNIL, tentara kolonial," ujarnya.

"Pada mulanya dia siapa dan pada akhirnya dia siapa? Kalau pada mulanya dia berjahat pada akhirnya dia pahlawan bisa, tetapi kalau dia pada mulanya pahlawan pada akhirnya berjahat agak susah untuk kita sebut sebagai pahlawan," tambahnya.

Usman membandingkan dengan sosok Gus Dur dan Marsinah. "Gus Dur berani, Gus Dur mencopot Jenderal Wiranto karena terlibat dalam kejahatan kemanusiaan di Timor Timur, tidak ada yang pernah melakukan itu, terutamanya Jenderal apalagi Angkatan Darat, agak mustahil untuk bisa disentuh. Jadi, Gus Dur memenuhi kategori itu, sampai terakhir dia meninggal dunia, dia masih membela orang-orang lemah, membela orang-orang yang diserang, didiskriminasi," katanya.

Tentang Marsinah, Usman menyatakan, sosok tersebut melakukan pembelaan sampai akhirnya ia dibunuh. Bahkan catatan Tim pencari fakta YLBHI, saat itu kemaluannya itu ditembak dengan peluh makanya tembus ke dalam tulang pinggangnya yang parah. "Nah, orang yang yang seperti itu untuk dianggap sebagai pahlawan, bisa pahlawan bagi kaum buruh," kata dia.

Mengenai Soeharto, Usman menyoroti akhir kekuasaannya. "Soeharto meninggal dunia ketika ia setengah diadili oleh pengadilan karena kasus korupsi bahkan di Asia Tenggara, dia dianggap sebagai pemimpin paling buruk di dunia, salah satu yang terburuk dan itu sebabnya gerakan reformasi akhirnya merumuskan Tap MPR nomor 11 tahun 1998 yang ada nama Soehartonya," jelasnya.

Ia menegaskan, apabila nama Soeharto dihapuskan dalam TAP MPR tersebut, itu sama saja negara menoleransi korupsi serta nepotisme. Usman mengajak generasi muda untuk bersuara.

"Karena itu saya berharap mahasiswa-mahasiswa di Setia Budi untuk bersuara menyampaikan pandangannya bahwa pahlawan sejati adalah orang-orang yang punya keberanian dan berani berkorban untuk orang lain sehingga akhir hayatnya dengan demikian kita bisa membedakan mana pahlawan, mana penjahat mana yang benar, mana yang salah mana yang baik, mana yang buruk. Bagaimana bisa Soeharto disandingkan dengan Gus Dur, Soeharto disandingkan dengan Marsinah," pungkas Usman Hamid.