Menpora Erick Thohir Ultimatum 4 Cabor, Dorong KOI dan KONI Ambil Peran Selesaikan Dualisme
Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Erick Thohir, mendorong Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) untuk turut mengambil peran menyelesaikan dualisme yang dialami empat cabang olahraga (cabor) di Tanah Air.
Empat cabor tersebut antara lain, tenis meja, anggar, tinju, dan sepak takraw.
Penyelesaian dualisme cabor ini memang menjadi salah satu hal utama yang ingin dibenahi oleh Erick Thohir begitu dirinya terpilih menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga.
Pasalnya, dia menilai kondisi ini membuat atlet menjadi korban lantaran tak bisa bertanding sebagaimana mestinya.
Seperti yang terjadi belum lama ini dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) yang dilakukan oleh Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia (PB PSTI), Sabtu (1/11/2025).
Dalam Munaslub tersebut, terjadi kericuhan akibat adanya ketidakpuasan terhadap hasil acara yang menyatakan Surianto sebagai pemenang.
Buntut dari Munaslub tersebut, Gerakan Sepak Takraw Menggugat (GSTM) melakukan aksi demo di depan Kantor Kemenpora pada Senin (3/11/2025).
Mereka bersikeras bahwa hasil Munaslub tidak sah.
Menyikapi situasi ini, Menpora Erick Thohir langsung mengultimatum cabor sepak takraw dan tiga cabor lainnya yang terlibat dualisme kepengurusan untuk segera menyelesaikan sengketa.
Dia tak ingin dampak perpecahan yang sudah berjalan selama bertahun-tahun semakin berlarut dan mengorbankan para atlet yang tak bisa bertanding membawa nama bangsa di berbagai ajang intenasional.
Ini juga menjadi bukti ketegasan dan keseriusan Menpora Erick Thohir dalam menangani konflik kepentingan yang melanda beberapa federasi cabor selama ini sebagai prioritas untuk diselesaikan demi terwujudnya kedigdayaan Indonesia di pentas olahraga dunia sesuai Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
GOR UNJ menjadi lokasi penyelenggaraan Kejurnas Tenis Meja Usia Muda Tahun 2025 PP PTMSI pada 7-9 Februari 2025.
“Masalah dualisme ini harus segera diselesaikan. Setelah itu baru kita bisa konsolidasi Desain Besar Olahraga Nasional," ujar Menpora Erick dalam keterangan resminya, Selasa (4/11/2025).
"Selanjutnya kita bisa bicara mengenai PON, SEA Games, Asian Games dan Olimpiade akan seperti apa,” lanjut dia.
Dorong Peran KOI dan KONI
Menpora pun menegaskan bahwa dalam menyelesaikan persoalan ini perlu peran aktif berbagai stakeholder olahraga nasional.
Untuk itu, Kemenpora mengimbau agar KOI dan KONI ikut mengambil peran strategis dalam mendorong penyelesaian sengketa kepengurusan pada empat cabor tersebut.
Pencarian solusi diutamakan secara musyawarah dan mufakat sesuai Undang-Undang Keolahragaan.
Hal ini tertuang dalam surat yang dikirimkan Menpora kepada Ketua Umum KOI dan KONI pada 1 Oktober lalu.
Menpora juga memberikan batas waktu penyelesaian sengketa paling lambat tiga bulan sejak surat dikirimkan, yaitu sampai akhir Desember 2025.
“Kami di Kemenpora telah melakukan instropeksi dengan perbaikan tata kelola internal, maka kami ingin KOI, KONI dan para pengurus federasi olahraga juga bisa melakukan intropeksi masing-masing dan duduk bersama untuk menyelesaikan masalah secara musyawarah untuk mencapai mufakat. Karena musyawarah adalah landasan membangun bangsa dan negara,” ucap Erick.
Kini sebulan telah berlalu sejak surat disampaikan. KOI, KONI dan para pengurus cabor hanya memiliki sisa waktu dua bulan untuk menindaklanjuti tugas menyelesaikan dualisme di tubuh federasi empat cabang olahraga tersebut.
Jika sampai akhir Desember 2025 masalah ini belum juga tuntas, maka Kemenpora akan mengambil langkah yang diperlukan demi keberlangsungan pembinaan olahraga nasional sehingga para atlet dapat berkompetisi di berbagai ajang tingkat nasional maupun internasional.
“Tiga bulan adalah waktu yang cukup untuk menyelesaikan sengketa kepengurusan cabang olahraga ini. Jika sampai akhir tahun tidak kunjung tuntas, maka kami Kemenpora akan mengambil alih dan membuat keputusan untuk menyelamatkan para atlet kita, menyelamatkan prestasi olahraga kita," tutur pria 55 tahun tersebut.
"Sudah terlalu lama para atlet menjadi korban. Maka saya ingatkan kembali kepada para pihak untuk melepaskan kepentingan pribadi dan ego masing-masing demi kejayaan olahraga kita,” ungkap dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.