Fakta-fakta Gangguan Mata Presbiopia: Penyebab hingga Cara Mengatasinya

Ilustrasi pria berkacamata
Ilustrasi pria berkacamata

 Memasuki usia 40 tahun ke atas, banyak individu mulai menyadari perubahan pada kemampuan penglihatan, terutama saat membaca atau melihat objek dalam jarak dekat. Kondisi ini dikenal sebagai presbiopia, yakni penurunan kemampuan mata untuk berakomodasi akibat proses penuaan alami.

Meski umum terjadi, masih banyak kesalahpahaman mengenai penyebab hingga solusi yang tepat untuk mengatasinya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berikut lima fakta penting tentang presbiopia yang perlu dipahami:

 

1. Proses Penuaan Alami

Presbiopia bukanlah penyakit, melainkan kondisi fisiologis yang terjadi seiring bertambahnya usia. Lensa mata menjadi kurang elastis sehingga sulit menyesuaikan fokus dari jarak jauh ke dekat.

2. Gejala Muncul Bertahap

Banyak orang awalnya hanya merasa perlu menjauhkan bacaan agar terlihat jelas. Namun, seiring waktu, keluhan dapat berkembang menjadi mata cepat lelah, sakit kepala, hingga kesulitan membaca dalam pencahayaan redup.

3. Tidak Bisa Dicegah, Tetapi Bisa Dikoreksi

Karena merupakan bagian dari penuaan, presbiopia tidak dapat dicegah. Namun, berbagai alat bantu penglihatan seperti kacamata baca, bifokal, hingga lensa progresif dapat membantu mengatasi gangguan ini.

4. Kebutuhan Penglihatan Setiap Orang Berbeda

Faktor pekerjaan dan gaya hidup sangat memengaruhi kebutuhan visual. Pekerja kantoran, misalnya, membutuhkan kenyamanan penglihatan jarak dekat dan menengah lebih dominan dibandingkan mereka yang lebih sering beraktivitas di luar ruangan.

5. Salah Kaprah Soal Kacamata Progresif

Sebagian orang menganggap kacamata progresif tidak nyaman karena menyebabkan pusing. Padahal, hal ini sering kali dipengaruhi oleh kualitas lensa, desain, serta ketepatan pengukuran yang kurang optimal.

Dalam praktiknya, kacamata progresif menjadi salah satu solusi modern yang banyak dipilih untuk mengatasi presbiopia. Lensa ini dirancang untuk menggabungkan beberapa fungsi penglihatan—jarak jauh, menengah, dan dekat—dalam satu lensa tanpa garis batas yang terlihat seperti pada bifokal.

Namun, tidak semua lensa progresif memiliki kualitas yang sama. Desain lensa yang kurang presisi dapat menyebabkan area pandang sempit dan transisi fokus yang terasa tidak nyaman. Sebaliknya, teknologi lensa yang lebih canggih mampu memberikan peralihan visual yang lebih halus serta bidang pandang yang lebih luas.

Kenyamanan penggunaan juga sangat bergantung pada proses pengukuran dan penyesuaian dengan kebutuhan individu.

"Banyak pasien datang dengan keluhan tidak nyaman saat menggunakan kacamata progresif. Padahal secara klinis, kenyamanan ditentukan oleh pengukuran yang tepat, kualitas dan desain lensa, serta kesesuaian dengan kebutuhan visual sehari-hari. Dengan pemeriksaan yang tepat dan pemilihan lensa yang sesuai dengan aktivitas, proses adaptasi biasanya dapat berlangsung lebih cepat dan nyaman. Karena itu, konsultasi dengan tenaga profesional menjadi langkah penting sebelum memilih kacamata progresif,” ujar dr. Amanda Nur Shinta Pertiwi, Sp.M, FIACLE, Dokter Spesialis Mata RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta.

Perbedaan desain dan teknologi juga menjelaskan mengapa harga lensa progresif cenderung lebih tinggi dibandingkan lensa biasa. Mendukung hal ini, HOYA Vision Care turut menekankan pentingnya pemilihan lensa yang tepat sesuai kebutuhan pengguna. Lensa single vision hanya memiliki satu fokus, sedangkan lensa progresif mengintegrasikan beberapa zona penglihatan dalam satu bidang, sehingga membutuhkan teknologi yang lebih kompleks.

Lalu, bisakah presbiopia diatasi dengan kacamata progresif?

Jawabannya adalah bisa, dengan catatan pemilihan lensa dilakukan secara tepat. Kacamata progresif bukan sekadar alat bantu, melainkan solusi komprehensif yang dapat meningkatkan kualitas penglihatan jika disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Konsultasi dengan tenaga profesional di klinik mata atau optik terpercaya menjadi langkah krusial agar hasil yang diperoleh optimal dan nyaman digunakan dalam jangka panjang.

Dengan pemahaman yang tepat, presbiopia tidak lagi menjadi hambatan besar dalam aktivitas sehari-hari, melainkan kondisi yang dapat dikelola dengan solusi yang semakin canggih dan personal.